KEBAKARAN HUTAN TEROR SULUT


Manado, ME

Energi el-nino, mulai merambah jazirah utara Pulau Selebes. Ribuan hektar hutan dan lahan, membara. Kebakaran hebat terpantau di kawasan hutan Gunung Lokon, Gunung Soputan dan Gunung Klabat. Tiga gunung ini terlihat ganas dengan balutan ‘Si Jago Merah’. Nyiur Melambai genting. Manuver Penjabat Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), ditunggu.

Data yang diperoleh, sekira 1927 Hektar (Ha) lahan dan hutan di Sulut, terbakar. Kerusakan hutan terparah melanda kawasan hutan lindung Gunung Lokon hingga Hutan Produksi Terbatas (HPT) Tatawiran yang berada pada posisi bersebelahan. Ratusan hektar hutan beserta ekosistemnya, menguap. Yang tersisa hanya asap tebal yang mengepul mencemari udara. Demikian juga yang terjadi di kawasan hutan Gunung Soputan dan Gunung Klabat.

Di beberapa daerah, beragam manuver telah dijabal pemerintah. Misalnya, mengerahkan setiap potensi yang dimiliki untuk memadamkan bara api. Tak tanggung-tanggung, kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian, aparatur pemerintah hingga masyarakat, turut dilibatkan untuk bersinergi memadamkan kobaran api. Bencana kebakaran yang melanda beberapa kawasan hutan ini, dianggap yang terparah sepanjang sejarah.

Untuk menyikapi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut telah mengeluarkan himbauan agar pemerintah daerah segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Langkah ini pun langsung ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan melakukan rapat darurat penanganan bencana.

Disisi lain, dampak kemarau panjang dirasakan dalam wujud penurunan debit air bersih. Bahkan, beberapa kabupaten dan kota, krisis air bersih. Sementara itu, jaringan irigasi mengering dan membuat ribuan hektar sawah tak berproduksi alias mandul. Teror el-nino dinilai mengancam sisi perekonomian warga Sulut. Kondisi ini ‘memaksa’ Penjabat Gubernur Dr Soni Sumarsono untuk kerja ekstra. Sebab, masyarakat menanti terobosan dan kebijakan populis birokrat ulung jebolan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) ini.

KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI SEJUMLAH DAERAH
Kabupaten Minahasa dikepung ribuan titik api. Jika musim kemarau terus berlanjut, titik-titik api disejumlah wilayah, berpotensi bertambah. Selang tiga hari terakhir, terinformasi sedikitnya enam kecamatan mengalami kebakaran hutan. Misalnya, hutan Tombulu, Pineleng, Tataaran Tondano Selatan, Langowan Barat, Tompaso Barat dan Kawangkoan Barat. Terparah terjadi di kawasan hutan lindung pinus Gunung Soputan atau biasa disebut base camp oleh para pendaki Gunung Soputan. Daerah ini terletak di antara dua kecamatan, yaitu Kecamatan Langowan Barat dan Kecamatan Tompaso Barat. Ketua Kelompok Pencinta Alam Palrangow Langowan, Jemmy Acah Tabaluyan, sekira 60 Ha lahan hutan lindung pinus yang terbakar sejak, Selasa (22/9) sekira pukul 14.00 Wita.

Camat Langowan Barat, Rouldy Mewoh menjelaskan, meminimalisir agar kebakaran hutan tidak meluas, pihaknya sudah mengerahkan aparat Desa Tumaratas Satu dan Tumaratas Dua bersama dengan masyarakat untuk meninjau langsung lokasi dengan mencoba meminimalisir kebakaran."Memang untuk menuju lokasi cukup jauh sekira 5 KM, namun kami terus berupaya kebakaran lahan tidak akan terus meluas. Minimal api tidak akan menjalar hingga kawasan hutan lindung kelendey," tuturnya.

Di Kecamatan Tombulu dijumpai 10 titik lokasi kebakaran lahan hutan yang meliputi sejumlah desa seperti Koka, Kembes, Kamangta dan Tombuluan. Menurut Camat Tombulu, Yoris Tumilantow dari 10 titik lokasi kebakaran, total luas lahan yang terbakar mencapai 6 Ha.

Di Kecamatan Tondano Selatan, kebakaran lahan terjadi di Kelurahan Tatataaran Satu dan Tataaran Dua."Memang luas lahan yang terbakar tidak terlalu besar sekira 1 hingga 2 hektar. Namun sudah dipadamkan oleh pemerintah setempat dibantu oleh aparat kemanan serta masyarakat," terangnya.

Sementara itu di wilayah Pineleng, kebakaran hutan Warembungan terus terjadi. Camat Pineleng, Moudy Pangerapan menjelaskan, pihaknya sementara mengupayakan langkah antisipasi agar kebakaran hutan tidak meluas hingga ke pemukiman warga.

