Winsulangi Salindeho di Mata Melky Pagemanan


Manado, MX
Kabut duka kembali menyelimuti Bumi Nyiur Melambai. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut), Winsulangi Salindeho, berpulang ke sisi Tuhan Yang Maha Esa (TYME).
 
Sejuta kesedihan pun mengalir dari masyarakat dan sejumlah tokoh publik kepada mantan Bupati Sangihe dua periode ini. Sejumlah karya, teladan dan karsa pun dikenang. Termasuk diutarakan oleh anggota DPRD Sulut, Melky Pangemanan. Di mata Pangemanan, Salindeho merupakan senior panutan.
 
"Selamat jalan senior panutan, Winsulangi Salindeho," kata Pangemanan, Minggu (15/8).
 
Pangemanan mengatakan, dirinya merasa kaget dan rasa belum percaya ketika mendapatkan informasi bahwa Winsulangi meninggal dunia.
 
"Sosok yang sangat saya segani karena kedisiplinan, kerendahan hati dan kecintaannya terhadap keluarga. Sejak saya dipercayakan menjadi Wakil Ketua Bapemperda DPRD Sulut mendampingi Winsu sebagai Ketua Bapemperda, hubungan kami menjadi semakin dekat karena sering berkomunikasi terkait tugas di DPRD. Bahkan tak jarang kami berdiskusi di luar kerja kedewanan, urusan keluarga dan pengalaman beliau yang telah malang melintang sebagai seorang birokrat dan politisi senior," tutur Pangemanan.
 
"Pernah mengemban tugas sebagai Sekretaris Daerah Kota Manado, Wakil Bupati dan Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe. Di bidang keagamaan, pernah dipercayakan menjadi Anggota Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM," sambungnya.
 
Lebih lanjut dijelaskan, pada Rabu 28 Juli 2021, dirinya dipercayakan menjadi Wakil Ketua Pansus Ranperda tentang Pelindungan dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas, dengan kembali mendampingi Winsulangi sebagai Ketua Pansus.
 
"Di bawah kepemimpinan Pak Winsulangi sebagai Ketua Bapemperda dan Ketua DPRD Pak Fransiscus A. Silangen, kami bisa menghasilkan suatu produk hukum daerah, setelah kurang lebih 7 tahun DPRD Sulawesi Utara tidak melahirkan Peraturan Daerah (Perda) yang diinisiasi oleh DPRD Sulut," lanjutnya.
 
Pangemanan mengatakan, dalam melaksanakan tugas kedewanan, ia selalu diberikan beberapa kesempatan untuk bekerjasama.
 
"Kami berdua memang sering duet dalam mengerjakan berbagai tanggung jawab legislasi. Saya belajar banyak dari beliau. Sungguh pelajaran yang sangat berharga bisa bekerja sama dengan Pak Winsulangi dan selalu memberi kesempatan kepada saya untuk belajar," kata Pangemanan.
 
Menurut Pangemanan, Alm. Winsulangi dianggap sebagai orang tua dan menjadi role model seorang politisi. Di usia yang tidak muda lagi, masih tetap semangat dan rajin menjalankan tugas sebagai anggota DPRD Sulut.
 
"Beberapa waktu lalu selesai rapat, Pak Winsu berdiskusi panjang dengan saya dan rekan aleg Ronald Sampel. Beliau mengutip ayat Alkitab dalam Amsal 30:7-9. Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kau tolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa Tuhan itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku," terang Pangemanan.
 
Dijelaskan Pangemanan, ayat tersebut menjadi doanya kepada Tuhan, agar terus dimampukan dalam bekerja untuk masyarakat dan daerah. Winsulangi sungguh sangat menginspirasi semua rekan-rekan di DPRD Sulut dengan keteladanannya serta etos kerjanya yang tinggi dalam pengabdian sebagai wakil rakyat.
 
"Saya dan keluarga merasa sangat kehilangan sosok Pak Winsu. Tidak akan ada lagi suara melalui telepon yang diawali dengan ucapan, Halo anak muda, dari beliau. Beberapa hari lalu Pak Winsu menghubungi saya dan bahkan sempat berbincang dengan istri Pendeta Meiva. Pak Winsu bilang, so rindu karena jarang baku-baku dapa di kantor ini anak muda, kong kase bacerita deng Pendeta Meiva. Pendeta Meiva bilang, cocok sekali kerja sama Pak Winsu dengan Pak Melky, Pak Winsu sering cerita. Jujur saya terharu, kedua sosok suami istri ini adalah figur publik yang banyak dipercayakan mengemban amanah besar di daerah ini," terangnya.
 
Dikatakan Pangemanan, masih banyak tanggung jawab yang harusnya dikerjakan bersama ke depan namun Tuhan memiliki otoritas tunggal untuk memanggil pulang milik kepunyaan-Nya yang telah memberi diri melayani rakyat.
 
"Mengenang Pak Winsu dan menulis cerita bersamanya membuat saya sedih. Ada banyak keteladanan darinya yang saya pelajari. Pak Winsu telah meninggalkan kita semua di dunia, namun semangatnya, kedisiplinan, tanggung jawab dan kerendahan hatinya akan selalu kami kenang," kata Pangemanan.
 
"Beristirahatlah dalam damai Kristus, Pak Winsu. Selesai sudah tugas yang telah engkau emban di dunia ini. Tuhan memberi penghiburan sejati bagi Keluarga Salindeho-Lintang (Pendeta Meiva, Christin, Christian dan Junior)," tandas Pangemanan. (Eka Egeten)



Sponsors

Sponsors