Foto: L4MC saat pertandingan BICF.
Suka Duka Langowan Empat Male Choir Menuju Kampiun (Bagian II)
Peraih Gold Champion di Iven BICF 2015
Laporan: Aldy RORONG
Seketika seluruh official dan personil Langowan Empat Male Choir (L4MC), larut dalam kesuka-citaan. Tawa, tangis dan canda bercampur menjadi satu. Pekik kegembiraan sesekali terdengar dari sejumlah kamar hotel.
Rasa khawatir terhadap komplain penghuni lain di Hotel Idas Kuta-Bali, sesaat pudar. Maklum ada seorang bule perempuan asal Australia yang sering protes terhadap aktivitas latihan yang kerap dilakoni para kru L4MC. Kegiatan itu dianggap mengganggu.
Tanpa sadar, malam kian larut. Seluruh kru dan personil masih terlena dengan kebahagiaan. Padahal, L4MC akan tampil lagi di kategori Male Choir pada keesokan harinya atau sekitar pukul 14.00 WITA siang, Jumat 31 Juli 2015.
Fenomena berbeda dialami sang composer Recky Korompis. Kegembiraan sekaligus stress melanda salah satu conductor muda berbakat Sulawesi Utara (Sulut) itu. L4MC dituntut oleh panitia untuk segera menyodorkan partitur tiga buah lagu, yang akan dilantunkan dalam Choir Championship at Gospel and Spiritual category.
Deadline pemasukkan lagu, Jumat jam 9 pagi. Sementara L4MC tak menyiapkan lagu cadangan kategori Gospel and Spiritual , karena tak menyangka lolos ke babak Championship. Beruntung, Coach Recky dibantu salah satu maestro choir muda Sulut, Swingly Wicliff Sondak. Pelatih sekaligus konduktor North Sulawesi GMIM Male Choir (NSGMC), berkenan memberikan partitur lagu Amazing Grace untuk L4MC.
Hari-hari L4MC di Pulau Dewata, kian menegangkan. Selain akan naik panggung di kategori Male Choir, dihari yang sama paduan suara utusan P/KB GMIM Wilayah Langowan Empat harus siap latihan lagu Amazing Grace dalam tempo satu hari. Mengingat pelaksanaan Choir Championship at Gospel and Spiritual category akan dihelat Sabtu 1 Agustus 2015.
Tantangan itu tak membuat mental personil L4MC luntur. Semangat kebersamaan untuk melayani dan bersaksi lewat pujian tetap terpatri di sanubari mereka. Meski dengan fisik yang agak menurun, L4MC tetap tampil cukup maksimal di kategori Male Choir.
L4MC membawakan dua buah lagu, Salve Regina dan Nearer My God to Thee. Walaupun dimata coach Recky, para rekan sekerjanya itu kurang optimal di lagu Salve Regina. “Sepertinya kita kurang menggigit waktu start lagu Salve Regina. Tapi over all, kalian sudah tampil maksimal. Itu semua berkat pertolongan Tuhan. Jadi segala puji dan hormat hanya untuk NamaNya,” ujar Coach Recky usai tampil, sambil tersenyum.
Setelah unjuk gigi di kategori Male Choir, seluruh personil L4MC, pun diarahkan langsung kembali ke base camp untuk latihan lagu Amazing Grace. Usai makan malam, coach membagi empat grup, masing-masing Tenor 1, tenor 2, Bass 1 dan Bass 2 untuk latihan not lagu baru tersebut.
Kantin dan jembatan depan hotel pun jadi arena latihan. Dengan penerangan ala kadarnya, seluruh pasukan L4MC berusaha keras untuk menguasai not sekaligus menghafal lirik lagu dua klat lagu. Maklum, L4MC tak bisa latihan di halaman hotel, karena bisa mengganggu waktu istirahat dari tamu hotel lainnya.
Meski tidur agak larut, seluruh kru L4MC tetap bangun di pagi hari untuk ibadah subuh. Usai minum kopi, Coach Recky kembali pegang kendali. LATIHAN. Ternyata, semua personil L4MC hanya bisa menguasai not lagu Amazing Grace, tapi tak bisa menghafal liriknya.
