Yang Tertinggal Dari Pertarungan Dua Ksatria

Situs Batu Buaya


Catatan : Rikson Karundeng

KOTA Manado menyimpan banyak situs sejarah budaya yang  menarik untuk dilihat. Batu Buaya adalah salah satu di antaranya. Dari namanya saja sudah bisa menggelitik rasa penasaran. Apalagi jika menyimak kisah-kisah luar biasa yang tersimpan di baliknya.

Disebut Batu Dihua atau Batu Buaya karena bentuknya menyerupai buaya tanpa kepala. Legenda rakyat Bantik menceritakan, dahulu di tempat itu pernah terjadi perang tanding. Ketika itu, ada orang kuat dan sakti (tounaas) dari negeri Tonsawang bernama Tonaas Waworongan yang tidak sengaja datang di daerah kekuasaan Tou (orang) Bantik.

Yopo Bantik yang juga kuat dan sakti merasakan ada tamu yang tidak diundang (ada seke=musuh) berada di wilayahnya. Maka disambutnya dan mereka berduapun uji tanding kesaktian, untuk membuktikan siapa di antara mereka yang tuama atau laki-laki (ksatria).

“Lama mereka bertempur adu fisik dan kesaktian, menyebabkan Yopo Bantik mulai kelelahan, dan itu tandanya kesaktian Waworongan dari negeri Tonsawang lebih unggul. Yopo Bantik yang mulai kelelahan dan terdesak, itu tandanya akan kalah," terang terang Sejarawan Sulut, DR Ivan Kaunang M.Hum.

"Dengan kesaktiannya juga Yopo Bantik membacakan doa meminta yang kuasa di atas segala kuasa untuk mendatangkan kekuatan yang baru dari kesaktian yang dimilikinya. Maka datanglah kekuatan baru berupa wujud seekor anjing korotey (belang-belang), bertubuh pendek datang membantu,” jelasnya.

Kemudian atas perintah Yopo Bantik, anjing korotey tersebut dapat menggigit kemaluan dari Tounaas Waworongan. “Berkatalah Tounaas Waworongan, kalau hanya anda sendiri saya mampu menghadapinya, akan tetapi saya menghormati kesaktianmu dan saya tidak menyangka kalau saya bisa dikalahkan. Seketika itu juga ia pun tewas,” tambah Kaunang.

Direktur Institut Kajian Budaya Minahasa (IKBM) ini juga menceritakan, ketika Yopo Bantik tahu benar bahwa lawan tandingnya sudah tewas, maka ia pun bergegas pulang ke desa dan menceritakannya kepada penduduk Bantik Malalayang. “Merek apun mengatakan, kalau benar dia sudah dikalahkan, lalu mana bukti kepalanya. Yopo pun bergegas kembali ke lokasi pertempuran dan didapatinya Tounaas Waworongan sedang berubah wujud menjadi buaya dan tinggal kepalanya yang belum berubah. Pada saat itu juga, secepat kilat Yopo Bantik memotong lehernya dan membawa kepalanya sebagai bukti kemenangannya,” kisahnya.

Menurut legenda, apabila Tounaas Waworongan dapat cepat berubah wujud seutuhnya sebagai buaya, dan dapat pulang kembali ke kampung halamanya di Tounsawang, maka Waworongan dapat hidup lagi sebagaimana manusia adanya. (***)



Sponsors

Sponsors