Foto: Minderd Mawu.
Proyek 'Amburadul', CV Chrissenia Disurati PU
Tutuyan, ME
Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) bakal kembali layangkan surat pemberitahuan pihak kontraktor CV Chrissenia yang kini mendapat sorotan masyarakat dan pemuda Tombolikat Kecamatan Tutuyan, karena dinilai 'tidak serius' mengerjakan proyek pengerasan jalan perkebunan Toput yang terletak di Desa Tombolikat. Hal tersebut dikatakan Kepala dinas PU, Minderd Mawu.
“Kami sudah dua kali menyurati untuk memberitahukan segera menindaklanjuti sisa waktu 6 bulan kedepan hingga bulan April nanti, untuk perbaikan dan perawatan proyek tersebut,” jelas Minderd.
Diingatkannya proyek yang menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2014 lalu dengan anggaran sebesar Rp1,6 miliar itu diperuntukan untuk pengerjaan jalan, tanggul dan jembatan yang harus diselesaikan sebelum jatuh tempo.
“Sisa waktu itu sebenarnya untuk tindakan perawatan saja sesuai dengan keadaan dilokasinya. Namun jika tidak juga diindahkan, maka sisa anggaran 5 persennya akan kami ambil alih untuk melanjutkan pengerjaannya hingga selesai,” tegasnya, sembari menambahkan baru 95 persen anggaran yang dicairkan.
Sebelumnya melalui tokoh pemuda Tombolikat, Rendy Limbanadi telah mengungkapkan kekecewaannya kepada sejumlah media, akan sikap CV Crhissenia yang dinilai 'pandang enteng' karena pengerjaan akses jalan yang menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat tani didesa itu 'amburadul'.
“Bukan bertambah bagus setelah diperbaiki, malah tambah rusak dan bergelombang. Padahal pengerjaannya kalau dilihat hanya memakan waktu lama sekitar 3 bulan tapi kenapa begitu?,” Keluhnya.
Oleh karena itu dirinya menduga bahwa pihak kontraktor hanya mengerjakannya dalam waktu sebulan saja karena pekerjaannya 'kejar waktu' sehingga hanya mengakibatkan kualitas yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
“Pemerintah harus lebih jeli dalam melakukan proses tender proyek pekerjaan apapun itu. Jangan karena memiliki dua proyek dilain tempat, akhirnya pekerjaannya di Toput tidak beres,” kesal Limbanadi. (ismail batalipu)



































