Foto: Ilustrasi.
Rabies Teror Mitra
Ratahan, ME
Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) merupakan zona merah penyebaran penyakit anjing gila. Pada tahun 2013 , wilayah ini pernah disematkan status Kejadian Luar Biasa (KLB), akibat penyebaran virus rabies yang signifikan. Teranyar, Mitra masuk daerah endemik penyakit yang menyebabkan infeksi tingkat akut pada sususan saraf pusat.
Hingga saat ini, kasus rabies masih menjadi momok menakutkan di Mitra. Dari tahun ke tahun, jumlah kasus rabies terbilang cukup tinggi. “Suatu daerah masuk kategori KLB dilihat dari tingginya angka kematian yang terjadi akibat suatu penyakit. Khusus untuk penyakit rabies, daerah Mitra termasuk diantaranya,” terang kepala Dinas Kesehatan Mitra, dr Rinny Tamuntuan.
Kata dia, sebanyak 321 kasus tercatat terjadi sepanjang tahun 2014 lalu. Pun begitu, upaya pencegahan terus dilakukan untuk menekan jumlah kasus rabies ini. Bahkan, untuk melawan virus rabies yang ditularkan dari hewan ke manusia, pihaknya bekerjasama dengan Dinas Kehewanan, mendatangi rumah-rumah warga untuk memberi vaksinasi kepada hewan-hewan peliharaan.
“Sejauh ini hasilnya cukup memuaskan. Perbandingannya bisa dilihat dari semakin menurunnya kasus rabies yang terjadi belakangan ini,” urainya.
Meski begitu, masih terdapat kendala yang terjadi di lapangan. Sebab, kesadaran masyarakat untuk mengantisipasi meningkatnya kasus rabies, masih kurang. Sebagian warga yang didatangi, jelas dia, tak mengizinkan hewan peliharaannya diberikan suntik vaksinasi.
“Makanya pemerintah mengambil kebijakan untuk menyusun Perbup yang mengatur kewajiban warga untuk memberi vaksinasi kepada hewan peliharaannya. Diharapkan ini bisa bermanfaat untuk meminimalisir angka kasus rabies di daerah Mitra,” pungkas Tamuntuan.
Sebelumnya, warning keras bagi masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) disampaikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara. Selang tiga tahun terakhir, di Bumi Nyiur Melambai tercatat sebagai daerah tertinggi pengoleksi angka kematian akibat virus rabies di Indonesia.
Fakta memiriskan itu diungkap, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulut, dr Grace Punuh. Kata dia, kasus rabies tertinggi terjadi di Kabupaten Minahasa, Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. "Rabies adalah virus mematikan yang menyebar ke orang-orang dari air liur hewan yang terinfeksi. Virus rabies biasanya ditularkan melalui gigitan," terangnya, belum lama.
Hewan yang paling mungkin untuk menularkan virus penyakit rabies pada manusia adalah virus rabies pada Kucing, Kelelawar, Anjing, Rubah dan Musang serta Monyet. “Tapi khusus di Sulut, rata-rata virus rabies dari Anjing,” ungkapnya.
Setelah seseorang mulai menunjukkan tanda tanda rabies atau gejala rabies, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal. Siapa saja yang mungkin memiliki risiko terkena penularan rabies, harus menerima vaksin Rabies untuk perlindungan. Kabupaten dan kota, khususnya yang rawan virus rabies harus rutin melakukan vaksinasi. Gejala Rabies sangat mirip dengan flu dan bisa berlangsung selama berhari-hari. Ciri-ciri rabies atau gejala rabies pada manusia, demam, sakit kepala, mual, muntah, agitasi, kegelisahan, kebingungan, hiperaktif, kesulitan menelan, air liur berlebihan, takut air (hydrophobia), halusinasi, insomnia, kelumpuhan parsial.
“Carilah perawatan medis jika digigit oleh binatang apapun. Berdasarkan cedera dan situasi dimana gigitan terjadi, Dokter dapat memutuskan apakah harus menerima pengobatan untuk pencegahan rabies,” akunya.(jeksen kewas)



































