KUBU SEHAN SERANG RIVAL POLITIK

Kisah ‘Kom-Kom Ci’ Berlanjut


Tutuyan, ME

Nyanyian ‘kom-kom ci’ berujung dugaan penganiayaan Sehan Landjar, berlanjut. Arus kecaman mengalir, menyasar aksi brutal ini. Di sisi lain, gerakan perlawanan dibangun orang nomor satu Kabupaten Bolaang Mongodow Timur (Boltim) itu. Teranyar, nama rival politik sang incumbent ikut terseret dalam pusaran.  

Tim Pemenangan pasangan calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Sehan Landjar-Rusdi Gumalangit (SERU), berencana melaporkan dugaan pencemaran nama baik terhadap Sehan Landjar yang dilakukan Welly Rompas Cs, warga Desa Bangunan Wuwuk, Kecamatan Modayag Barat, Kamis (1/10) petang.

Genderang perang itu ditabuh Tim Pemenangan Sehan–Rusdi, Kamis (1/10) kemarin. Materi yang disampaikan Welly Cs ke Mapolres Bolmong yang sempat dimuat media massa dinilai terbalik dari fakta sebenarnya.

“Apa yang dimuat pada beberapa media online dan koran adalah bohong besar. Laporan tidak sesuai fakta di lapangan. Kami berniat segera melapor balik atas dugaan pencemaran nama baik yang dibuat Welly Rompas Cs,” tegas Ketua Tim Pemenangan Sehan–Rusdi, Yusra Alhabsyi.
Bukti – bukti pendukung telah disiapkan demi menguatkan laporan tersebut.

ADA CALON KEPALA DAERAH LAIN TERLIBAT
Aroma keterlibatan lawan politik dalam kasus laporan dugaan penganiayaan Bupati Boltim diendus. Laporan balik ke pihak berwajib  
pun tengah disiapkan terkait indikasi keterlibatan calon kepala daerah lain dalam masalah ini.

“Kami punya cukup bukti untuk menguatkan laporan ini. Apalagi menurut keterangan para saksi saat di tempat kejadian, laporan yang mereka buat sarat rekayasa. Namun begitu, kita menyerahkan sepenuhnya masalah ini ke pihak berwajib,” tutur  Yusra Alhabsyi.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulawesi Utara (Sulut) serta aparat keamanan didesak segera mengusut aktor intelektual di balik dugaan pencemaran nama baik tersebut. Apalagi, laporan Welly Cs di Polres Bolmong,  dianggap jadi pemicu insiden saling serang antar warga Bangunan Wuwuk dengan Bongkudai, Kamis (1/30) dini hari.

“Kita harap Polres Bolmong mampu menguak siapa dalang dalam masalah ini. Begitu juga dengan Bawaslu Sulut agar tidak tutup mata dengan kinerja Panwaslu Boltim selama ini,” tandas politisi PKB Bolmong Raya tersebut.

SEHAN LANJAR TERANCAM DIJERAT PASAL PERLINDUNGAN ANAK
Tragedi penganiayaan yang diduga dilakukan oleh Bupati Boltim, Sehan Lanjar, terhadap Noval Aril Sumendap (17), warga setempat,  terus berlanjut. Kini, Bupati Landjar terancam akan dikenakan pasal perlindungan anak.

Kepala Kepolisian Resort (Polres) Bolmong, AKBP William Simanjuntak, saat bersua dengan para pewarta menegaskan, saat ini pihaknya masih melihat letak perkara tersebut. Keterangan pelapor belum dikuatkan keterangan saksi-saksi lain. Sehingga, pihaknya belum bisa memberikan banyak informasi terkait hal ini.

Saat ditanya terkait pasal yang diterapkan dalam kasus tersebut, Simanjuntak mengaku jika terbukti adanya penganiayaan maka akan diterapkan pasal 351 KUHP. “Kalau memang itu pelapor terbukti ada dipukul, ditampar, maka akan kita kenakan pasal KUHP, 351,” katanya.
Disinggung adanya kemungkinan terlapor terjerat undang-undang perlindungan anak, Simanjutak memastikan hal itu memungkinkan, sebagimana umur pelapor yang masih di bawah umur.

“Umur pelapor 17 tahun ya, jadi bisa dikatakan di bawah umur. Kalau memang terbukti, bisa dikenakan dua pasal. Tapi jadi masalahnya pelaku belum kita ketahui secara pasti,” ujar Simanjuntak.

Tuduhan dari pelapor menyebutkan pelaku adalah Bupati Boltim. Namun penyidik butuh saksinya. “Kita yakini itu ada saksinya. Kenapa, karena itu dilakukan di area terbuka dan situasi pada saat itu banyak orang,” paparnya.

Di sisi lain, terkait kata ‘kom-kom ci’ yang ditengarai menjadi pemicu kasus tersebut, Simanjutak mengatakan hal itu perlu ditelaah lagi. 

”Kom-kom ci itu kan bahasa daerah ya? Tentu kita harus mintakan terjemahan aslinya atau yang bisa dipahami maknanya apa. Kalau memang itu berupa penghinaan maka akan kita kenakan juga pasal penghinaan,” jelasnya.

Kasat Reskrim Polres Bolmong, AKP Anak Agung Gede Wibowo Sitepu SIK, menjelaskan saat ini pihaknya masih mengumpulkan saksi-saksi yang bisa menguatkan keterangan pelapor. “Masih mengumpulkan saksi-saksi lain,” singkat Sitepu.

