Teror Vulkanik Soputan Masih Mengancam

Enam Kali Erupsi Sejak Januari 2015


Ratahan, ME

Gunung Soputan masih menebar ancaman. Warga di lokasi sekitar pun tetap patut waspada. Status siaga level 3 masih diberlakukan hingga kini. Potensi terjadinya bencana vulkanik memang belum mereda. Hingga  sore sekira pukul 17.00 Wita, petugas di pos pemantau masih merekam adanya peningkatan aktivitas vulkanik.

Peningkatan aktivitas vulkanik gunung soputan telah berlangsung sebulan lebih. Sejak erupsi perdana pada awal 2015, tepatnya tanggal 6 Januari, muntahan material vulkanik yang diakibatkan proses erupsi gunung Soputan terus bersusulan. Bahkan dalam kurun waktu 34 hari sejak terjadinya letusan pertama, tercatat sudah ada enam kali proses erupsi yang terjadi.

Erupsi terakhir terjadi pada Rabu (11/2) pagi. Muntahan material vulkanik menjulang setinggi 3.500 meter ke angkasa, sebelum kemudian terbawa angin ke arah tenggara. Beruntung debu vulkanik yang berjatuhan tak sampai ke pemukiman warga.

Namun peningkatan aktivitas vulkanik diprediksikan belum berakhir. Potensi terjadinya erupsi susulan pun masih memungkinkan. Kepada Manado Express, Kepala pos pemantau Sandy Manengke mengatakan bahwa aktivitas tremor masih terekam di alat pencatat aktivitas kegempaan. “Artinya aktivitas vulkanik gunung soputan belum mereda. Jadi kemungkinan masih adanya erupsi susulan masih cukup besar,” katanya menjawab pertanyaan wartawan terkait perkembangan aktivitas vulkanik Soputan.

Dari enam kali erupsi yang terjadi, letusan perdana pada awal Januari adalah yang terdahsyat. Bunyi dentuman kala itu bahkan sampai terdengar ke pemukiman warga yang jaraknya lebih dari 10 kilometer. Dampaknya, sebanyak 9 kecamatan di wilayah Minahasa Tenggara dihujani debu vulkanik.

“Biasanya memang seperti itu. Dorongan gas saat erupsi pertama sangat kuat untuk membuka jalur magma yang tersumbat,” kata Manengke menjelaskan.

Beruntung erupsi-erupsi susulan yang terjadi selanjutnya tak lagi sedahsyat letusan pertama. Intensitas material vulkanik yang dimuntahkan semakin sedikit. “Semakin banyak proses erupsi, tentu material yang dikeluarkannya semakin sedikit. Makanya erupsi kedua dan selanjutnya tak separah yang pertama. Debu vulkanik hanya berjatuhan disekitar kawasan gunung dan tak mencapai pemukiman warga,” tuturnya.

Dampak dari erupsi ini, puluhan hektar lahan perkebunan warga yang terletak di kawasan sekitar gunung rusak diterjang debu vulkanik. Petani di Kecamatan Silian Raya dan Touluaan Raya terpaksa gigit jari. Beragam komoditi pertanian yang di tanam terpaksa gagal panen. “Faktor alam seperti ini sudah jadi resiko. Kita tak bisa menebak kapan bencana itu datang,” lirih Yan Wonga, warga Silian.

Pemerintah pun terus mengimbau warga untuk tetap waspada. Larangan beraktivitas di radius 6,5 kilometer di kawasan gunung terus dipertegas. “Demi keselamatan kita bersama, kami mengimbau warga untuk tidak beraktivitas di zona terlarang,” kata kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Joppie Mokodaser.

Larangan tegas juga diberlakukan untuk aktivitas pendakian selama kondisi Soputan masih berbahaya. Dirinya pun meminta kerjasama semua pihak untuk mengawasi anak-anak muda yang masih melakukan aktivitas pendakian. “Sekali lagi, demi keselamatan, tolong jauhi zona berbahaya yang telah ditetapkan. Mohon kerjasama dari pemerintah desa bahkan orang tua untuk dapat mengawasi anak-anaknya,” tegasnya. (jeksen kewas)



Sponsors

Sponsors