Foto: Ilustrasi Pohon Kelapa.
Disbun ‘Restui’ Pembabatan Kayu Kelapa
Amurang, ME
Tak stabilnya harga produk turunan kelapa seperti kopra dan kelapa biji selang beberapa tahun terkahir ini cukup menyusahkan petani kelapa. Kondisi ini bahkan telah memicu reaksi warga untuk mengalihkan bisnis kelapa. Salah satunya penjualan kayu kelapa untuk dijadikan olahan kayu perabotan dan kebutuhan lainnya lainnya.
Imbasnya, pohon kelapa di wilayah Minsel semakin ramai di babat.
Amatan di lapangan, aksi penebangan pohon kelapa dalam jumlah besar terus giat dilakukan belakangan ini. Ancaman akan terjadinya kepunahan tanaman yang menjadi komoditi unggulan di Kabupaten Minsel ini pun seakan dihiraukan petani kelapa.
"Kebanyakan yang dipotong adalah kelapa tua. Itu juga karena harga kopra yang sering tidak stabil bahkan biaya produksi sering tak seimbang dengan hasil," ungkap salah satu petani kelapa asal Minsel.
Ironisnya instansi terkait seakan ‘merestui’ aksi tersebut. Kepala Dinas Perkebunan Minsel, Ir Imanuel Tapang yang dimintai tanggapannya mengatakan, aksi penebangan kelapa, bukan merupakan ancaman terhadap komoditi ini.
"Kita (Disbun, red) bahkan menyarankan petani untuk memotong pohon kelapa asalkan itu kelapa yang sudah tidak produktif lagi. Tetapi tentu bukan hanya tebang, namun harus dilakukan peremajaan," ujar Tapang.
Disentil soal adanya niat investor untuk menanamkan modalnya membeli sabut kelapa, Tapang mengaku hal tersebut merupakan langkah positif.
"Tetapi sebenarnya pembelian sabut kelapa di Minsel sudah pernah ada, hanya investornya terpaksa berhenti karena biaya untuk tenaga kerja mereka anggap terlalu besar," tandas Tapang. (revel maliangkay)



