Ditanya soal kapan rencana penyidik melakukan pemangilan kepada terlapor, Sitepu memastikan bahwa pemanggilan akan dilakukan dalam waktu dekat. “Sejauh ini sudah ada dua saksi yang diperiksa,” terangnya.

KRONOLOGI PERISTIWA
Malang nasib yang menimpa Noval Ariel Sumendap (17), warga Bangunan Wuwuk, Kecamatan Modayag, Kabupaten Boltim. Rabu (30/9), sekitar pukul 18.00 Wita, ia berjumpa kesialan itu. Noval diduga dianiaya oleh Bupati Boltim, Sehan Lanjar, saat Sehan sedang terlibat adu mulut dengan warga setempat.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, kejadian bermula saat Welly Rompas bersama istrinya Poppy Mokoginta, hendak pulang ke rumah usai dari usaha miliknya dengan mengendarai mobil jenis L300. Saat melintasi jalan raya, Welly terhenti karena ada rombongan Bupati Boltim dari arah Modayag menuju Kotamobagu. Saat itu, ramai warga di samping jalan ingin menyapa Eyang (Sapaan akrab Bupati Boltim).

Ratusan pasang mata itu pun beramai-ramai melabaikan ‘salam tiga jari’, angka yang menjadi nomor urut Eyang dalam pencalonan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Boltim Desember mendatang. Pun begitu dengan Welly beserta istrinya. Keduanya turut melambaikan salam tiga jari.
Saat melewati pasangan suami istri paruh baya tersebut, tiba-tiba saja Eyang berhenti dan langsung menuju ke arah kendaraan Welly dan melontarkan nada acaman. Karena Eyang menduga Welly orang yang berteriak istilah ‘kom-kom ci’ terhadapnya.

“Saya tidak tahu alasan apa, tiba-tiba Eyang datang menghampiri saya dan istri saya dan langsung mengeluarkan kata-kata ancaman. Bupati bilang, ‘awas kamu nanti, kita so kanal pa ngana’,” ungkap Welly, saat mengadu di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Bolmong.

Tak berselang lama, saat Eyang mengancam Welly, Satgas yang mendampingi calon kepala daerah itu, ikut mendekat dan hendak memukul Welly. Melihat kejadian itu, warga sekitar yang bertepatan berada di samping kendaraan milik Welly, langsung memisahkan puluhan Satgas tersebut. Bahkan seorang saksi mata, Masri Rompas, yang sempat melerai aksi tersebut sempat terkena bogem mentah dari Satgas Eyang.
“Ia, saya dipukul dari arah belakang saat melerai para Satgas yang hendak memukul Welly,” tuturnya.

Suasana pun makin ricuh. Puluhan warga terlihat saling membantu melerai para Satgas yang sudah dikuasai emosi. Nah, saat itulah Noval, bocah ingusan yang awalnya hanya ingin melihat kedatangan rombongan Bupati, kena tamparan dari Eyang.

Noval saat dimintai keterangan mengaku, dirinya saat kejadian itu berada di samping kanan mobil milik Welly. Tiba-tiba tanpa sebab, Eyang langsung menampar pipi kanan Noval secara berulang.

“Saya tidak tahu alasan apa Bupati menampar saya. Saya merasa keberatan dengan sikap Bupati tersebut. Makanya saya melaporkan kejadian itu ke pihak yang berwajib,” aku Noval, sembari memperlihatkan bagian kanan wajahnya yang bengkak.

Noval yang sedang mengenyam pendidikan di SMTK Elsaday Moat tersebut, berharap agar apa yang menimpa dirinya bisa mendapat perlakuan hukum yang adil. “Saya berharap Polisi bisa menuntaskan masalah ini. Saya meminta keadilan,” harapnya.

‘KOM-KOM CI’ DISINYALIR JADI PEMANTIK
Sejumlah warga mengaku sangat menyesalkan kejadian penganiayaan yang dilakukan Bupati Boltim terhadap rakyatnya. Kepada Media Sulut, mereka mengungkapkan jika cerita ‘kom-kom ci’ yang diduga memancing emosi Bupati sehingga melakukan aksi tersebut.

“Sayang, seorang Bupati sampai melakukan tindakan seperti itu. Kepada rakyatnya lagi dan di depan banyak orang. Bupati bilang, om Welly kata ada bataria kom-kom ci. Makanya dia turun dari oto kong langsung bataria pa om Welly,” ungkap saksi mata yang masih enggan namanya ditulis.

Kisah ‘kom-kom ci’ diakui kini telah menjadi pembicaraan masyarakat Boltim. “So jadi rahasia umum itu. Ceritanya dimulai dari Bupati sendiri. Katanya, saat kontraktor-kontraktor perempuan di Boltim datang meminta proyek kepadanya, dorang langsung duduk di pala-pala pa Bupati. Beliau bilang, dia kan laki-laki normal jadi dia lei langsung ba ramas,” jelas sumber, sembari memperagakan kepalan tangan terbuka-tertutup, yang oleh masyarakat kemudian disebut dengan istilah ‘kom-kom ci’.

“Kom-kom ci kwa itu biasa kalu torang bermain pa anak-anak kong manyanyi kom-kom ci sambil buka-tutup tu tangan,” sambungnya menjelaskan.

Sejumlah warga yang hadir di Polres Bolmong turut membenarkan kisah ‘kom-kom ci’ kini memang ramai jadi buah bibir warga Boltim. (media sulut)



Sponsors

Sponsors