Foto: Beragam rangkaian kegiatan Papendangan Festival 2025, inzet Dr. Olivia Wuwung dan Dr. Denni Pinontoan.
Papendangan Festival Jadi Proyeksi Program Tahunan IAKN Manado
Tomohon, MX
Seminar dan lokakarya (Semiloka) dalam giat Pependangan Festival 2025 bukan sekadar acara seremonial belaka. Tetapi mahasiswa diberi pengalaman, langsung berinteraksi dengan komunitas budaya. Papendangan Festival 2025 yang dihelat di kota Tomohon, Sabtu (22/6), pekan lalu, menjadi ruang belajar tanpa batas, mengenai bagaimana membangun korelasi antara agama-agama dan kebudayaan lokal. Cara pandang mahasiswa Program Studi (Prodi) Sosiologi Agama, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado dalam melihat setiap instrumen kebudayaan pun kian terbuka.
Efek positif yang luar biasa tersebut menjadi landasan kuat bagi IAKN Manado untuk menjadikan papendangan festival sebagai program tahunan. Hal ini diakui Kepala Pusat Agama dan Budaya IAKN Manado, Dr. Denni Pinontoan, M.Teol. Kata dia, event papendangan festival ini direncanakan akan dijadikan program tahunan IAKN Manado. Itu diperkuat dengan ungkapan Rektor IAKN Manado saat membuka kegiatan secara resmi.
"Rektor merespons, Papendangan Festival 2025 ini akan dilanjutkan dan menjadi program tahunan dari IAKN Manado. Ini wadah yang menghubungkan antara dunia akademik perguruan tinggi dan komunitas-komunitas budaya atau masyarakat luas," ungkap Pinontoan sebagai penggagas kegiatan.
Hal menarik kata dia, Prodi Sosiologi Agama IAKN Manado berharap, ke depan ada pelatihan jurnalistik dan sinematografi kepada mahasiswa. Ini juga sudah menjadi tuntutan akademik, mahasiswa tidak hanya memiliki teori, tapi harus punya kemampuan menulis juga.
"Rektor mengatakan, nantinya akan ada sesi khusus sinematografi bagi mahasiswa. Jadi, papendangan festival pasti akan berlanjut di tahun depan. Kemudian, basisnya ada dua, kampus dan komunitas. Atau kampus dan kampung. Konsep ini sebenarnya sangat luar biasa," aku Pinontoan di Kedai Kelung, kelurahan Matani Satu, kecamatan Tomohon Tengah.
Ia menjelaskan, konsep papendangan festival ini muncul sebagai implementasi komitmen dunia perguruan tinggi. Mengintegrasikan kewajiban dasar perguruan tinggi, yaitu tri dharma yang terdiri dari pengajaran pengertian kepada masyarakat, penelitian dan seminar lokakarya.
Pinontoan pun menguraikan, mengapa kegiatan ini mengangkat tema "Agama-agama dan Kebudayaan". Pertama, IAKN Manado sendiri punya konsen terhadap isu-isu kebudayaan. Kedua, lantaran dirinya mengajar di beberapa Prodi dengan mata-mata kuliah yang berkaitan dengan agama dan kebudayaan.
"Kemudian saya berpikir, bagaimana kalau mahasiswa itu diberi pengalaman untuk berinteraksi. Bukan hanya dengan teman di kelas. Tetapi dengan komunitas budaya, masyarakat atau publik juga. Nah, dalam Semiloka tersebut, saya lihat mahasiswa yang berjumlah sekitar 80 orang, sangat antusias dan interaktif dengan para narasumber," tandas Pinontoan selalu Director Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat).
Senada disampaikan Rektor IAKN Manado, Dr. Olivia Cherly Wuwung, S.T., M.Pd., yang menyebut, festival ini merupakan ruang bagi mahasiswa mengekspresikan diri dengan saling menghargai keberagaman, baik di lingkup lokal Sulawesi Utara, maupun Indonesia secara luas. Duduk bersama dalam ruang-ruang dialog yang bernilai positif untuk pengembangan diri mahasiswa sebagai akademisi, sekaligus warga negara Indonesia. Kegiatan seperti ini perlu diagendakan setiap tahun.
"Berharap, kegiatan ini bisa kita lakukan setiap tahun. Bukan hanya sampai tahun 2025 ini, tapi mungkin bisa menjadi agenda tahunan. Tetap juga berkolaborasi bersama Mapatik, Mawale Cultural Center dan Pukkat. Sehingga kita bisa berdampak positif juga bagi masyarakat sekitar dan lingkungan yang ada," sebut Wuwung.
Dalam beberapa pembahasan saat kegiatan berlangsung, ada sejumlah subtema yang dibahas menyorot tema utama. Ada yang mengangkat topik agama-agama dan masyarakat adat. Agama-agama dan kekerasan berbasis gender. Agama-agama di era digital. Kemudian ada juga topik yang membahas kebebasan beragama. Selain mahasiswa IAKN, turut serta juga Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Manado. Hadir pula sejumlah mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Manado.
Papendangan Festival 2025 ini menghadirkan sepuluh narasumber (Narsum) dengan kompetensi dan keahlian di bidang masing-masing. Narsum dimaksud, yaitu pimpinan penghayat kepercayaan Lalang Rondor Malesung, Iswan Sual, S.Pd., Tokoh Kristen, Pdt Dr. Steven Manengkey, Akademisi Islam, Rahman Mantu, M.Hum., Mahasiswa P.Hd ICRS Jogjakarta, Pdt Anggie Wuysang, S.Th, M.A., Tokoh Konghucu, Sofyan Jimmy Yosadi, S.H., Sinematografer, Kalfein M. Wuisan, M.Pd., Director Mawale Cultural Center, Greenhill Weol, S.S., Budayawan Minahasa, Fredy S. Wowor, M.Teol., Dosen Fakultas Teologi UKIT YPTK-GMIM, Riane Elean, S.Th., M.Si., Aktivis Teologi Feminis, Ruth K. Wangkai, M.Th., Director Komunitas Penulis Mapatik, Rikson Karundeng, M.Teol. (hendra mokorowu)



