Jalan pintas pun diambil. L4MC akan menggunakan klat kala akan membawakan lagu tersebut. Mungkin L4MC akan menjadi satu-satunya paduan suara yang menggunakan klat saat membawakan lagu yang cukup pendek itu.
Namun dengan modal semangat melayani, L4MC tetap tampil meyakinkan di ajang Championship at Gospel and Spiritual category yang digelar di Gereja Kristus Yesus (GKY) Denpasar Bali, Sabtu sekitar pukul 12.00 WITA. L4MC membawakan tiga buah lagu, masing-masing, Soon I Will be Done, My Soul Is Anchored In The Lord dan Amazing Grace.
Kelima juri, Jennifer Than (Singapura), Mark Anthony Carpio (Filipina), Snezana Panovska (Makedonia), Billy Kristanto (Indonesia), dan Budi Susanto Yohanes (Indonesia) pun nampak tersenyum kala menerima partitur lagu L4MC. Apalagi ketika menyaksikan L4MC melantunkan lagu Amazing Grace dengan menggunakan klat.
Raut semringah terpancar di wajah Coach Recky usai L4MC melantunkan tiga buah lagu tersebut. “Saya bangga bisa bersaksi bersama kalian,” singkat Coach Recky, usai doa bersama setelah membawakan puji-pujian di salah satu kompetesi paling bergengsi di ajang internasional itu.
Waktu yang dinanti pun tiba. Setelah rehat sejenak di penginapan Pasukan L4MC bergegas menuju award ceremony atau pengumuman nilai yang dihelat di GBI Rock Ministry Lembah Pujian Sanur Denpasar Bali. Ribuan peserta dari ratusan tumpukan suara dari 14 kategori yang dilombakan tumpah ruah di aula berukuran sekitar 100 x 100 meter tersebut. Wakil Gubernur Sulut, Dr Djouhari Kansil juga hadir.
Harap-harap cemas serta ketegangan melanda seluruh official dan personil L4MC. Apalagi ketika penuntun acara mulai membacakan raihan nilai yang di peroleh peserta untuk kategori Gospel & Spritual. Detik-detik mencengangkan terjawab, kala MC menyampaikan peraih Gold Champion dengan nilai 34,20 adalah L4MC dari Minahasa Indonesia.
Ledakan keceriaan seketika membahana di aula GBI Rock. Paduan-paduan suara dari Sulut yang hadir juga ikut memberi aplaus yang meriah. Apalagi, ketika seluruh kru, official dan coach diundang untuk menerima piala, medali dan penghargaan. Yel-yel Langowan Karu Kami menggelegar dari podium. Tak lama berselang, L4MC kembali diundang ke podium untuk menerima, medali Silver dalam kategori Male Choir dengan perolehan nilai. 29,38. Namun kali ini, hanya coach dan official yang diperkenankan menerima medali dan penghargaan.
Paduan suara dari Sulut mendominasi perolehan medali di ajang global itu. Pun begitu hanya L4MC yang mendapat Gold Champion. Jawara lainnya diraih, peserta dari Filipina, Malaysia, Gorontalo, Kupang, Medan, Papua dan pulau Jawa. Atas prestasi itu, L4MC pun berkesempatan untuk mengikuti ajang grand prix yang digelar Minggu 2 Agustus 2015 di Sanur Paradise Plaza Hotel. Itu sekaligus dirangkaikan dengan closing ceremony. Grand prix merupakan ajang yang mempertemukan para peraih Gold Champion di masing-masing kategori. Untuk Champion di Grand Prix diraih Filipina.
Sebelum lomba paling bergengsi di Bali Internasional Choir Festival (BICF) itu ditabuh, panitia kembali menghelat awarding untuk kategori championship. Lagi-lagi L4MC didaulat menjadi kampiun. Seluruh kru, official dan coach L4MC bersukaria kala diundang diatas panggung kehormatan. L4MC pun resmi memboyong dua piala, 3 medali serta sederet penghargaan di ajang choir level dunia itu.
