Foto: Kadis Dolvin Karwur
Banyak Sekolah di Tomohon Sudah Menerapkan Kurikulum Merdeka
Tomohon, MX
Sejak diluncurkan Kementerian Pendidikan, dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia pada tahun 2022, penerapan kurikulum merdeka belajar di Kota Tomohon kian berjalan baik. Sebagian besar dari keseluruhan satuan pendidikan di Kota Sejuk pun sudah melaksanakan kurikulum yang merupakan program kebijakan Kemendikbud ini. Demikian Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan, dan Kebudayaan Daerah Kota Tomohon, Dr. Juliana Dolvin Karwur, M.Kes., M.Si., saat dikunjungi manadoxpress.com di kantornya, Selasa (10/1).
"Memang, banyak sekolah sudah menerapkan kurikulum merdeka. Tersisa sedikit yang masih menggunakan kurikulum K-13. Lama-kelamaan, kita akan meninggalkan kurikulum K-13. Jadi, step by step," tutur Karwur.
Dirinya menjelaskan, untuk mencapai tujuan profil belajar Pancasila dalam kurikulum merdeka, harus diawali dengan assessment diagnostik. Artinya, pembelajaran yang fokus pada sejauh mana pemahaman siswa terhadap sesuatu. Kemudian, ada juga assessment formatif yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Sebelumnya, kurikulum K-13 lebih menekankan pada assessment sumatif, yakni mid semester, dan ujian akhir.
"Kalau assessment formatif, dan diagnostik sudah dilakukan dengan baik, tanpa sumatif pun tidak masalah. Misalnya, mid semester tidak wajib, tapi tak mengabaikannya. Pun bila ada halangan, misalnya siswa sakit, bisa mengikuti pelaksanaan remedial. Jadi, dalam kurikulum merdeka ini, setiap hari guru melakukan penilaian terhadap siswa," jelasnya.
Adapun, hasil akhir belajar siswa dapat diukur berdasarkan akumulasi dari nilai formatif setiap tujuan pembelajaran, dan nilai sumatif tujuan pembelajaran. Jumlahnya dibagi rata. Itulah hasil akhir dari pembelajaran siswa.
Diterangkannya, kurikulum merdeka juga adalah pembelajaran berdiferensiasi. Artinya, pembelajaran sesuai dengan kemampuan, minat, bakat anak didik. Sebab itu profil belajar Pancasila terdiri dari 6 tema. Pertama, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. Kedua, berkebinekaan global. Ketiga, bergotong royong. Keempat, mandiri. Kelima, bernalar kritis. Keenam, kreatif.
"Setiap anak itu dilahirkan dengan unik. Sebab itu, tidak boleh memberikan pembelajaran yang sama kepada setiap anak. Caranya, dibuat diagnostik dulu. Sehingga pembelajarannya dicocokkan dengan karakter anak didik," pungkasnya.
Kadis mengharapkan, di tahun 2023, sambil menyesuaikan, sekolah-sekolah yang masih menggunakan kurikulum K-13, secara bertahap bisa beralih ke kurikulum merdeka. (hendra mokorowu)



































