Mapatik dan Mawale Photography Ajari Jurnalis Produksi Foto Jurnalistik


Tomohon, MX

Salah satu segmen jurnalistik, yakni berita foto kian jarang diimplementasikan insan pers. Kondisi ini memantik semangat komunitas penulis muda Minahasa, Mapatik untuk berbagi pengetahuan. Itu dengan menyelenggarakan giat workshop dan sharing dengan tema "Menulis Dengan Cahaya", di Wale Mapantik, kelurahan Matani Satu, kecamatan Tomohon Tengah, Jumat (24/1). 

Director Mapatik, Rikson Karundeng kegiatan ini digelar untuk menularkan pengetahuan soal seni fotografi berita. Apalagi, banyak sekali fotografi yang digunakan berbagai media, tidak menyertakan sumber foto. Pihaknya pun menggandeng komunitas Mawale Photography sebagai panelis. Adapun, workshop dan sharing fotografi bercerita ini berlangsung selama dua hari, yakni Jumat sampai Sabtu (24-25 Januari 2025). Peserta workshop terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar. 

"Workshop ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan soal foto jurnalistik kepada teman-teman jurnalis atau penulis. Tentang bagaimana teknisnya dan tips-tips dalam pengambilan foto agar gambar yang dihasilkan memiliki cerita bermakna dan berguna bagi orang banyak," ujar Karundeng.

Greenhill dalam pemaparan materi presentasi, ia menekankan tentang foto yang dihasilkan hendaknya memiliki cerita dengan pesan-pesan moral. Beragam tipe foto serta pembuatannya pun dijelaskan secara detil. Menurutnya, setiap foto yang dihasilkan oleh siapa saja, itu merupakan karya seni. Tidak hanya terpaku pada karya seni, tapi bagaimana foto yang dihasilkan lebih bernilai.

"Saat berada di era fotografi handphone hari ini, semua orang punya peluang berkarya. Pastinya, ada kebutuhan terhadap foto yang lebih berkualitas melalui pelatihan dan sharing," sebutnya. 

Kali ini, Mawale Photography berbagi metode-metode, bagaimana membuat foto semakin berkualitas, kian berisi dan lebih bercerita. Bukan hanya sekedar tangkapan sejenak terhadap sebuah momen. Tetapi bagaimana sebuah karya foto itu bisa bercerita. Bisa membuka kesadaran bahkan mampu merubah dunia dengan foto.

"Sebab sejarah sudah mencatat, banyak karya fotografi yang memang berpengaruh terhadap perjalanan sejarah itu sendiri. Hari ini, orang di Minahasa harus mampu mengisi ruang-ruang itu," tutur Weol. 

Salah satu peserta workshop, Novi Haryono mengapresiasi kegiatan yang digagas Komunitas Mapatik. Diakuinya, melalui workshop atau pelatihan ini, dirinya mendapatkan pencerahan tentang bagaimana cara mengambil foto dengan baik. Pengetahuan berharga yang bisa menjadi bekal baginya dalam menjalankan tugas-tugas sebagai jurnalis.

"Lewat pelatihan ini, kita mendapat pelajaran bagaimana cara mengambil foto dengan memilih angle, mencari momen. Mengambil foto bukan sekedar asal klik. Tetapi ada konsep untuk menjadikan foto itu bercerita. Secara pribadi, di sini saya juga belajar soal bagaimana cara pengambilan angle foto terbaik," singkat Haryono.

Diketahui, pada pelaksanaan hari pertama, hadir para fotografer profesional di Sulawesi Utara, di antaranya Armando Logo, Kalfein Wuisan, Eka Egeten, Denny Taroreh, Coco Yustian dan Dendraive Mandagi. Hadir pula sejumlah mahasiswa dan pelajar sekolah menengah pertama. Di hari kedua, akan dilakukan praktik menciptakan foto jurnalistik di lapangan. Sebagai peserta, yaitu puluhan jurnalis dari Tomohon, Minahasa, Manado dan Minahasa Selatan. (hendra mokorowu)



Sponsors

Sponsors