Tak hanya itu, L4MC juga secara otomatis mendapat tiket untuk mengikuti kejuaraan World Choir Festival (WCF). “Ini semua anugerah dari Tuhan. Perjuangan dan pengorbanan kalian selama ini, dijawab Tuhan dengan mahkota kesukacitaan. Segala hormat dan kemuliaan hanya untuk nama Tuhan,” ujar Coach Recky dengan mata berkaca-kaca.
“Kalian jangan besar kepala. Hal positif yang kita peroleh disini harus dijabarkan ke jemaat kita masing-masing. Mulai dari kedisplinan dan ketepatan waktu. Minimal harus jadi teladan di jemaat. Seperti datang tepat waktu kala mengikuti latihan koor di jemaat,” ajak pemuda di Jemaat GMIM Imanuel Lowian itu.
Tak lupa Ia menghaturkan apresiasi dan ungkapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu L4MC lewat dukungan doa dan dana. Baik yang ada Sulut maupun teman-teman yang ada di Bali. “Kami tak mampu membalasnya. Hanya doa yang bisa kami panjatkan, agar sekiranya Tuhan membalas segala bantuan dan kebaikan saudara-saudara,” ungkapnya.
Ia pun menutup kicauannya dengan ungkapan yang unik. “Kalian memang 'gila'. Jangan lupa, ini semua belum berakhir. Latihan latihan dan latihan. Karena kita tetap akan terus bersaksi dan melayani lewat pujian,” tutup Coach Recky sambil melototkan mata kepada seluruh personil L4MC yang disambut tepuk tangan dan yel-yel Amin secara kompak
Tanpa disadari coach, kru dan official L4MC selama tampil empat kali atau empat hari berturut-turut di ajang L4MC, hanya menggunakan satu pasang seragam yang tak pernah dicuci. Makan sehari dua kali, dengan porsi terbatas, tanpa bisa menambah lauk dan nasi. Semuanya tidur berlima disebuah kamar berukuran, 3X4 meter. Tak ada fasilitas bus antar jemput dari penginapan ke lokasi lomba. Sewa penginapan dan biaya komsumsi pun baru lunas di hari terakhir berada di Bali.
Lagi-lagi, bak sebuah mimpi. Tapi jadi kenyataan. Buah kerja keras, perjuangan dan air mata, dibalas Sang Khalik dengan kesukacitaan yang besar. L4MC, yang mungkin dianggap sebelah mata, ternyata mampu mengharumkan nama Sulawesi Utara dan Indonesia di iven internasional. Dengan harapan, capaian yang diraih L4MC bisa memotivasi munculnya paduan-paduan suara baru di Sulut yang akan berkiprah di ajang global. Sebab bersama Tuhan tak ada yang mustahil. Imanuel. (SELESAI)
[Baca Juga: Suka Duka Langowan Empat Male Choir Menuju Kampiun (Bagian I)]
PERSONIL L4MC
Coach/conduktor: Recky Korompis
Tenor 1: Kiki Neman, Kenzi Langi, Jacky Ronsul, Apolos Kawenas, Aldy Rorong, Kevin Sumolang, Fernando Liyu, Devid Rey.
Tenor 2: Stenly Kumendong, Fernando Kembuan, Rony Monangin, Junaidi Liyu, Febry Kiling, Jonly Pogaga, Marvel Pandaleke, Steven Dumopa.
Bass 1 : Vidi Toar, Valdy Wuisan, Demeryo Pai, Roy Pungus, Naldo Walelang, Vandy Manitik, Swingly Pai, Fadly Kiling.
Bass 2 : Arianto Vendy Kiling, Hengky Pajouw, Christian Kalalo, Reky Saisab, Revelino Toar, Jessy Sumilat, Griffyn Walelang, Michael Lumanauw, Erick Toar.



































