Foto: CEP/GSVL.
PDIP PRIMADONA
Keder Beringin dan Bintang Mercy Menyeberang
Manado, ME
Pesona Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memukau politisi-politisi bumi Nyiur Melambai. Hansrat untuk menunggangi banteng moncong putih di arena perebutan kursi top eksekutif tak terbendung. Para ‘jagoan’ yang berteduh di bawah Pohon Beringin hingga ‘juru kunci’ Bintang Mercy pun berebut kursi bersama kader internal PDIP. Penghuni ‘partai besar’ itu bahkan ada yang rela meninggalkan ‘kandangnya’ demi menunggangi sang primadona.
Sederet nama fenomenal di pentas politik Sulawesi Utara (Sulut) kini membidik PDIP untuk menjadi kendaraan politik di pentas pesta demokrasi 5 tahunan. Figur-figur potensial yang dinilai publik kans menjadi pemenang dan menduduki kursi top eksekutif di 7 Kabupaten/Kota yang akan menghelat pemilihan kepala daerah (Pilkada), beramai-ramai mendekati partai besutan Megawati Soekarnoputri. Tak sedikit politisi eksternal PDIP yang ikut berlomba.
Komunikasi intens dibangun bersama tokoh-tokoh ‘kunci’ di PDIP. Tak sampai di situ, keseriusan politisi eksternal untuk maju bersama banteng, dibuktikan secara langsung dengan mendaftar sebagai bakal calon Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota di Sekretariat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Sulut.
CEP DAN GSVL SIAP MENDAFTAR
Politisi handal Sulut, Godbless Sofcar Vicky Lumentut (GSVL) dan Christiany Eugenia Paruntu (CEP), dikabarkan siap mendatangi markas PDIP Sulut di Manado, Kamis (21/5) hari ini. Niat petahana di Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) itu diungkapkan langsung Koordinator Tim Penjaringan dan Penyaringan DPD PDIP Sulut, Franky Wongkar.
“Kita sudah putuskan dalam rapat tim penjaringan DPD PDIP Sulut, bahwa yang lain, yang minta izin, misalnya CEP dan GSVL, itu nanti besok (hari ini, red),” kata Wongkar membenarkan.
Sejumlah nama yang sudah diundang PDIP namun tidak hadir tanpa pemberitahuan, dipastikan tak akan dibukakan pintu lagi.
“Yang tidak ada pemberitahuan resmi ke tim, sudah diputuskan tidak akan diberi kesempatan lagi. Sampai saat ini, yang memberikan pemberitahuan resmi ke kami hanya GSVL dan CEP. Alasannya, karena saat diundang, mereka punya kegiatan penting lain yang harus diikuti. Makanya kita izinkan lagi. Soal waktu akan kita koordinasi dengan mereka,” jelas Sekretaris DPD PDIP Sulut itu.
Dalam proses penjaringan bakal calon Bupati/ Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota kali ini, PDIP menjalankan mekanisme ‘terbuka namun tertutup’.
“Jadi PDIP terbuka bagi siapa saja namun yang bisa datang mendaftar hanya mereka yang menerima undangan secara resmi dari tim penjaringan,” terang Ketua Fraksi PDIP di DPRD Sulut tersebut.
Nama-nama yang masuk dalam ‘radar’ PDIP sendiri terjaring dari pengurus Ranting, Pimpinan Anak Cabang (PAC) hingga Dewan Pimpian Cabang (PAC), kemudian diusulkan DPC ke Tim Penjaringan DPD PDIP Sulut.
“Setiap bakal calon yang hadir, diberi waktu tiga hari untuk memenuhi segala persyaratan yang diminta. Hingga hari ini (kemarin, red), sudah banyak yang kembalikan formulir, 60-70 persen,” aku Wongkar.
IKLIM INTERNAL TAK KONDUSIF, JAGOAN GOLKAR MERAPAT KE PDIP
Beragam alasan terlontar dari para politisi eksternal PDIP ketika ditanya alasan memilih banteng hitam sebagai tunggangan dalam pertarungan di Pilkada 9 Desember nanti. Mulai dari gejolak di internal partai yang menaunginya hingga pengakuan akan ketangguhan PDIP.
Kondusifitas di internal Golkar membuat arah langkah kader kian tak pasti. Sejumlah petarung dari Partai Golkar menegaskan keinginannya untuk diusung PDIP. Jika Bupati Minsel, CEP jadi berlabuh, ia akan menyusul langkah figur fenomenal dari Manado, Hanny Joost Pajow (HJP) dan ‘kuda muda’ potensial dari Kota Bitung, Cindy Wurangian.
“Ini merupakan sebuah pilihan bagi seorang HJP. Memang dalam kondisi sekarang para kader Golkar dibingungkan dengan kondisi yang jujur kami katakan bahwa saat ini Golkar pergumulan. Masih tidak kondusif. Dalam artian Golkar sekarang bukan soal pada ketua umumnya tapi apakah Golkar bisa mengusung pasangan calon atau tidak,” ungkap politisi Golkar, HJP usai mendaftar di PDIP Sulut, Senin (18/5).
“Golkar dengan PDIP sebenarnya tidak ada persoalan idiologis. Jadi dengan kami mendaftar di PDIP, tentu kami siap dengan segala konsekwensi,” tandasnya.
Ditanya apakah dirinya siap ‘menyeberang’ ke PDIP jika diakomodir sebagai jagoan untuk diusung dalam Pilkada nanti, HJP mengaku siap.
“Ini murni keinginan pribadi. Dengan teman-teman di PDIP selama ini saya melakukan komunikasi dengan baik. Dengan teman-teman di partai lain juga tapi saya memilih datang di PDIP,” tutur HJP.
Menjawab pertanyaan apakah ia mendapat suport dari internal Partai Golkar untuk maju melalui PDIP, diakui HJP jika hal itu sebenarnya yang ia harapkan.