Kepala Dinas Kehutanan Minahasa Ir Wenny Talumewo Msi menjelaskan bahwa saat ini pihaknya sementara fokus mengatasi agar api tidak terus merambat lebih besar dengan berkoordinasi dengan semua pihak terkait. Untuk wilayah hutan lindung Pinus ditutup sementara untuk pendakian para pencinta alam.

"Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terus terjadi. Namun, bagi para relawan untuk membatu meminimalisir kebakaran hutan silakan saja," kuncinya.

Sementara di Kota Tomohon ratusan hektar kawasan hutan Gunung Lokon, juga terbakar. Kebakaran hebat melanda Kota Bunga. Kali ini, Si Jago Merah beraksi di kawasan hutan lindung Gunung Lokon. Diperkirakan sekira 100 Ha, rata tanah. Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dihutbun) Fereydi Kaligis menjelaskan, wilayah yang sudah terkena dampak kebakaran yakni wilayah lereng Lokon di Kelurahan Kakaskasen, Kayawu, Walian sampai Taratara.

Kebakaran hutan awalnya terpantau, Rabu (23/9) sekira pukul 16.00 Wita. Untuk memadamkan kobaran api, masyarakat disekitar lokasi bersama bersama jajaran TNI, Kepolisian dan jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), melakukan aksi pemadaman. Selain di Gunung Lokon, titik api juga tersebar di sejumlah kecamatan. Seperti di Kelurahan Tinoor dan Kinilow Kecamatan Tomohon Utara dan Kelurahan Telete Dua Kecamatan Tomohon Tengah. Namun, berkat kesigapan semua pihak, kobaran api, Rabu (23/9), berhasil ‘dijinakkan’.

Untuk menginventalisir titik api dan upaya penanggulangan, Walikota Jimmy F Eman SE Ak, mengumpulkan seluruh jajaran Pemkot Tomohon untuk berkontribusi dalam penanganan bencana kebakaran dan krisis air bersih.“Warga diminta waspada dengan kondisi ini. Berhati-hatilah dengan api,” imbuh Eman.

Di Kabupaten Minahasa Utara (Minut), sekira 40 Ha hutan Gunung Klabat, hangus. Kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan sebagian lahan perkebunan di kaki gunung, kian menakutkan. Hingga Kamis (24/9) siang, sekira 240 Ha yang terbakar. Rinciannya, sekira 40 Ha hutan Klabat dan 200 Ha lahan perkebunan. Pihak pemadam kebakaran dinilai kesulitan menghentikan api, karena akses jalan tidak ada.

Mobil Damkar hanya bisa di parkir di kawasan Wisata Kaki Dian."Kami kesulitan karena akses jalan untuk dilewati kendaraan menuju bukit tidak ada. Petugas sudah diinstruksikan lakukan pemadaman se bisa mungkin," jelas Kadis Damkar Minut Arnoldus Didi Wolajan. Kondisi ini membuat Pemkab Minut kewalahan untuk memadamkan kobaran api sehingga butuh bantuan TNI.

Hal itu diakui Plt Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Minut Nico Macawalang.“Upaya pemadaman kebakaran hutan sudah dilakukan sejak 25 Agustus lalu, namun angin kencang membuat api menyebar kemana-mana. Apalagi musim kemarau membuat rumput mengering sehingga api merambat dengan cepat,” akunya.

Sedikitnya ada 60 personel dari Koramil Airmadidi, Dimembe dan Kauditan juga ikut membantu untuk memadamkan api agar tidak merembet ke rumah warga.“Kami menggunakan alat seadanya seperti bambu dan kayu, juga dibantu eskavator dari Dinas Pekerjaan Umum untuk melakukan penyekatan yaitu memberi batas agar api tidak merambat lebih jauh,” beber Danramil Airmadidi Mayor Achmad Janis.

Selain daerah-daerah itu, kebakaran hutan juga melanda kawasan Cagar alam Tangkoko, Kota Bitung. Sekitar 150 Ha wilayah ini dihantam Si Jago Merah. Selain itu, ada 2 Ha kawasan hutan Margasatwa Karakelang Selatan Kabupaten Talaud, sempat dikuasai api. Di Ibu Kota Provinsi Sulut, wilayah Gunung Tumpa Manado, sempat terbakar. Akibatnya, hampir 30 Ha lebih kawasan ini ludes.

PEMERINTAH MINTA TOKOH AGAMA DOAKAN SULUT
Bencana kebakaran hutan yang melanda Bumi Nyiur Melambai, langsung disikapi pemerintah daerah. Walikota Manado Dr GS Vicky Lumentut meminta dukungan tokoh-tokoh agama di Kota Manado untuk mendoakan Kota Manado. "Saya meminta seluruh tokoh agama untuk berdoa meminta hujan," kata Lumentut, belum lama. Ia mengakui, bencana kekeringan sudah mengganggu kehidupan masyarakat Manado. Dia juga berharap masyarakat waspada dengan bahaya kebakaran.

