Foto: Peletakan Tetengaan di Pasela Wanua Daikit.
Ma`ator Um`banua, Sarat Makna dan Masih Dipercaya Masyarakat Dimembe
Dimembe, MX
Wanua Dimembe adalah salah satu desa di kabupaten Minahasa Utara yang masih kental dengan adat istiadat dan kearifan lokal. Upacara adat Ma`ator Um`banua yang umum dikenal dengan Dumia Um`banua menjadi ciri khas desa tersebut yang sarat makna. Tradisi ritus ini masih lestari di masyarakat setempat sampai saat ini. Semisal, kegiatan yang dilaksanakan di wanua Dimembe, Minahasa Utara, Jumat (17/1).
Beberapa hari sebelum, sampai pada kegiatan, para tetua adat berkumpul untuk berdoa kepada Opo Empung atau Tuhan. Meminta agar diberikan kelayakan dan kelancaran dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Setelah melalui proses kelayakan, dilanjutkan dengan melihat pesan dari Opo Empung melalui leluhur. Baik buruknya yang akan terjadi di wanua Dimembe sepanjang tahun 2025 melalui hati babi.
Saat proses ritual, beberapa tetua yang memiliki bekal pengetahuan khusus menjadi mediator roh leluhur. Selanjutnya mengucapkan pesan-pesan penting dalam bahasa Tonsea untuk seluruh masyarakat dan juga pemerintah.
Setelah mendengarkan pesan, prosesi dilanjutkan dengan keliling kampung untuk melatunkan doa serta mengunjungi waruga yang ada di wanua Daikit dan Pasela untuk memelihara ingatan.
Masyarakat bersyukur karena seluruh rangkaian kegiatan ini selesai dengan baik sampai pada acara makan bersama. Berbeda, dengan tahun 2024 lalu. Saat itu, ritus tidak berjalan mulus dan menyisakan pilu karena ditolak beberapa oknum. Pelaku tradisi ini pun tidak diijinkan untuk berkunjung ke waruga.
"Tradisi Dumia Um`banua awalnya dilaksanakan dua wanua, yaitu Daikit dan Dimembe. Tapi sekarang hanya wanua Dimembe yang menggelar kegiatan ini. Itu lantaran Dimembe mekar dari wanua Daikit," ungkap Tonaas Sam Wantania di kediamannya.
Kurangnya wawasan dan pengetahuan, ditambah beredarnya stigma negatif terkait tradisi ini, membuat kepala desa wanua Daikit enggan turut serta. Namun hal ini tidak mengapa bagi Wantania. Dirinya pun tetap eksis melestarikan tradisi tua tersebut untuk bersyukur kepada Tuhan.
"Tidak apa-apa mereka menganggap hal ini tidak baik. Saya tidak butuh tanggapan mereka. Yang saya butuhkan ialah penyertaan Tuhan untuk kita manusia di sepanjang tahun berjalan ini," tandas Wantania yang merupakan pemimpin upacara adat.
Dirinya berharap Bupati Joune Ganda yang mengemban gelar adat Tonaas Um`Banua Minaesa Amian dapat memberikan ultimatum kepada Camat Dimembe. Terutama Hukum Tua Wanua Daikit agar dapat bersama-sama menjalankan kembali kegiatan ini karena ritus ini sudah diakui sebagai warisan budaya bukan benda. (benhard holderman)



































