'MURKA KARANGETANG'


Siau, ME

Karangetang mengamuk. Taburan ancaman menyengat warga sekitar gunung teraktif di dunia. Dentuman dan gemuruh keras menggoyang lumbung kenari.  Api Siau memuntahkan ribuan kubik abu vulkanik disertai gulungan lahar panas. Warga pun kocar-kacir merisik keselamatan. Siau kembali mencekam.

Aktivitas vulkanik Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), kembali meninggi, Kamis (7/5). Klimaksnya letusan hebat plus lahar panas meluncur deras dari kawah gunung yang tren dengan julukan Api Siau. Teranyar, murka Karangetang menyasar warga Siau yang berdomisili di kaki gunung seperti Kecamatan Siau Timur (Sitim). Takut dengan amukan awan panas, warga Sitim ngotot menerobos zona berbahaya dan migrasi ke daerah aman bencana di Siau Timur Selatan. Warga dirundung ketakutan.

“Sejak beberapa malam, gunung telah mengeluarkan suara-suara dentuman dan tadi pagi (kemarin, red) mulai kelihatan asap tebal dari gunung yang terus menyebar. Disamping itu, abu vulkanik juga semakin banyak. Kami khawatir dengan awan panas yang bisa turun sampai ke pemukiman,” ungkap sejumlah warga Sitim.

Kekhawatiran warga, ada pada luncuran ‘wedhus gembel’. Alasannya cukup mendasar. Akibat awan panas, selalu menyebabkan korban jiwa. Misalnya, peristiwa bulan Agustus tahun 2010. Satu keluarga hilang misterius tak berbekas karena terindikasi ‘disapu’ awan panas.

“Yang kami ketahui awan panas itu bergerak cepat dengan panas mencapai ratusan derajat celcius, makanya sangat menakutkan,” terang warga.

Mereka mendesak pemerintah bertindak cepat melakukan evakuasi bagi yang masih berada di zona berbahaya, sehingga terhindar dari ancaman Gunung Karangetang, contohnya awan panas dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

Pasca letusan besar, kondisi beberapa kampung di wilayah Sitim mencekam, karena dibungkus abu vulkanik. Kesibukkan masyarakat terhenti. Dominansi sebaran abu yakni di Kampung Karalung sampai dengan Kampung Kanang. Untuk sementara waktu, warga yang berdomisili di kampung-kampung ini memilih turun ke Kota Ulu menghindari banyaknya guguran abu vulkanik.

“Semua warga sudah turun ke Ulu, karena abu gunung cukup banyak,” tutur H Malamtiga, warga Kampung Kanang.

Koordinator Pengamat Gunung Berapi di Kampung Salili, Yudia Tatipang menjelaskan, arah luncuran awan panas terjadi di sejumlah lokasi.

“Ada di Dusun Basaha, Luwaha dan yang paling banyak luncuran di Kelurahan Bebali. Alat deteksi Seismograf juga sudah sulit mendeteksi aktivitas gunung misalnya kegempaan dan tremor karena sering overload," urai Tatipang.

Ia berharap warga yang berdomisili di kawasan rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan.

”Dengan kondisi gunung seperti saat ini, potensi letusan masih bisa terjadi. Oleh sebab itu, hindari kawasan-kawasan yang menjadi langganan guguran abu vulkanik dan luncuran lahar panas. Kami tetap fokus melakukan pengawasan,” tuturnya.

 
RIBUAN WARGA DIEVAKUASI
Geliat Gunung Karangetang memaksa ribuan warga yang terletak di sekitar gunung dievakuasi. Ancaman abu vulkanik, lahar bahkan awan panas ditakuti merembet ke pemukiman warga. Langkah sigap dilakukan pemerintah dengan mengambil cara evakuasi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sitaro, Charlton B Wuaten menjelaskan, pasca letusan pihaknya telah melakukan evakuasi bagi warga di Dusun Dalendes dan Kulu. Namun saat ini dialihkan semuanya Posko Lapangan ke Kantor Kecamatan.