Senada dikatakan Walikota Tomohon Jimmy Feidie Eman SE Ak. Walikota meminta seluruh tokoh agama dan daerah ini untuk mendoakan Kota Tomohon sehingga terhindar dari bencana. Selain itu, berdoa meminta hujan agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkan air.”Kita harus berdoa meminta kepada Tuhan agar supaya turun hujan. Semuanya sesuai kehendak Sang Pencipta,” lugasnya.

USUT PELAKU PEMBAKARAN HUTAN DAN LAHAN
Kebakaran yang melanda kawasan hutan dan lahan di Sulut, harus diselidiki. Oknum-oknum pelaku yang diduga terlibat melakukan pembakaran, wajib dikenakan sanksi tegas.

Demikian pemerhati pemerintahan dan hukum Sulut, Rolly Toreh SH. Dijelaskannya, kebakaran huta telah menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Selain itu, berpotensi menyebabkan kerugian materil yang tidak ternilai.”harus diusut dan diselidiki. Selanjutnya, diberikan sanksi tegas sesuai aturan yang berlaku di negara ini,” kuncinya, Kamis (24/9).

Jelas Toreh, kebakaran hutan dan lahan telah menimbulkan polusi udara yang berpengaruh pada pemanasan global (glolar warming).”Dampak asap bukan hanya dirasakan warga di sekitar lokasi kebakaran, namun masyarakat pada umumnya. Jika dibiarkan, maka habis sudah kawasan hutan kita yang merupakan lumbung oksigen,” urainya.

Tentu saja, langkah yang diambil aparat harus mengacu pada ketentuan hukum.”Jika terbukti, silahkan diproses hingga pengadilan dan mendapat sanksi hukum.”

Selain itu, langkah pro aktif pemerintah dalam mengkampanyekan gerakan konservasi hutan dan lahan lewat jalur penghijauan atau reboisasi. Termasuk, sosialisasi larangan pembakaran lahan dan hutan.”Pemerintah hingga tingkat kelurahan dan desa harus menyampaikan itu secara berkelanjutan. Dengan begitu, hutan kita akan terselamatkan,” jabarnya.

Ia juga meminta Penjabat Gubernur Sulut Dr Soni Sumarsono untuk segera berkoordinasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulut hingga pemerintah daerah, mencari solusi penanganan dampak kebakaran hutan ini.”Ini masuk tugas perdana pak Gubernur. Kami berharap persoalan ini bisa mendapat jalan keluar secepatnya. Kami masyarakat akan mendukung setiap langkah pemerintah,” tutur Toreh.

GUBERNUR BARU DESAK BUPATI/WALIKOTA PROAKTIF
Pejabat Gubernur Sulut, Dr Soni Sumarsono bereaksi menyikapi terjangan bencana kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah kabupaten kota di Sulut, terlebih khusus di wilayah Gunung Lokon, Soputan dan Klabat.

Kamis (24/9), Sumarsono langsung turun memantau lapangan sekaligus menggelar rapat terbatas dengan Forkompimda Sulut  serta sejumlah pimpinan daerah yang terkait dengan peristiwa bencana kebakaran tersebut.

Pertemuan mendadak itu digelar di Rumah Makan Sineleyan Tomohon, yang dihadiri, Kapolda Sulut, Kasrem, Danlanud, Danlanusri, Walikota Tomohon, Sekda Minsel, Kadis Kehutanan Minahasa dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

Dalam kesempatan itu, Sumarsono mendesak pemerintah daerah yang wilayahnya terkena bencana kebakaran untuk segera menetapkan status darurat bencana. Itu agar pemerintah setempat dapat menggunakan dana APBD dalam melakukan penanganan bencana.

"Sebab dana APBD sulit dicairkan bila daerah belum menetapkan status darurat bencana. Ini harus cepat disikapi," lugas Sumarsono, melalui  Karo Humas dan Pemerintahan Sulut, Dr Jemmy Kumendong kepada harian ini, Kamis tadi malam.

Pemda juga diharapkan dapat melibatkan para ormas dan sukarelawanuntuk membantu menyetop penyebaran api. "Intinya pemda diminta untuk lebih proaktif," katanya.

Tak hanya itu, Sumarsono juga telah meminta bantuan secara langsung kepada pimpinan  TNI/Polri di Sulut  untuk dapat menambah personil  dalam penanganan bencana kebakaran itu.  "Dan itu telah disetujui oleh pimpinan TNI/Polri di Sulut," beber Kumendong.

Gubernur pun mengajak masyarakat Sulut untuk peduli dengan situasi dan kondisi serta tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan. 'Termasuk untuk tidak membuang puntung rokok secara sembarangan. Kondisi cuaca yang panas dan berangin seperti saat ini, sangat rawan menyebabkan kebakaran," paparnya.

"Besok (kemarin), Gubernur akan melakukan rapat koordinasi dengan beberapa pimpinan daerah yang wilayahnya terkena bencana kebakaran," kuncinya.(media sulut)



Sponsors

Sponsors