Konsen Kembali Dobrak Maenstrem


Kalawat, ME

Pameran Jilid 2 Komunitas Seni Mandiri (Konsen) Minahasa kembali meruntuhkan kekakuan dalam berekspresi. Tema 'jati diri' yang diangkat, selain mengindikasikan gaya 'menggores' dengan genre masing-masing tetapi juga meyimbolkan rumah yang terus menjadi tempat untuk berkarya dan melaksankan iven. Motivasi inilah yang terus dibawa pegiat Konsen sejak bagian pertama pagelarannya di Tondano.

Sofyan Jimmy Yosadi, Advokad dan Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Sulawesi Utara (Sulut) menuturkan, tema 'jati diri' yang dipilih di pameran ke 2 ini adalah hal yang menarik. Ini menunjukkan keberanian anggota Konsen khususunya Charlie Samola yang memperkenalkan karya seninya di kampung sendiri. Menurutnya, hal ini serupa yang dilakukan komunitas ini di Tondano. Mereka mampu Ada, mendobrak kekakuan dalam berkreasi. Untuk melakukan pameran bukan nanti ketika nama seorang seniman telah besar. "Jati diri mengartikan lagi bagaimana mendobrak pandangan maenstream yang selalu mengacu pameran dilakukaan di tempat yang mewah, padahal rumah seharusnya jadi tempat seseorang berkarya," ungkap Sofyan saat mengunjungi pembukaan pameran tersebut.

Wale atau rumah adalah tempat yang nyaman untuk tinggal maupun menunjukkan jati diri dalam berkreasi.

"Wale yang artinya rumah selain tempat tinggal juga menjadi tempat kita bereksapresi dan menyelenggrakan pameran. Itulah maknanya 'jati diri' Minahasa," tegas Sofyan.

Dikatakannya lagi, ke depan inilah yang harus dilihat sastrawan dan budayawan. Tidak ada yang salah dan tabu untuk menggelarnya di rumah. Rumah bukanlah tempat mewah tapi harus memulainya dari sana. "Semuanya berasal dari rumah," urainya.

Akademisi, Sastrawan dan Budayawan, Fredy Wowor mengungkapkan, menggelar pameran bukanlah hal yang mudah namun merupakan langkah keberanian. Itu telah dibuktikan oleh Konsen Minahasa. Ketika anggota Konsen terus membuat kegiatan ini, berarti ada daya untuk terus maju.

"Namun kegiatan ini bukanlah berarti untuk supaya orang lain memuji kita atau popularitas, melainkan untuk membebaskan setiap orang untuk mampu berekspresi," ujarnya.

"Dan berseni sebenarnya lambang dari kebebasan itu. Seni dimana tiap orang memunculkan ide, gagasan dan imajinasi," tandas Wowor.

Sementara, Sejarawan Minahasa, Bodewyn Talumewo mengatakan, kegiatan yang dilakukan Konsen Minahasa memacu tiap orang melakukan perubahan. Model berseni rupa yang ditampilkan komunitas ini merupakan sesuatu yang baru dan senantiasa dinamis. Dengan menawarkan kebebasan berekspresi seperti ini, Konsen membuka ruang lahirnya ide dan karya baru

"Apa yang ada disajikan Konsen adalah sebuah perubahan," terangnya. (arfin)



Sponsors

Sponsors