'Tindakan Amoral Tokoh Agama Mengancam Gereja'

Oknum Rohaniawan Diduga Lakukan Pelecehan Terhadap Belasan Jemaat


Manado, ME

Kota Tinutuan dibuat geger. Dugaan pelecehan yang dilakukan oknum rohaniawan jadi pemicu. Korban 'keganasannya'  mulai dari anggota jemaat hingga sesama tokoh agama. Tempat ibadah sekalipun jadi ruang aksinya. Kini, keluh trauma para korban dan kecaman berbagai pihak menggema.

 

Enam orang yang mengaku korban pelecehan seorang rohaniawan di wilayah Manado Utara, mendatangi Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sulawesi Utara (Sulut), Rabu (2/3).

 

Salah satu di antara korban pelecehan seksual tersebut adalah seorang Syamas. Pantauan media ini, mereka memasuki ruang penyidik Ditreskrimum Polda untuk memberikan keterangan.

 

Para korban yang ditemani sejumlah jemaat ketika diwawancarai wartawan, mengaku trauma dengan sikap pelaku.
Si tokoh agama menurut mereka sangat sering melakukan hal yang tidak terpuji tersebut. Para korban dilecehkan dengan disentuh bagian vital kewanitaan. Sudah ada belasan korban yang mengaku. Diperkirakan, korbannya bisa lebih dari itu.

 

"Dia sering mencolek bokong, payudara dan ketika bertemu seakan-akan mengajak berhubungan intim," aku salah satu saksi korban di Mapolda.

 

"Oknum pelayan ini melakukan aksinya dalam keadaan sadar, itu sudah penyakit. Kejadian pelecehan di tempat ibadah, di rumah dengan modus untuk pelayanan," ungkap saksi lain.

 

Lanjut dikatakan para jemaat, oknum ini diduga berselingkuh dengan istri sesama pelayan khusus. "Dia (pelaku, red) sudah dilapor ke pimpinan, atasan di lembaga peyalanan tapi tidak direspon. Kami harap oknum ini diganti dan diproses." harapnya.

 

Dari informasi yang diperoleh, oknum rohaniawan ini sebelumnya sempat tertangkap basah oleh satpam di salah satu pusat perbelanjaan di jalan Piere Tendean. Dia diduga melakukan aksi mesum di dalam mobil pribadinya dan menyogok petugas (satpam, red) dengan uang Rp 2 juta untuk menutup mulut.

 

Menanggapi hal tersebut, Kabid Humas Polda Sulut, AKBP Wilson Damanik kepada sejumlah wartawan, membenarkan adanya indikasi dugaan perbuatan tidak senonoh yang dilakukan seorang yang berprofesi pelayan Tuhan.

 

"Kami sudah terima laporannya, kasusnya telah di-BAP dan masih kembangkan karena tidak menutup kemungkinan ada korban yang lain," terang Damanik di ruang kerjanya, Lantai II Mapolda Sulut.

 

"Yang pasti laporan tersebut kami tanggapi dengan serius. Untuk ancaman hukuman penjara belum bisa ditentukan karena ini baru laporan," tambahnya.

 

Menurut informasi, oknum rohaniawan tersebut telah diadukan ke atasannya untuk ditindak.

 

Dugaan aksi bejad tokoh agama tersebut mendapat beragam tanggapan dari sejumlah elemen masyarakat. Pengamat sosial Riane Elean STh MSi menjelaskan, prilaku sosial terkait dengan rol seseorang. Dan prilaku sosial individu mempengaruhi aksi masyarakat. Kalau tingkatan prilaku seseorang rasional sesuai norma-norma sosial, tidak akan mengalami konflik sosial, tidak akan menimbulkan friksi.

 

"Tapi jika prilaku itu bertentangan dengan norma-norma sosial, itu akan memunculkan reaksi dari masyarakat. Suka atau tidak, akan ada friksi besar atau kecil," jelasnya.

 

"Dia kan tokoh agama, jadi dia ada rol, fungsi dan peranan dari posisinya yang ideal sebagai individu. Jadi, ketika dia melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai norma masyarakat, akan memunculkan reaksi negatif, ketidaksukaan," sambungnya.

 

Menurut Elean, dampak sosial dari aksi si tokoh agama, prilakunya juga akan berdampak pada penilaian orang terhadap institusi dimana ia berperan dan berfungsi. "Ini bukan hanya akan berdampak pada individu tapi lembaga. Citra lembaga dimana individu terkait. Lembaga gereja sebagai institusi besar harus menangani serius persoalan ini karena jika tidak, citra institusi akan turut terbawa-bawa dengan prilaku individu itu," nilai Elean.

 

"Publik, jemaat, akan bertanya-tanya jika kasus tersebut sudah dilapor ke pimpinan lembaga tapi justru tidak direspon. Seperti keterangan para korban kepada polisi," tutupnya. (tim me)



Sponsors

Sponsors