“Sebenarnya satu kerinduan, siapapun dia yang penting target tercapai. Dengan atau tanpa partai Golkar kalau mereka ingin mensuport HJP, kerinduan itu yang utama. Bukan persoalan partai politik tapi apakah bisa memenangkan pertarungan,” jelasnya.
Personil Komisi IV DPRD Sulut itu memastikan akan fokus meraih sukses di PDIP. Namun alternatif lain juga siap ia tempuh agar bisa bertarung di Pilkada nanti.
“Kali ini kami masih fokus di PDIP dengan pengertian apa yang kami lakukan akan kami upayakan untuk berhasil. Kalau tidak, niat kami untuk menjadi orang yang paling melayani di Kota Manado sudah bulat. Jadi kalau tidak diakomodir, kami sudah harus mencari langkah-langkah strategis lain, agar supaya kami bisa diusung,” terangnya.
“Entah dengan partai gabungan atau dengan partai lain. Tapi target kami, mudah-mudahan Tuhan berkenan, HJP bisa diusung PDIP,” sambungnya.
“Saya konsisten hingga saat ini papan satu. Orang yang paling melayani berarti papan satu. Kalau diusung papan dua, itu sesungguhnya bukan target. Tentu harus dibicarakan sesuai dengan target,” kunci Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Sulut ini.
Komitmen untuk PDIP juga ditegaskan Cindy Wurangian. Segala konsekwensi akan ditanggung anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Sulut tersebut, apabila PDIP mengusungnya sebagai calon Walikota Bitung.
“Saya siap untuk berkomitmen apabila dipercayakan PDIP. Semua konsekwensi, termasuk persyaratan yang diajukan oleh partai akan saya penuhi,“ lugasnya.
Apresiasi pun dilontarkan ke PDIP yang sudah memberi kehormatan bagi bakal calon eksternal. “Saya sangat berterima kasih atas undangan yang diberikan kepada saya untuk bakal calon dari PDIP. Ini penghargaan yang luar biasa dan saya berharap dapat diusung oleh PDIP untuk calon Walikota dari PDIP,“ kunci Wurangian.
BERINGIN SULUT RESTUI KADERNYA ‘MASUK’ PDIP
Respon positif mengalir dari pimpinan Partai Golkar Sulut terhadap niat kadernya untuk berjalan bersama PDIP menuju perebutan kursi kepala daerah. Restu dan suport secara langsung bahkan telah diberikan.
“Beberapa kader Golkar memang diundang PDIP dan saya katakan, hargai dan hormati undangan itu. Itu berarti kader-kader Golkar masih diperhitungkan PDIP. Kami berterima kasih karena kader-kader Golkar diundang PDIP,” beber Ketua DPD Partai Golkar Sulut, Stefanus Vreeke Runtut.
Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Sulut itu mengaku jika kondisi yang dialami Golkar kini memang ikut menggoyang kuda-kuda Beringin Sulut dalam menghadapi Pilkada serentak.
“Tapi kader-kader Golkar itu cerdas. Mereka tahu memilih jalan yang harus diambil demi mewujudkan perjuangan meraih kesuksesan,” kunci mantan Bupati Minahasa 2 periode ini.
KADER DEMOKRAT 'BEREBUT' KURSI PDIP
Berhembus kabar GSV Lumentut tak akan berseteru dengan Harley Mangindaan di medan laga pemilihan Walikota Manado. ‘Tekanan’ partai memaksa kedua incumbet tak ‘bercerai’. Namun informasi lain menyeruak jika harapan itu sulit terwujud. GSVL pun memastikan siap mendaftar di PDIP.
Jika fakta itu terjadi, GSVL akan menempuh jalan seperti yang dipilih kader Partai Demokrat lainnya, Hengky Honandar dan Netty Agnes Pantow (NAP).
“Politik itu kan dinamis. Kemudian, sekian banyak politisi di Sulut kan tidak semua yang dapat peluang seperti ini. Lepas dari kegiatan politik, sebagai orang percaya saya yakin ini dari Tuhan. Karena di luar rencana saya. Di luar apa yang saya pikirkan selama ini dan ini adalah rencana Tuhan,” jawab NAP, ketika ditanya alasan memilih PDIP sebagai tempat ‘berlabuh’, Rabu (20/5).
Sebagai kandidat eksternal, segala konsekwensi siap dihadapi. “Ada pepatah mengatakan, ’di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Partai Demokrat di Minut hanya punya 4 kursi. Untuk mengusung calon, dia harus 6. Tentu kita harus melakukan komunikasi-komunikasi. Alangkah terbukanya ruang ini ketika kita belum melakukan komunikasi, kita sudah terundang,” papar istri dari Ketua DPC Partai Demokrat Minut ini.
“Proses-proses politik di PDIP secara pribadi saya harus mengikuti itu. Ini baru babak awal. Dan sambil secara pribadi saya berharap PDIP mau menerima Demokrat Minut untuk menjadi teman dalam rangka mengusung calon. Baik Bupati maupun Wakil Bupati di tahun 2015 ini,” sambung salah satu politisi terbaik dari Tanah Klabat.
Nyanyian senada terungkap dari petarung Partai Demokrat lainnya, Hengky Honandar. “Saya berterima kasih ke DPC PDIP Kota Bitung di mana nama saya masuk dalam tim penjaringan bakal calon dari PDIP. Sikap politik saya, apabila nanti melalui proses yang dilaksanakan sampai ke tahap akhir, semua komitmen tentunya akan saya penuhi,” pungkas adik Walikota Hanny Sondakh yang juga pimpinan DPRD Kota Bitung itu. (rikson karundeng)



































