BOLTIM KIAN MENCEKAM

Cawabup Medy Lensun Nyaris Diparang


Boltim, ME

Dinamika politik di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), kian menyimpang dari etika demokrasi yang sesungguhnya. Aksi anarkis pendukung yang berpotensi menyulut konflik lebih luas makin marak. Oknum-oknum elit politik terkesan tutup mata.

Begitupula dengan aparat penegak hukum. Lembaga keamanan yang seyogianya memberi perlindungan dan rasa nyaman bagi masyarakat, nyaris tak berkutik. Pertikaian antar kelompok pendukung calon bupati dan wakil bupati di Boltim masih terus terjadi.

Tak hanya itu, para kandidat kepala dan wakil kepada daerah juga tak luput dari aksi teror. Seperti yang menimpa, Calon Wakil Bupati, Medy Lensun. Sosok pendamping Sam Sachrul Mamonto di Pemilukada Boltim itu, dikabarkan nyaris dihakimi oleh kelompok warga yang diduga pendukung dari pasangan Sehan Landjar-Rusdi Gumalangit (SeRu).

Situasi di Boltim makin mencekam. Warga terus dilanda kecemasan dan ketakutan. Potensi chaos menganga jelang Pemilukada 9 Desember 2015 mendatang.

Informasi yang diperoleh, peristiwa memiriskan itu terjadi (Selasa 3/11). Ihwal kejadian bermula kala Cabup Medy Lensun menghadiri acara duka di Bongkudai Kecamatan Modayag Barat, Boltim. Tiba-tiba beberapa oknum yang ditengarai pendukung SeRu melakukan keributan. Ada yang mengamuk dengan menggunakan samurai.

Tak sampai di situ oknum-oknum yang diliputi amarah sempat melakukan pemukulan terhadap sejumlah warga yang menghadiri acara duka tersebut. Melihat kondisi yang tak kondusif, Lensun pun meninggalkan acara duka tersebut.

Tapi tak disangka, politisi PDIP itu dihadang di dekat Posko pasangan SeRu di Bongkodai Selatan. Lensun nyaris ditebas dengan samurai oleh oknum yang ditengarai pendukung SeRu. Beruntung, mantan Wabup Boltim berhasil meloloskan diri dari serangan senjata tajam itu.

“Kami melihat massa pendukung SeRu sudah semakin tak terkendali. Mereka tak sungkan-sungkan lagi melakukan tindak kekerasan. Malah cabup kami hampir di tebas dengan samurai,” keluh Ferdy Sumual, salah satu Tim Pemenangan Pasangan Sachrul Mamonto-Meydi Lensun (SMiLe).

“Kejadian di acara duka Bongkudai dan di dekat Posko pasangan SeRu jadi bukti nyata tindak kekerasan pendukung SeRu. Bukan hanya kami yang menjadi saksi mata. Kejadian itu disaksikan oleh banyak orang,” sambung Sumual yang mengaku berada di lokasi kejadian.

Ia pun mengaku massa pendukung SMILE sempat terpancing dan berencana melakukan perlawanan. Namun itu langsung dicegah Sachrul dan pak Medy. “Saat itu pula Pak Sachrul dan Pak Medy langsung meminta seluruh pendukung untuk tenang dan tidak terprovokasi,” ungkapnya.

Kejadian-kejadian dinilai memberi kesan kubu SeRu menggunakan segala cara untuk menang, termasuk meneror, dan melakukan kekerasan. “Mau jadi apa Boltim kalau apa-apa kekerasan yang selalu ditunjukkan. Ini tidak mengajarkan demokrasi yang baik bagi masyarakat,” sesal Sumual.

Pihaknya pun berencana akan melaporkan peristiwa itu ke aparat kepolisian. Nama-nama orang yang melakukan kekerasan bahkan ingin membahayakan keselamatan Lensun disebut telah teridentifikasi.

“Ini jelas sudah mengancam nyawa calon wakil bupati kami. Kejadian ini akan kita laporkan untuk diproses secara hukum. Dan kami mita aparat untuk menindak tegas para pelaku yang melakukan tindak kekerasan dan teror ,” timpalnya.

DIBENARKAN LENSUN
Medy Lensun sendiri ketika dikonfirmasi, tak menampik adanya peristiwa tersebut. Ia pun menceritakan terror yang menimpa dirinya.

“Ya, kemarin sore saya menghadiri duka di desa Bongkudai Baru. Selesai ibadah tiba-tiba salah satu anggota Tim SeRu, Tonny Korah, ngamuk dengan menggunakan samurai. Saat kondisi sudah agak memanas, saya memutuskan segera pulang,” ceritanya.

