Foto: Jenazah Prof DR Jan Turang Disemayamkan di kediamannya. (foto. ist)
Tokoh Pendidikan Sulut, Prof DR Jan Turang Berpulang
Sang Profesor Yang Takut Akan Tuhan
Laporan : Micky Ratag
Awan dukacita membungkus dunia pendidikan di Sulawesi Utara (Sulut). Tokoh Masyarakat, aktor intelektual pendidikan tinggi serta akademisi ulung, Prof DR Jan Turang, MPd, berpulang menghadap Sang Pencipta, Selasa (6/1), sekira pukul 13.10 WITA.
Kiprahnya Prof Turang, sapaan akrabnya, sebagai dosen di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Manado di Tondano, telah berhasil menelorkan ribuan akademisi potensial Tanah Nyiur Melambai. Sosok Turang yang dikenal ramah, murah senyum, rendah hati dan pekerja keras, begitu dikenal masyarakat, khususnya Kota Tomohon.
Putra Tomohon yang konsisten menyumbangkan ide-ide briliannya bagi pembangunan Kota Tomohon serta di pelayanan Sinode GMIM ini, menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit (RS) Bethesda Tomohon, setelah berjuang melawat sakitnya.
“Selamat Jalan Profesor Turang, jasa dan semangat yang pernah engkau tunjukkan tidak akan pernah kami lupakan. Banyak pelajaran berharga yang sudah engkau berikan. Semoga engkau tenang di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa,” ungkap Dra Marietje Terok, MPd, Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Manado.
"Pribadinya yang takut akan Tuhan, sangat menginspirasi banyak orang," kunci Terok.
Sementara itu, Ibrahim Ratulangi Tular, pimpinan Komite Pembentukan Kota Tomohon mengatakan rasa belasungkawa atas wafatnya Prof DR Jan Turang. Bagi Tular, sosok Turang merupakan pemikir ulung. Dalam kesibukannya sebagai akademisi di perguruan tinggi sebagai Rektor IKIP, kata Tular, Turang masih menyempatkan diri untuk berjuang dengan masyarakat di Kecamatan Tomohon dalam perjuangan pembentukkan Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa Selatan.
“Sebagai Ketua Pakar Tim Ahli pembentukan Kota Tomohon, semangatnya begitu kuat. Meski sibuk, dia tetap memberikan waktunya untuk perjuangan pembentukkan Kota Tomohon. Itu membuahkan hasil seperti yang dirasakan saat ini,” jelas Tular.
Oleh sebab itu, sangat layak jika Prof Turang dihargai sebagai salah satu pejuang Kota Tomohon. “Beliau sangat militan berjuang. Berkatnya, perjuangan kami saat itu dimudahkan lewat adanya rekomendasi dari pemerintah daerah,” akunya.
Dari pengakuan Ivan, keluarga Prof Turang, almarhum meninggal dunia di RS Bethesda, Selasa (6/1) sekira pukul 13:10 Wita. Sebelumnya, pada pagi hari, almarhum berangkat dari rumah sekira pukul 08.00 Wita bersama keluarga ke rumah sakit untuk melakukan proses cuci darah.
“Belum beberapa lama masuk ke ruangan, almarhum menghembuskan nafas terahir,” jelas Ivan.
Selain menjadi akademisi, Turang termasuk kreator pengembangan kelompok tani Mapalus. Bersama seluruh Pria Kaum Bapa (PKB) di Tomohon, beliau merintis pengembangan perkebunan Wawo .
Prof DR jan Turang lahir tanggal 5 September 1940. Ia meninggalkan istri, Pnt Dra Paulina Helena Tomas, MSi dan tiga orang anak kandung dan 2 menantu.
Semasa hidupnya almarhum, berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan pangkat terahir Pembina Utama IVe. Beliau dipercayakan menjadi Dosen Pasca Sarjana di UNIMA pada Program Studi (Prodi) Manejeman Pendidikan/Perencanaan.
Selain itu, banyak jabatan yang sukses ditorehkannya semasa hidup, baik di pemerintahan dan gereja.
Ibadah pemakaman akan dilaksanakan Kamis (8/1) hari ini, di Pekuburan Keluarga Turang Kelurahan Talele Dua. Saat ini, jenazah almarhum disemayamkan kediaman Keluarga Turang-Thomas, di Jalan Pasewengan, Kelurahan Talete Dua Lingkungan Satu Kecamatan Tomohon Tengah.
Sejumlah jabatan strategis yang dipegang Prof DR Jan Turang, seperti Wakil Sekretaris DPRD Sulut, Penasehat Ahli Gubernur Sulut dari Gubernur GH Mantik, CJ Rantung, EE Mangindaan hingga Drs AJ Sondakh.(*)



































