Soputan Masih Mengancam

Aktivitas Pendakian Tetap Ramai


Ratahan, ME

Pasca erupsi baru-baru ini, status darurat bencana hingga kini masih diberlakukan sejumlah wilayah sekitaran Gunung Soputan. Kemungkinan terjadi letusan susulan tetap diwaspadai. Namun ancaman itu sama sekali tak menyurutkan niat para pendaki untuk menjajal salah satu gunung api paling aktif di Indonesia Timur itu.

Kendati ada larangan tegas dari pemerintah untuk mendekati zona berbahaya di radius 6 kilometer, aktivitas pendakian di Gunung Soputan terpantau masih ramai. Puluhan pendaki tetap beraktivitas seperti biasa di sekitar base camp. Bahkan beberapa pendaki berupaya ke lokasi panorama yang berjarak sekitar setengah jam berjalan kaki untuk melihat aktivitas gunung Soputan.

Minggu (7/2), beberapa jurnalis meliput dari dekat aktivitas Gunung Soputan. Didamping Om No, penduduk lokal yang biasa menampung para pendaki. Dalam perjalanan menuju base camp, ada beberapa pendaki yang dijumpai memilih untuk turun ke lokasi aman. Namun ada puluhan pendaki dari berbagai unsur kalangan pencinta alam, baik tua dan muda, yang terlihat tetap bertahan di base camp, tempat para pendaki membuka tenda-tenda.

Terpantau juga, ada sekelompok pendaki yang sedang menghabiskan waktu sambil bersenda gurau atau pun melakukan aktivitas memasak serta mendirikan tenda bagi yang baru tiba. Rata-rata pendaki ini berupaya mencapai lokasi yang biasa disebut panorama, spot terbaik untuk melihat letusan gunung Soputan serta untuk mengabadikan moment dengan latar belakang gunung Soputan dan pemandangannnya.

Saat ditanya apakah tidak khawatir bilamana terkena dampak erupsi, mereka mengaku sudah terbiasa di lokasi tersebut dan sama sekali tidak merasa takut dengan aktivitas gunung Soputan. "Sebelumnya sudah mendapat peringatan dari pemerintah setempat di sekitar lokasi serta aparat kepolisian dan BPBD Kabupaten Minahasa," ungkap sejumlah pendaki.

Om No yang menjadi guide dalam perjalanan ini juga membenarkan bahwa sebelumnya sudah ada larangan untuk melakukan pendakian. Namun para pendaki ini yakin situasi base camp yang jauh dari puncak Soputan aman.

"Saat kejadian letusan lalu, sekitar 300-an pendaki berada di lokasi base camp. Tapi saya juga masih yakin akan ada letusan susulan dari gunung Soputan," tutur Om No.

Sementara di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), sebagai salah satu daerah yang terkena dampak paling parah erupsi Gunung Soputan, upaya pembenahan terus dilakukan pemerintah setempat. Berbagai langkah antisipasi ditempuh, di antaranya pembagian masker untuk mencegah ISPA, serta menyalurkan bahan kebutuhan pokok dan air bersih untuk lokasi-lokasi yang berdampak cukup parah.

“Kami sudah membangun posko bencana di sejumlah titik lokasi yang dampaknya cukup parah, seperti di kecamatan Tombatu Timur, Pasan, Ratahan dan Belang,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mitra, Jopie Mokodaser.

Di sisi lain, warga dimintanya agar tetap waspada akan potensi terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik susulan Gunung Soputan. Pasalnya, pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan bahwa potensi terjadinya letusan susulan kemungkinan besar masih bisa terjadi.

“Dari pengamatan pihak BNPB melalui pusat data informasi, gejala terjadinya letusan susulan masih berpotensi terjadi. Sebab dari data yang ada, aktivitas vulkanik Soputan belum sepenuhnya mereda,” tandasnya.

Diketahui, pada Sabtu (6/2), Gunung Soputan kembali meletus yaitu pukul 13.00 Wita, 14.37 Wita dan 20.08 Wita. Kolom tinggi letusan diperkirakan sekitar 3.000 meter dari puncak kawah berwarna kelabu tebal kemerahan dengan tekanan sedang hingga kuat. Atas peristiwa ini, tujuh Kecamatan di wilayah Mitra dilaporkan terkena dampak bencana, yakni diguyur hujan abu vulkanik selama sehari. Sedangkan empat kecamatan di antaranya tergolong cukup parah dibanding kecamatan lainnya. (tim me)



Sponsors

Sponsors