Butuh Perhatian, Gedung Gereja GMIM Kanaan Pisa Nyaris Runtuh
Tombatu, ME
Konstruksi elegan Kantor Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) di Tomohon, sangat bertolak belakang dengan gedung gereja Jemaat GMIM Kanaan Pisa.
Berdiri sejak tahun 1991, hasil pemekaran Jemaat GMIM Sion Wilayah Tombatu, kondisi gedung gereja di jemaat ini sangat memprihatinkan. Meski dibalut kesederhanaan, jemaat yang terdiri dari 2 kolom dengan jumlah 40 Kepala Keluarga (KK), tidak pernah tersendat dalam proses peribadatan. Gedung yang sederhana, bukan halangan, Namun, menjadi pemantik peningkatan kualitas iman anggota jemaat.
Hasil pantauan manadoexpress.co, bangunan gereja masih beralaskan tanah. Dinding papan yang hampir runtuh, dan dikelilingi rangka beton yang tak kunjung selesai dibangun sejak 5 tahun silam.
Bahkan, berdasarkan penuturan anggota jemaat, baru dua tahun belakangan ini mereka bisa merasakan nyamannya mengikuti peribadatan. Biasanya, kata dia, jemaat beribadah hanya beralaskan kaki layaknya di kebun. Namun, saat ini mereka bersukacita, lantaran bisa mengunakan sepatu, layaknya jemaat yang ada di kota besar.
“Torang kasiang dulu ja datang ibadah jaga pake lars (alas kaki untuk ke kebun). Nanti dua tahun terakhir ini, baru rasa nyaman datang beribadah,” ungkap Pdt Fransiska Gosal STH, saat diwawancarai di dalam lokasi gereja, Selasa (3/3).
Mewakili jemaat, dia berharap perhatian Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM, dalam merehabilitasi gedung gereja mereka.(robby lumi)



































