Foto: Kapten Kapal MT. Berkat Rehobot, Ridwan Balaati.
Ini Penuturan Kapten Kapal MT Berkat Rehobot Saat Dibajak
Bitung, ME
"Saya itu pikir ada kapal petugas mendekat ingin melakukan pemeriksaan, namun ternyata mereka perompak."
Ridwan Balaati, Nahkoda Kapal Tengker MT Rehobot adalah satu dari 15 awak kapal yang menjadi korban pembajakan delapan pria bertopeng, bersenjata tajam, Rabu (28/1) pekan lalu.
Malam itu, sekitar pukul 23.30 Wita, pria berusia 43 tahun tersebut tengah berada di balik kemudi kapal. Samar-samar dirinya melihat ada kapal kecil yang mendekat di lambung kiri. Saat itu ia menduga kapal yang dikemudikannya menabrak perahu nelayan, atau kapal petugas merapat untuk melakukan pemeriksaan.
"Ada tiga kali saya kontrol. Pada kesempatan pertama dan kedua saya belum curiga. Nanti saat kontrol ketiga baru curiga, saya merasakan firasat buruk. Saat itu saya langsung membunyikan sirine peringatan, tanda bahaya, di atas kapal," ujar Ridwan.
Sayangnya Ridwan terlambat, delapan perompak itu sudah menyebar naik ke atas kapal tanker. Mereka langsung menyerang menggunakan parang dan pisau. Para awak tak bisa melakukan perlawanan karena diserang secara mendadak. Dan tak lebih dari satu menit setelah saya membunyikan sirene, ada sekitar tiga orang masuk ke dalam ruang kemudi dan langsung menodongkan parang ke bagian leher kiri saya.
"Yang lainnya menempelkan parang dari belakang. Tangan saya lalu diikat," ujar pria yang sebelumnya menjadi Nakhoda KM Karya Indah rute Manado-Talaud-Sangihe.
Saat itu, juru mudi pun sudah dilumpuhkan oleh para perompak dan tak bisa lagi melakukan perlawanan. Beberapa orang menodongkan parang kepada pria itu. Ia diikat, dan digiring menuju beberapa rekannya yang sudah terlebih dahulu diikat.
Ada seorang ABK yang sempat melakukan perlawanan, namun tak mampu karena kekuatan tak seimbang. Wajahnya pun kena pukulan beberapa perompak. Saat itu suasana kapal pun langsung gaduh. Terdengar ucapan-ucapan yang keluar dari mulut si perampok, dengan dialek campuran Indonesia, Filipina dan Bahasa Inggris.
"Setelah itu mata kami ditutup menggunakan lakban, lalu dikumpul dua tempat berbeda di ruang makan dan di kamar mandi. Sebelum kami dibuang ke laut, kami sempat diberi makan namun makannya asal jadi sehingga kami tidak makan makanan itu," ujarnya.
Setelah dua hari disekap, pada Jumat (30/1) sekitar tengah malam, para awak kapal digiring keluar. Mereka kemudian dikumpulkan di atas kapal lalu satu persatu diturunkan di laut. Beruntung para penumpang tanker masih diberi rakit dan pelampung. Satu rakit diisi lima orang. Ikatan di tangan dan penutup mata dilepaskan oleh perompak.
"Kalian kami turunkan di sini, nanti ada kapal ikan jemput," ujar sang Kapten kapal menirukan perkataan seorang perompak.
Selanjutnya, mereka terapung-apung di lautan sejak pukul 01.30 subuh dan baru pagi mereka bertemu perahu nelayan. Kapal nelayan itu pun menyelamatkan para korban. Awalnya para nelayan tak langsung menyelamatkan para korban. Para nelayan tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan para korban.
"Mereka mengira kami adalah penjahat. Nelayan itu pergi, tapi kemudian kembali lagi bersama satu kapal lainnya. Nelayan yang di kapal kedua bisa berkomunikasi dengan baik lalu memanggil kapal pamboat untuk mengangkat kami dari rakit dan lifeguard yang sudah bocor. Kami pun akhirnya bisa diselamatkan oleh kapal Pamboat yang berisi puluhan ABK campuran Sanger, Filipina dan orang - orang Manado. Kami langsung diberi makan hingga dievakuasi polisi," ujar Ridwan, mengakhiri kisah tragis menjadi korban pembajakan. (raynaldi pratama)



































