Seribu Hektar Lahan Pertanian Terancam Jadi Lahan Tidur

Tanggul Rusak, Irigasi Sulu Paslaten Tak Maksimal


AMURANG, ME : Kurang lebih 1000 Hektar (Ha) lahan pertanian yang berada di Kecamatan Tatapaan terancam jadi lahan tidur. Irigasi yang menjadi tumpuan warga Desa Sulu dan Paslaten ini, tidak maksimal mengairi lahan pertanian mereka.

 

"Dua bulan lebih irigasi sudah tidak maksimal. Padahal, saat ini sudah memasuki musim tanam padi," kata salah satu petani asal Desa Sulu Kecamatan Tatapaan, Nico Lengkong, Senin kemarin.

 

Diungkapkannya, sejak bulan Januari lalu, beronjong yang menjadi tanggul penahan air rusak total karena dilanda banjir bandang. Rusaknya beronjong tersebut membuat para petani menjadi khawatir karena suplai air tidak maksimal lagi.

 

"Sebenarnya beronjong tersebut sudah dua kali di rehab dengan anggaran cukup besar. Namun akibat bencana alam yang terjadi bulan Januari lalu, beronjong yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah ini amblas," ujar mantan Kepala bidang Pemerintah BPD Sulu ini.

 

Dia menjelaskan, rehab pertama memakan anggaran Rp. 600 Juta, namun hanya bertahan empat bulan sudah rusak. Sedangkan rehab kedua memakan anggaran Rp. 2 Miliar dan hanya bertahan tidak sampai empat bulan kembali rusak yang disebabkan banjir bandang.

 

"Dengan anggaran sebesar itu sebenarnya, sudah bisa membangun tanggul permanen bukannya beronjong. Kami sebenarnya sudah mengusulkan untuk dibuatkan tanggul permanen tapi usulan tersebut sia-sia saja," timpalnya.

 

Ketua Serikat Dopa In Pondos ini menganggap, proyek beronjong tersebut hanya jadi lahan bagi kontraktok untuk mencari keuntungan semata tanpa memperhatikan hasil pekerjaan yang seharusnya sesuai dengan bestek.

 

"Anggaran miliaran rupiah hanya untuk pembuatan beronjong saja. Lihat saja, semua bronjong yang dibuat hanyut terbawah banjir bandang. Anggaran yang digunakan untuk membangun bronjong tersebut jadi mumbasir," ungkapnya.

 

Dia mengatakan, akibat dari tidak maksimalnya irigasi ini, bisa mengakibatkan kerugian miliaran rupiah dibidang pertanian karena akan ada musim panen lagi, hampir sebagian besar petani tidak bisa menanam padi karena kurangnya pasokan air.

 

"Ekonomi pangan menjadi terancam. Apa yang menjadi target pemerintah untuk meningkankan produksi pangan terancan tidak akan tercapai," terangnya.

 

Dia berharap pemerintah dapat melihat apa yang menjadi kebutuhan petani. Karena menurut dia jika ini dibiarkan hal ini akan sangat berpengaruh pada perekonomian di Minahasa Selatan (Minsel), karena Minsel merupakan salah satu daerah lumbung pertanian.

 

"Yang berkompeten jangan hanya diam. Jika tidak diperhatikan, musim tanam berikut hampir 1000 Ha sawah terancam jadi lahan tidur," tukas Nico yang pernah meraih Kalpataru dari Presiden dan Menteri Lingkungan Hidup (LH) Emil Salim. (Jerry Sumarauw)



Sponsors

Sponsors