PLN Sulutenggo Siap Tanggung-Jawab Terhadap Ancaman Lingkungan

Jamin Kapal MVPP Mampu Atasi Krisis Listrik Sulut


Manado, ME

Krisis listrik terus meneror warga Sulawesi Utara (Sulut). Pemadaman tak beraturan masih mendera seluruh pelosok Bumi Nyiur Melambai. Masyarakat menjerit, Perekonomian Sulut kian terpukul. Bola panas terus sasar PLN Suluttenggo. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu dinilai yang paling bertanggung-jawab dengan krisis listrik yang telah menahun di Sulut.

Terobosan PLN untuk mengatasi devisit listrik di Sulut akhirnya berbuah manis. PLN Suluttenggo mendapat bantuan Kapal Marine Vessel Power Plant (MVPP) berkapasitas 120 Mega Watt. Kapal berisi pembangkit listrik yang berasal dari Turki itu di lepas Presiden Joko Widodo di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara, (8/12) lalu.

Sedianya Kapal MVPP akan tiba di Amurang Minahasa Selatan pada 23 Desember 2015 mendatang. GM PLN Suluttengo Baringin Nababan pun menjamin, kapal yang disewa selama 5 tahun itu, bisa mengakhiri devisit listrik di Sulut dan Gorontalo untuk lima tahun kedepan. Alasannya, beban puncak sistem kelistrikan. Sulut dan Gorontalo saat ini mencapai 325 MW. Sementara daya mampu seluruh pembangkit hanya 320 MW. Namun kini hanya 275 MW yang berfungsi optimal, sebab ada beberapa pembangkit yang mengalami derating dan pemeliharaan.

"Saat ini kita defisit 50 MW. Jika kapal MVPP berkapasitas 120 MW telah beroperasi, maka kita jamin hingga 5 tahun kedepan Sulut dan Gorontalo tak akan devisit listrik lagi," ungkap Nababan dalam jumpa pers yang digelar di Kantor PLN Sulutenggo.

Pun begitu, pria berdarah Sumatera itu belum dapat memastikan pembangkit listrik kapal MVPP bisa akan langsung dioperasikan bila telah sampai di Amurang. "Akan kita upayakan seperti itu. Sekarang kita tengah bicarakan dengan pihak perusahaan dari Turki yang akan mengoperasikan pembangkit itu. Yang pasti sesuai jadwal, kapal itu seharusnya tiba di Amurang tanggal 23 desember ini," terangnya.

Disinggung soal keamanan dari kapal baik terhadap operator, masyarakat sekitar serta ekosistem atau lingkungan laut, Nababan menjaminnya. "Itu tentu akan menjadi tanggung-jawab penuh dari PLN. Untuk mendatangkan kapal itu sudah melalui beragam uji coba, tes serta telah melewati berbagai proses perijinan," paparnya.

"Kalau ancaman terhadap warga sekitar saya kira agak sulit soalnya kapalnya di area laut. Tapi ancaman terhadap operator dan lingkungannya yang akan kita antisipasi," sambungnya.

Meski demikian Nababan menjamin akan memenuhi kebutuhan listrik Sulut dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru. "Kecuali ada gangguan akibat pohon tumbang atau gangguan non teknis lainnya. Tapi akan langsung kita tindak-lanjuti. Karena saya juga akan kerja di Hari Natal, meski saya pun merayakannya," ungkap Nababan lagi.

Ia mengakui, Sulut merupakan satu daerah di Indonesia yang menderita akibat listrik. "Ini karena ketidak-sanggupan dalam pemenuhan pemeliharaan pembangkit serta lambatnya penyelesaian pembangkit pasca krises moneter tahun 97-98 silam. Tapi sekarang pemerintah dan PLN sudah sementara berbuat untuk mengatasi krisis listrik di Indonesia khususnya di Sulut," tegasnya.

"Sekali lagi, jika pembangkit di Kapal MVPP telah beroperasi, Sulut tak akan devisit listrik lagi. Selain masyarakat, kita juga akan segera layani pelaku industri secara selektif," kunci Nababan yang didampingi Kepala Dinas Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) Sulut, Marly Gumalag.( aldy rorong)



Sponsors

Sponsors