"Bubarkan TPID"


Manado, ME

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Utara (Sulut) tak bertaji. Melonjaknya harga sejumlah bahan pokok jadi acuan. Bank Indonesia (BI) dinilai berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah. Desakan pembubaran TPID mulai didengunkan.

"Dimana tugas TPID ? Masakan inflasi dalam setahun hampir menyentuh dua digit (y on y 9,67 persen)," sembur pengamat ekonomi Steven Lumbu.

Dirinya meminta agar tim yang terdiri dari pemerintah provinsi khususnya bidang ekonomi dan BI agar dibubarkan saja karena tidak mampu megendalikan inflasi di daerah ini.

"Namanya juga tim pengendali inflasi daerah atau TPID, jadi, kalau inflasinya tidak dapat ditekan, berarti tim ini tidak membuahkan hasil, lebih baik dibubarkan saja," ujarnya.

Lumbu juga menilai di TPID hanya BI yang bekerja maksimal, sedangkan pemprov tidak. "Asisten II, biro ekonomi dan jajaran tak mampu mengontrol harga di pasaran, salah satunya harga rica yang bertahan lama diatas Rp 100 ribu per kg," ujarnya.

Seperti diketahui perkembangan harga berbagai komoditas pada Desember 2014 secara keseluruhan menunjukan adanya kenaikan. Dengan demikian Manado mengalami inflasi sebesar 3,83 persen.

"Terjadi kenaikan harga Indeks harga Konsumen (IHK) dari 114,23 di November 2014 menjadi 118,61 di Desember 2014," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara (Sulut) Faizal Anwar, Jumat (2/1). Sedangkan jika dilihat inflasi tahun kalender (y o y), Desember 2014 terhadap Desember 2013 mengalami inflasi 9,67 persen.

Sedangkan Inflasi terjadi karena adanya kenaikan indeks pada semua kelompok komoditas, yaitu meliputi bahan makanan sebesar 9,31 persen, makanan jadi, minuman ringan dan tembakau 0,70 persen. Kelompok perumahan, air, listrik gas dan bahan bakar sebesar 1,42 persen, kelompok sandang sebesar 1,16 persen.

Sedangkan kelompok kesehatan 0,38 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga 0,71 persen. Kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 7,22 persen.

Komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain cabai rawit, tomat sayur, angkutan dalam kota, bensin, semen, tarif listrik, cabai merah, bawang merah, beras, emas perhiasan, paket liburan, angkutan antar kota, tarif parkir, nasi dengan lauk, seng, telur ayam ras, bahan pelumas, pasta gigi, ekor kuning, angkutan udara, bawang putih, kendaraan rental, soto, mujair, kembang kol, motor, sate, sawi hijau, roti tawar, pisang, ayam hidup, kangkung, gula pasir, daun bawang, coklat batang, blus, kakap putih, pepaya, buncis dan lain-lain.

Semua kelompok memberikan sumbangan pada Desember 2014 ini, sehingga tidak ada kelompok yang memberikan sumbangan deflasi.

Berbeda dengan Lumbu, pengamat Ekonomi Sulut Agus Tony Poputra mengungkapkan inflasi Manado yang terjadi pada Desember karena tingginya konsumsi masyarakat terhadap bahan makanan, hal ini terkait dengan perayaan Natal dan Tahun Baru 2015 yang baru saja dirayakan.(raimon sumual/media sulut)

 



Sponsors

Sponsors