Hadapi Covid-19, JWS Ajak Masyarakat “Bakobong”
Tondano, MX
Teror pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) berhasil melumpuhkan banyak sektor. Hampir tak ada lini yang lolos dari serangan virus ini. Salah satu sektor yang paling berdampak adalah sektor ekonomi. Sejak booming dan memuncak pada bulan Februari lalu, tak sedikit masyarakat yang terkena pemutusan hak kerja (PHK) dan kesulitan mendapat pekerjaan.
Tak hanya itu, virus ini juga berhasil memunculkan banyak persoalan lainnya. Di tengah kesulitan ekonomi, masyarakat tetap dituntut untuk memenuhi kebutuhan hidup atau sekedar untuk bertahan hidup. Apalagi sejak dicetuskannya berbagai kebijakan pemerintah seperti membatasi aktivitas di luar rumah dan menjaga jarak, semakin menambah derita masyrakat.
Tak ayal sejumlah langkah alternatif pun tercetus. Salah satu aktivitas yang paling ideal dilakukan di masa pandemi ini adalah berkebun. Hal ini diungkap Jantje Wowiling Sajow (JWS). Politisi yang juga aktif sebagai petani ini mengajak seluruh masyarakat untuk berkebun sebagai salah cara bertahan hidup dari serangan virus yang diduga berasal dari Wuhan, China itu.
“Di masa covid 19 sekarang, ada banyak persoalan. Mulai dari banyak yang kena PHK, sulit dapat pekerjaan dan lain-lain,” ungkap Sajow kepada awak media, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, di tengah kondisi yang tidak stabil seperti ini, masyarakat harus bisa bertahan hidup, yakni dengan memanfaatkan setiap jengkal tanah sebagai lahan untuk berkebun.
“yang penting sekarang masyarakat harus mampu bertahan dulu sampai selesai masa Covid-19, dengan jalan bakobong (berkebun, red), mulai dari menanam tanaman yg bisa di konsumsi seperti umbi-umbian, pisang, sayur, cabe dan lain-lain. Pokonya bisa memanfaatkan halaman yg ada,” tukas politisi kawakan itu.
“Mengapa? karena ke pasar tidak aman, ke mall tidak aman, ke mana-mana tidak aman, jadi bertahan dulu. Ada yang secara ekonomi masih baik, tapi tidak berani ke luar rumah, apa lagi rawan Covid-19. Jadi yang terpenting bertahan dulu, sampe selesai baru beraktifitas lagi,” ucap Sajow yang kerap membagikan aktifitas berkebun di media sosial.
Meski begitu, sejumlah persoalan lainnya ikut menanti. Ketika jumlah petani semakin banyak dan produksi semakin melimpah diiringi dengan pembatasan pengiriman barang ke luar daerah maka akan berpengaruh pada pasar dan permintaan. Parahnya, jika ini tidak disiasati akan menimbulkan polemik baru, apalagi jika harga jual hasil alam para petani hanya dihargai murah.
Untuk itu, mantan Bupati Minahas ini berharap kepada pemerintah agar bisa mempertahankan harga hasil alam yang diperoleh para petani.
“Yang pasti harapan petani, harga kopra dan cengkih serta komoditas unggulan petani bisa kompetitif, minimal harga jualnya masih lebih baik dibanding harga pasaran yang ada supaya petani bisa hidup,” pungkasnya. (Kharisma Kurama)



































