Foto: Upacara peringatan HUT Desa Pangu ke-160
Pangu 'Benteng' Terdepan Kabupaten Mitra
Dari Peringatan HUT ke-160 Desa Pangu
Ratahan Timur, ME
Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-160 Desa Pangu Kecamatan Ratahan Timur, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Sabtu (31/1), seluruh warga desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani, berbondong-bondong melakukan ziarah di dua batu peringatan yang merupakan symbol awal berdirinya desa tersebut.
Batu tersebut, berukuran lonjong yang ditanam berdiri. Disebelahnya, batu berukuran lebar menyerupai piringan besar ikut ditanam berdiri. Batu itu, tampak bukan sekedar batu biasa. Batu ini juga dilindungi oleh dinding pagar lengkap dengan ukiran tempo dulu. Bagian belakang pagar, juga ada patung burung Manguni berdiri tegak menatap tajam.
Sedikit menelisik sejarah, Jendri Kawulusan salah satu tokoh generasi muda pemerhati budaya asal Ratahan dengan semangatnya bercerita sambil tangannya menunjuk pada batu tersebut. "Ini tempat bersejarah. Batu ini sebagai tanda peringatan berdirinya desa Pangu 160 tahun silam," jelas Kawulusan.
Diceritakannya, dahulu kala, Desa Pangu yang kini bagian dari Kecamatan Ratahan Timur, adalah hutan belantara. Kemudian, terjadilah perang antar suku. Tonaas Maringka selaku pimpinan pasukan di Ratahan (Kota Ratahan saat ini), mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kolongen Kawuwung.
Tujuannya untuk menjaga pos terdepan dari serangan musuh. Selang beberapa waktu, Kolongen Kawuwung pun memutuskan untuk mendirikan tempat tinggal.
"Orang Minahasa zaman dulu mendirikan tempat tinggal atau pemukiman, harus bermohon pada Opo Empung, kepercayaan leluhur. Itu juga yang dilakukan Kolongen Kawuwung," urai Kawulusan.
Dilanjutkannya, Kolongen Kawuwung bertapa meminta petunjuk. Dia tidak makan tidak minum berhari hari-hari lamanya. Hingga apa yang diminta pun di jawab. Suara Burung Manguni sebanyak 9 kali diyakininya bahwa permintaannya terkabul.
Suara burung Manguni oleh orang Minahasa umumnya menjadi simbol sejarah. Dahulu, tingkah laku burung Manguni menjadi pertanda.
Merasa permintaannya terkabulkan, Kolongen Kawuwung kemudian membuat api unggun dimulainya pembuatan tempat tinggal. Dia kemudian meminta para pengikutnya yang berjumlah 25 kepala keluarga segera mengambil api dari api unggun yang dibuatnya kemudian meminta mereka mencari tempat masing-masing dan membuat api disitu.
"Jadi, dari cerita dan bukti bukti otentik sejarah, Kolongen Kawuwung adalah pendiri desa Pangu," tuturnya, lalu mengatakan, itulah sebabnya, marga Kawuwung adalah Rukun terbesar di desa Pangu Sementara itu, disebutkannya, jika nama Desa Pangu sendiri diambil dari kata Limpangau, yaitu sejenis tumbuhan Pakis yang biasa tumbuh di tempat lembab.
Bukti sejarah lainnya mencatat, jika sebelum Kolongen Kawuwung, pasukan penjaga perbatasan yang dipimpin oleh Londok Wau, sudah terlebih dahulu mendiami lokasi ini.
Hal tersebut juga ditandai dengan bukti batu sejarah yang sama, yakni batu yang ditanam. Letaknya pun hanya berjarak sekira 500 meter dari batu yang ditanam Kolongen Kawuwung. Namun konon, permintaan Londok Wau tidak mendapat restu dari Opo Empung.
Kini batu bersejarah Kolongen Kawuwung dan Londok Wau, sudah dipugar dan menjadi salah satu lokasi bersejarah. Setiap tanggal 31 Januari, warga desa melakukan ziarah. Pada tanggal itu pula warga menetapkan sebagai HUT Desa Pangu Raya.(robby lumi)



































