Foto: Ilustrasi.
Siapkah Sulut Sambut KEK ?
Listrik Sering Padam
Manado, ME
Gaung pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sulawesi Utara (Sulut) terus membahana, mulai dari pembangunan Tol kedua di pulau Sulawesi yang akan menghubungkan Manado-Bitung sepanjang 39,9 KM, Sudah menelan anggaran tak kurang dari 1,24 triliun rupiah hingga pembebasan lahan lokasi KEK terus digenjot Pemerintah.
Kerja Keras Mantan Gubernur Sulut, DR. Sinyo Harry Sarundajang memperjuangkan mega proyek ini terancam jadi isapan jempol semata. Mimpi masyarakat untuk dapat melihat "Shenzen" di bumi nyiur melambai bisa saja menguap akibat ketidaksiapan elemen-elemen pendukung.
Peraturan Presiden no 32 tahun 2014 tentang kawasan ekonomi khusus jelas menjelaskan berbagai keunggulan yang dimiliki oleh Sulut, seperti keunggulan Geoekonomi dimana daerah ini bisa menjadi pusat pertumbuhan, pusat distribusi dan pusat logistik di kawasan Indonesia timur. serta memiliki akses international ke BIMP-EAGA, AIDA, Asia Timur dan Pasifik. Selain itu lokasi pembangunan KEK juga berdekatan dengan rencana pembangunan International HUB Port (IHP) yang tengah digarap Pemerintah, belum lagi kapasitas Bitung sebagai salah satu penghasil perikanan terbesar di Indonesia.
Berbagai potensi yang dimiliki ini menjadi bahan pertimbangan yang membuat KEK Bitung menjadi prioritas diantara 16 daerah lain yang juga mengusulkan KEK.
"Program KEK akan tetap jalan dan Pemerintah sudah siap berdasarkan kajian-kajian matang yang telah dilakukan," Ungkap DR. Sonny Sumarsono Penjabat Gubernur Sulut yang juga adalah Dirjen Otonomi Daerah (Otda) menegaskan kesiapan pemerintah. Namun hal ini seakan mentah dengan kesiapan Perusahaan Listrik Negara (PLN) wilayah Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo (Sulutenggo) memnuhi kebutuhan listrik masyarakat.
"Untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat saja sudah tidak sanggup apalagi kalau sudah ada KEK," ungkap Deprits Mangune warga Manado. Geram dengan Permasalahan ini Penjabat Gubernur selasa (6/10) sempat memanggil General Manager PLN Suluttenggo Baringin Nababan untuk berdialog terkait masalah kelistrikan.
Lagi-lagi alasan klasik kembali diutarakan manajemen PLN, dengan mengungkapkan 3 sub sistem (Minahasa, Kotamobagu dan Gorontalo), sedang mengalami kekurangan pasokan dari sisi pembangkit sebesar 83,8 Mega Watt (MW). Salah satunya akibat adanya gangguan pada PLTU Amurang unit 1 dan 2. Juga debit air danau Tondano yang berkurang akibat kemarau panjang, sehingga mesin PLTA tidak berfungsi maksimal. Saat ini mesin PLTA hanya bisa membantu saat beban puncak malam hari.
KEK tentu menjadi salah satu impian masyarakat Sulut untuk bisa diwujudkan, namun apakah kesiapan dalam pemenuhan pasokan listrik yang tidak sedikit guna menunjang kinerja para Investor yang akan menanamkan investasinya bisa tersedia apabila untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saja sudah tidak bisa ? (andrew)




































