Terbukanya Luka Lama Dibalik Kematian Astry Akay


Ratatotok, ME

Peristiwa Juli 1998 lalu, kembali teringat dibenak Ditri Sondakh Warga Desa Morea Kacamatan Ratatotok. Peristiwa kelam keluarga, dimana Arie Akay ayah Astry Akay mahasiswa STT Parakletos Tomohon yang ditemukan tewas di kawasan Auditorium Bukit Inspirasi (ABI), dikeroyok sekelompok orang hingga wafat.

Diungkapkan Berty Akay (44), adik kandung Arie, saat itu, Arie menuju Desa Morea Satu dari rumahnya di Morea, dengan maksud mengikuti arisan keluarga. Sekira pukul 12.00 Wita, ia mendapat informasi ada pememuan mayat di perempatan Desa Morea Satu. "Padahal sebelumnya, kami tidak pernah dengar kalau Arie ada kasus atau masalah dengan orang lain, karena orangnya sangat baik dan pendiam," tutur Berty.

Arie ditemukan tewas mengenaskan. Setelah kejadian itu, dalam kesehariannya Ditry Sondakh hanya ditemani kedua anak hasil pernikahan dengan Arie, yakni Astry dan Silvana Akay. Status Ditry pun berubah menjadi ganda yakni Ibu Rumah Tangga (IRT) sekaligus kepala rumah tangga untuk menghidupi kedua anak-anaknya yang waktu itu belum sekolah.

Ditry pun berhasil menyekolahkan kedua anaknya tersebut, bahkan sampai ke tingkat sekolah tinggi. Buktinya, anak pertama yakni Astry Akay bisa menimba ilmu di Sekolah Tinggi Theologia (STT) Parakletos Tomohon. Cita-cita Ditry pada anaknya sangat mulia, yaitu agar anak pertamanya itu boleh menjadi seorang Pendeta dan bisa melayani semua warga. Namun sangat disayangkan, cita-cita tersebut tidak tercapai. Malahan, kisah sedih yang dideritanya 17 tahun lalu kembali berulang. Astry yang terdaftar sebagai mahasiswa semester VIII di STT Parakletos Tomohon mengalami nasib yang sama seperti ayahnya."Kami tidak menyangka kejadian yang menimpa Astry mirip dengan ayahnya," kata Berty, saat diwawancarai wartawan manadoexpress.co, di rumah duka di Desa Morea Jaga I, Kamis (5/2).

Kepergian mahasiswi berparas cantik dan terkenal pendiam ini, sangat menghebohkan seluruh warga Desa Morea bahkan Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) dan Sulawesi Utara (Sulut).
Sebelum terjadinya peristiwa naas ini, sebagian besar keluarga korban bahkan ibunya pun mengaku tidak pernah merasakan firasat buruk. Namun, menurut Ditry, adik Astry yakni Silvana sempat mengalami mimpi buruk serta memanggil-manggil nama Astry. Mendengar itu, sontak Ditry pun langsung terbangun kemudian membangunkan Silvana. "Sehari sebelum meninggal anak bungsu saya sempat bermimpi menyebutkan nama Astry yang biasa dipanggil Yuyu," kata Ditry sambil diiringi isak tangis.

Begitupun dikatakan, Harto Paendong. Jumat pekan lalu, Astry sempat pulang ke Morea dan menetap selama tiga hari. Ia kembali ke Tomohon, Senin (2/2) siang. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan dari diri Astry."Malahan sebelum kembali ke Tomohon, Astry sempat memimpin ibadah pemuda remaja bersama dengan rekan-rekannya di Desa Morea. Jadi, kami tidak ada firasat apa-apa pada dirinya," urai Paendong.

Ternyata, mimpi dari anak bungsu hasil pernikahan dengan Arie itu menjadi signal terjadinya hal buruk yang menimpa Astry. Rabu (4/2) sekira pukul 07.00 Wita, Astry ditemukan sudah tidak bernyawa lagi di sebuah pendopo kompleks ABI, dengan 10 luka tikaman yang dilakukan oleh teman dekatnya yakni mantan pacarnya sendiri. Keluarga korban juga tidak menyangka kalau pelaku pembunuhan adalah mantan pacar Astry yakni AW alias Angga.

Terkait kabar yang berkembang kalau pelakunya adalah pacar Astry sendiri, Paendong mengaku tidak menyangka."Kami tidak yakin kalau pelakunya pacarnya sendiri, karena Angga kenal keluarga astry sangat baik dan ramah. Namun tidak tahunya ada hal lain di belakangnya," cerocosnya.

Paendong meminta kepada aparat hukum supaya memberikan sangsi kepada tersangka seadil-adilnya, supaya dia (Angga, red) mendapat hukuman seberat-beratnya dan setimpal dengan apa yang diperbuatnya kepada Astry.(robby lumi)



Sponsors

Sponsors