KKN di Mitra, 325 Mahasiswa UKIT Siapkan Sederet Program
Ratahan, ME
Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) kembali menjadi sasaran program mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Jumat (31/7), sebanyak 325 mahasiswa dari 7 fakultas di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), diterjunkan untuk memulai kegiatan KKN di 6 kecamatan di daerah ini. Kecamatan yang dimaksud masing-masing kecamatan Ratahan, Ratahan Timur, Posumaen, Belang, Tombatu, dan Toluluaan.
Menariknya, tak seperti kebiasaan KKN di universitas lain yang memakan waktu berbulan-bulan, mahasiswa UKIT justru hanya dialokasikan waktu selama tiga hari, di mulai sejak Jumat (31/7) sampai Minggu (2/8).
“Di bawah kepemipinan rektor yang baru, UKIT punya terobosan serta berbagai inovasi. Tentunya dengan mengutamakan efisiensi program kerja yang terarah sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat, terlebih para mahasiswa itu sendiri,” kata Kabag Humas UKIT, Arie M Andes, usai berlangsungnya acara penyambutan dari pemerintah daerah, di auditorium Kantor Bupati Mitra, Jumat (31/7).
“Visi kita saat ini, setiap program diprioritaskan untuk menyentuh langsung ke substansinya. Jadi kalau bisa dilakukan 3 hari, mengapa harus berbulan-bulan?", tambah juru bicara UKIT ini.
Namun dalam kurun waktu yang terbilang singkat ini, ada sederet program yang telah dipersiapkan untuk diselenggarakan di Kabupaten Mitra, diantaranya kegiatan penyuluhan hukum, lingkungan hidup, reboisasi, kesehatan, dan bahkan kegiatan rohani berupa ibadah KKR.
“Untuk program reboisasi akan di lakukan di kawasan hutan desa Kalatin. Ada seribu pohon yang disiapkan untuk di tanam. Sedangkan di bidang pendidikan akan dilakukan renovasi salah satu sekolah di desa yang sama,” papar Andes.
Terobosan yang akan diperagakan pihak UKIT di Kabupaten Mitra menuai apresiasi dari pemerintah setempat. Assiten I, Rolly GH Mamahit, yang ditemui manadoexpress.co di sela-sela acara, mengaku telah melakukan koordinasi dengan para camat dan kepala desa terkait untuk membantu program KKN ini.
“Ini kesempatan bagi masyarakat untuk belajar banyak hal kepada para mahasiswa melalui penerapan ilmu yang mereka dapat dari bangku kuliah. Tentunya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat,” tandas Mamahit. (tim me)



