“Termasuk juga dengan warga di Kelurahan Bebali semua telah dievakuasi. Museum daerah juga dijadikan lokasi evakuasi sementara,” tandas Wuaten.

Ia menuturkan, jalur Ulu-Ondong sementara ini ditutup khusus di wilayah Kali Batu Awang. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi ancaman luncuran material gunung bagi pengguna jalan.

“Karena sekarang ini luncurannya melewati Kali Batu Awang. Kami sudah berkoordinasi dengan aparat Kepolisian, jalur lalu lintas dialihkan ke melewati wilayah Kecamatan Siau Timur Selatan (Sitimsel),” kuncinya.


ERUPSI KARANGETANG, RAPAT DPRD TERSENDAT
Ketakutan menyelimuti masyarakat Siau. Aktifitas rutin seperti hari-hari biasanya  menjadi terganggu. Seperti yang menimpa jajaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sitaro. Erupsi Gunung Karangetang mengakibatkan kepanikan sejumlah legislator Sitaro yang tengah menggelar rapat di kantor DPRD yang terletak di Kelurahan Bebali, Kamis (7/5).

Ihwalnya, para anggota DPRD sangat fokus dengan kegiatan rapat, setelah lelehan lava gunung dalam kondisi mengkhawatirkan, Ketua Badan Kehormatan DPRD Judson Laheba langsung meminta untuk menghentikan rapat DPRD tersebut.

"Ini sudah dekat sekali kita harus menghentikan rapat kita untuk sementara sampai kondisi sudah memungkinkan," tandas Laheba kepada anggota DPRD lainnya.

Hal tersebut membuat para anggota DPRD lainnya langsung keluar melihat kondisi gunung dan berhamburan menuju mobil masing-masing untuk menyelamatkan diri. Dalam kepanikan, sejumlah legislator ada yang ketinggalan sepatu bahkan laptop. Terpantau wartawan, seluruh staf DPRD pun langsung berhamburan dan menyelamatkan diri dari kantor yang posisinya tepat di kaki Gunung Karangetang.

 
BUPATI MINTA WARGA WASPADA
Letusan Gunung Karangetang,  Kamis kemarin, membuat jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sitaro,  kerja ekstra. Untuk mencegah terjadinya wabah ISPA dan jatuhnya korban jiwa, pemerintah telah membagikan masker pelindung untuk warga yang terkena dampak letusan.

Tingginya aktivitas Gunung Karangetang memunculkan keprihatinan Bupati Sitaro Toni Supit. Kata dia, lahar panas dan semburan abu vulkanik yang dikeluarkan Gunung Karangetang harus diwaspadai masyarakat.

Menurut Bupati, pemerintah daerah telah turun tangan sejak adanya peningkatan aktivitas gunung beberapa hari terakhir.

“Tadi (kemarin, red) Dinas Kesehatan telah membagikan masker untuk membantu warga yang tinggal di wilayah yang kena semburan abu vulkanik,” jelas Bupati.

Dia menambahkan lewat pemerintah daerah, kecamatan, kampung dan kelurahan telah dilakukan langkah evakuasi bagi masyarakat yang bermukim di wilayah rawan luncuran lahar panas.

“Ada beberapa titik yang dijadikan lokasi evakuasi, salah satunya di pusat di Kantor Kecamatan Siau Timur,” lugas Toni.

Ia berharap warga waspada dengan aktivitas Gunung Karangetang.

”Hindari zona-zona berbahaya. Jika kondisi tidak memungkinkan, segeralah mencari pertolongan. Pemerintah akan proaktif menangani warga yang membutuhkan,” aku dia.

Untuk diketahui, Api Siau merupakan salah satu gunung teraktif di dunia khususnya Indonesia. Tahun 1997, imbas ketusan Karangetang berujung maut. Tiga warga tewas akibat keganasan gunung ini. Hingga berita ini naik cetak, aktivitas vulkanik Gunung Karangetang, masih berlangsung dan mendapat pengawasan intensif dari pihak Pos Pemantau dan Pusat Vulkanologi.(haman palandung)



Sponsors

Sponsors