Tema 'Kita ya Kita' Bantah Maenstrem

Berseni Rupa Dengan Apa Adanya


Sonder, ME

Setiap orang unik dan terlahir istimewa, begitupun dalam kreativitas. Hal inilah salah satu refleksi arti dari tema 'kita ya kita' (orang Minahasa) pada pameran seni rupa ke-3 Komunitas Seni Mandiri (Konsen) Minahasa yang dilaksanakan di Wale Papendangan Sonder. 

Penggagas Konsen, Alfrits Ken Oroh menjelaskan, ada begitu banyak orang yang terlalu menganggap remeh karya orang lain sehingga tema tersebut mau membantah hal itu. Cara orang berekspresi tak boleh dibatasi dengan doktrin yang lain. Berkesenian menurutnya cukup menjadi diri sendiri.  

"Mungkin ada orang ba bilang so apa so dorang kong beking pameran. Atau apa depe bagus beking pameran di rumah. Torang jawab, kita ya kita," tegasnya.

Walaupun anggota Konsen antara satu dengan yang lain saling belajar dan membaurkan cita rasa namun tidak harus saling memaksa untuk melakukan karya. Tiap orang punya rasa yang berbeda dalam memcurahkan idenya. 

"Dari tema 'kita ya kita' mampu meruntuhkan maenstream yang selama ini terbentuk dalam berkesenian," papar Oroh.

Fredy Wowor, Seniman dan Budayawan Minahasa mengungkapkan, berbicara seni tidak akan ada tanpa cita rasa. Keinginan untuk melakukan sesuatu. Makna dari seni sebenarnya cukup menjelaskan kebebasan itu sendiri. Pada dasarnya berseni ialah ketika seseorang tampil mandiri. 

"Berseni akan dicapai jika seseorang telah mampu untuk tidak pusing dengan tekanan orang lain," ujarnya.

"Kalu di orang tua dulu Minahasa ja kase ajar, berseni itu dimulai dari dapur. Membuat masakan dimana seseorang menentukan cita rasa yang dia rasa itu nikmat," tambahnya.

Akademisi, Denni Pinontoan mengungkapkan, berseni rupa dimana setiap orang menuangkan berbagai hal dalam dirinya. Hal itu sebagai ungkapkan refleksi hidup. Sama halnya berpuisi, seni rupa mencurahkan rasa. Tetapi juga mampu memberikan pesan terhadap para penikmat. Makanya seniman berdiri pada jati dirinya sendiri.

"Seperti para karikatur yang banyak mengkritisi masalah sosial," ungkapnya. 

"Dalam berkesenian jika dogma dan logika itu mampu ditembus. Maka kebebasan berekspresi dapat tersalur," tandasnya. (arfin tompodung)



Sponsors

Sponsors