Foto: Harga komoditi kopra rendah, petani minta perhatian pemerintah.(Foto.ist)
Harga Kopra Rendah, Petani di Mitra 'Teriak'
Ratahan, ME
Sebagai salah satu daerah penghasil kelapa di Sulawesi Utara (Sulut), banyak warga masyarakat Minahasa Tenggara menggantungkan pendapatannya dari hasil olahan komoditi turunan kelapa, salah satunya kopra. Selama bertahun-tahun, petani kopra di wilayah Mitra intens memproduksi hasil olahannya untuk kemudian di jual kepada pengusaha demi mendapatkan uang untuk menafkahi keluarga.
Sayangnya, menggantungkan pendapatan keluarga dari hasil kopra dengan kondisi seperti sekarang ini, tak lagi menjamin kesejahteraan petani. Harga kopra yang tak seimbang belakangan ini, membuat para petani bagaikan ‘berjudi’ dengan situasi. Apakah bisa meraup keuntungan atau malah kerugian, itu masih menjadi tanda tanya. Diketahui, harga kopra saat ini berkisar pada Rp 5.100 untuk per-kilogramnya. Kondisi ini membuat para petani merasa dirugikan.
“Dengan harga kopra yang anjlok seperti sekarang ini, jelas kami sebagai petani rugi,” tutur Didi Ondang, salah satu petani kopra di Ratahan.
Dia mengaku harga kopra yang ada dipasaran sekarang, malah lebih melilit. Resiko pekerjaan serta beban kerja tak sesuai lagi dengan pendapatan dari bekerja kopra. “Tapi harus bagaimana lagi. Saya hanya bisa pasrah dan berharap ada perhatian dari pemerintah soal harga kopera ini,“ lirihnya.
Bebeda dengan Oding, Raymon salah satu petani lainnya memilih tak mau ambil resiko merugi. “Kalau harga kopra tak menunjang seperti saat ini, saya tak mau ambil resiko untuk memanen kelapa. Karena setelah dihitung-hitung, kami tidak ada untungnya. Malahan tombok,” ungkapnya, Rabu (11/2).
Menjawab keluhan petani ini, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindakop) Mitra Marie Makalow mengaku bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan harga barang belum lama ini. Hasilnya, untuk harga kopra masih stagnan, dalam artian tidak ada peningkatan atau pengurangan harga.
“Dari survei lapangan terkahir, harga kopra bisa dikatakan masih stabil,” jelasnya.
Meski begitu, dirinya berjanji akan kembali lakukan kroscek dipasaran terkait pengeluhan petani tersebut. “Kita akan turun lapangan lagi untuk memastikan harga, agar petani khusus kopera juga tahu harga sebenarnya,” pungkasnya. (jeksen kewas)



