Namun Ketika melewati Posko Seru di Bongkudai, Lensun mengkau dihadang oleh istri Tonny Korah. “Saya sempat dicaci maki dan hampir dibacok Jen Rarung dengan samurai. Untung mobil yang saya kendarai langsung ditancap gas. Jadi saya lolos,” bebernya.

Pun begitu, selalu selaku calon Wabup Ia menyatakan telah menghimbau seluruh pendukung untuk tidak terpancing dengan tindakan lawan yang anarki. “Mari kita sukseskan Pilkada damai dan berintegritas. Apapun yang dilakukan pihak lawan, hadapilah dengan senyum. Kan negara kita negara hukum. Yang melakukan pelanggaran hukum, pasti akan dikenakan sanksi sesuai hukum yang berlaku,” kuncinya. Sayangnya, kubu SeRu belum dapat dimintai klarifikasi.

DORONG TAMBAHAN PENGAMANAN
Tensi panas jelang pemilukada Boltim, dinilai perlu mendapat perhatian serius dari aparat keamanan Bentrok antar pendukung calon yang berulang terjadi, dianggap rawan menyulut konflik yang lebih besar.

Apalagi, kini teror sudah menyasar ke calon peserta Pemilukada. Itu dianggap akan lebih berbahaya dan berpotensi chaos. “Ini tak bisa dibiarkan. Pengamanan Pemilukada di Boltim harus lebih diperketat,” tanggap Taufik Tumbelaka, salah satu pemerhati politik Sulut, Rabu (4/11) malam.

“Kalau memang Polres Bolmong kekurangan personil, minta BKO (bantuan keamanan oprasional,red) ke Polda. Kan ada biaya pengamanan Pemilukada,” sambungnya.

Ia pun mengusulkan agar Polres atau Polda memanggil para calon bupati dan wakil bupati yang akan bertarung di Pemilukada Boltim. Terutama pasangan Sachrul Mamonto-Meydi Lensun (SMiLe) dan Sehan Landjar-Rusdi Gumalangit (SeRu).

“Karena kedua pendukung pasangan itu yang kerap terlibat perseteruan. Para kandidat itu harus diberi arahan agar mampu menjaga pendukungnya untuk tidak melakukan aksi kekerasan. Lebih baik kalau dilakukan penandatanganan integritas,” usulnya.

“Itu untuk mencegah agar konflik dan pertikaian serupa tidak akan terulang kembali. Jika tidak, fenomena itu bisa mengarah ke konflik yang lebih luas,” tandasnya.

Kapolres Bolmong, AKBP William Simanjuntak ketika dikonfirmasi melalui Kasubah Humas AKP Saiful Tamu, Rabu malam membenarkan ada laporan yang masuk. Namun yang menyampaikan laporan bukan korban. “Jadi kami menyarankan kepada pelapor, untuk membawa serta korban jika mau melapor,” singkatnya.

Untuk masalah pengamanan Pemilukada Boltim diklaim masih mampu ditangani Polres Bolmong. “Memang akhir-akhir ini, situasi di Boltim memanas. Tapi itu masih bisa kita atasi,” kata Saiful.

“Jika memang dibutuhkan, kami akan meminta BKO dari Polda. Itu akan dilihat dari kebutuhan dan situasi kedepan,” tandasnya.

Diketahui , pendukung Pasangan SMiLe dan SeRu sempat bertikai di Desa Modayag, Kecamatan Modayag Kabupaten Boltim, sekitar pukul 22.30 WITa, Minggu (1/11). Kedua pendukung sempat bentrok. Puluhan pendukung dari kedua belah pihak sempat jadi korban lemparan batu. Peristiwa serupa juga terjadi di wilayah Togid, Kecamatan Tutuyan, belum lama.

Sebelumnya, Kapolda Sulut, Brigadir Jendral Polisi (Brigjen Pol) Wilmar Marpaung telah menegaskan akan melakukan langkah tegas bagi para oknum perusuh di Pemilukada. Jenderal Bintang Satu itu malah telah mengintruksikan perintah tembak di tempat bagi oknum perusuh yang melakukan tindak anarkis, seperti melakukan perusakan aset pemerintah maupun mengancam keselamatan jiwa masyarakat. Namun itu dilakukan sesuai dengan prosedur tetap yang berlaku. (media sulut)



Sponsors

Sponsors