Beringin Mitra Mengambang
Ratahan, ME
Aroma kekhawatiran berhembus kencang di tubuh Partai Golkar Minahasa Tenggara (Mitra). Maklumat 'cuci gudang' yang disinyalkan kubu Agung Laksono jadi pemantik. Babak baru perseteruan dua kubu 'Beringin Kuning' pun semakin membuat para kader was-was. Jalur aman jadi pilihan terakhir.
Sejumlah kader Golkar Mitra saat dimintakan tanggapan terkait polemik yang terjadi di tubuh Golkar lebih memilih tak banyak komentar dan seolah tak punya pilihan lain.
“Soal itu saya menyesuaikan saja. Pastinya setiap keputusan soal keabsahan pengurus Golkar pasti saya hormati. Namun untuk finalnya, wait and see,” ungkap Temmy Naray, anggota DPRD Mitra dari partai Golkar, menjawab pertanyaan perihal sikapnya dalam melihat perkembangan dualisme Partai Golkar.
Dirinya mengaku saat ini lebih fokus menjalani tugas dan kewajibannya sebagai wakil rakyat di daerah Mitra. “Banyak tugas menumpuk dan harus diselesaikan. Jadi saat ini masih fokus pada kewajiban sambil menunggu perkembangannya,” kata dia.
Senada dikatakan Sonny Mandagi, Ketua Fraksi Golkar DPRD Mitra. Polemik yang terjadi di tubuh Golkar saat ini tak membuat dirinya harus menentukan pilihan untuk memihak di kubu mana. “Intinya tetap menjalankan tugas sambil menunggu keputusan final mana kepengurusan yang dianggap sah,” imbuhnya.
Meski begitu, sejumlah pimpinan Dewan Pengurus Daerah (DPD) II Partai Golkar Mitra lainnya terindikasi lebih memilih mengambil sikap untuk mendukung kepengurusan Golkar yang di nahkodai Abdul Rizal Bakrie (ARB). Informasi yang berhasil dirangkum menyebut, sejumlah pimpinan Golkar Mitra pada Rabu (11/2) kemarin turut menghadiri pertemuan dengan pengurus Partai Golkar kubu ARB di Jakarta. “Ketua dan Sekretaris sedang melakukan pertemuan dengan pengurus Golkar pak Ichal,” kata sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Sayang, upaya konfirmasi terkait hal ini berujung buntu. Ketua DPD II Mitra, Telly Tjanggulung dan Sekretaris Tonny Lasut belum berhasil ketika dikonfirmasi via selular. Dihubungi sekira pukul 17.30 Wita, ponsel pribadi yang bersangkutan dalam keadaan tak aktif. (jeksen kewas)



































