SVR PASRAH


Manado, ME

Kisruh yang kini mendera Partai Golkar tak menyurutkan langkah kader Beringin Sulawesi Utara (Sulut) untuk pasang kuda-kuda menghadapi pemilihan kepala daerah (Pilkada). Berbagai strategi mulai dimatangkan demi menggenggam bendera kemenangan di 7 Kabupaten/Kota dan kursi Sulut 1. Tak hanya siap menang, kemungkinan terburuk pun siap dijemput. Langkah mengkaryakan kader ke partai lain siap ditempuh.

Sabtu (11/4) akhir pekan lalu, gerbong Golkar versi Musayawarah Nasional (Munas) Bali dikabarkan mengelar pertemuan di rumah Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Gokar Sulut versi Aburizal Bakrie, Stefanus Vreeke Runtu (SVR), di Tondano. Sejumlah persiapan dalam menghadapi Pilkada di wilayah Sulut mulai dimatangkan.

“Kita tidak bertemu di rumah saya tapi di satu tempat di pinggir danau Tondano,” aku SVR, Senin (13/4).

Pimpinan DPD I Partai Golkar Sulut dan pimpinan DPD II dari 7 Kabupaten/Kota yang akan menggelar Pilkada, diundang hadir dalam rapat tersebut.

“Yang hadir pimpinan Golkar dari tujuh Kabupaten dan Kota yang akan menghadapi Pilkada. Sekitar 50-an orang pengurus yang hadir,” ungkapnya.

 

PENJARINGAN KADER INTERNAL DIGULIR
Kader partai Golkar yang dinilai potensial untuk bertarung dalam Pilkada mulai dijaring. Hal itu diseriusi dalam rapat partai Golkar Sulut versi Ical yang digelar akhir pekan lalu di Tondano.

“Tujuh Kabupaten/Kota yang akan ikut Pilkada, masing-masing diberi kesempatan untuk menginventarisir nama-nama kader yang potensial,” jelas Setevanus Vreeke Runtu.

Menurut Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut itu, DPD II nantinya akan mengajukan nama-nama yang berkembang. “Jadi, dalam rapat tersebut baru meminta diusulkan nama-nama kader,” terang mantan Bupati Minahas ini.

“Lain-lain, yang kita bicarakan soal kerja sama antar kader dan kekompakan. Kalau ada perbedaan di pusat, kita harapkan tidak berimbas di daerah,” bebernya.

 

TAK GUNAKAN METODE SURVEI
Beringin Sulut kini telah menyiapkan mekanisme khusus untuk menjaring calon kepala daerah yang akan diusung dalam Pilkada. Yang pasti, metode survei tidak akan dilakukan.

“Prosesnya, Tingkat Satu dan Tingkat Dua usulkan nama-nama. Mana yang difinalkan, itu yang kita sodorkan. Jadi penjaringan diusulkan DPD II dan DPD I kemudian disodorkan ke pusat. Sementara tidak ada survei,” kata SVR.

Kader yang dinilai memiliki peluang terbesar untuk meraih kemenangan, pasti akan diusul untuk menjadi jagoan Beringin.

“Jadi dilihat hasil inventarisir kader dari partai dan melihat peluang-peluang kader yang mendapatkan dukungan dari rakyat,” paparnya.

Golkar dipastikan akan bertarung di 7 Kabupaten/Kota yang akan menggelar Pilkada. Namun tak seluruhnya Golkar membidik papan satu.

“Target kita menang hanya tidak semua torang mencalonkan Bupati atau Walikota. Ada juga yang secara terang-terangan Ketua DPD minta dia dicalonkan di papan dua,” ungkap SVR.

“Terpenting, tidak ada calon yang tidak kompak. Harus kompak sekaligus menyiapkan diri dengan segala konsekwensi sebagai calon,” tandasnya.

 

SVR SIAP REBUT KURSI SULUT 1
Saat ini Golkar Sulut masih fokus untuk mempersiapakan kader internal untuk bertarung dalam Pilkada nanti. Pemikiran dan langkah untuk melirik calon di luar partai pun belum terbersit.

Penegasan tersebut dipastikan SVR. “Untuk sementara, Golkar masih mempersiapkan kader-kader Golkar. Kita kan sekarang sementara inventarisir calon internal,” tuturnya.

Untuk calon Gubernur Sulut, SVR sendiri memastikan diri siap untuk bertarung.

“Saya kalau diinventarisir, siap. Kalau diputuskan, ya itu amanat partai yang harus dijalankan. Kader Golkar kan tidak boleh mengatakan tidak siapa. Siapa pun kader Golkar harus meyiapkan diri. Apalagi petunjuk partai,” pungkasnya.

 

SIAP KARYAKAN KADER DI PARTAI LAIN
Gejolak yang sedang mengawani partai Golkar di pusat dinilai kans menjadi hambatan bagi gerak kader Beringin untuk dicalonkan dalam Pilkada nanti. Kemungkinan terburuk, baik kubu Ical maupun kubu Agung Laksono, tidak akan diberi kesempatan untuk mengusung calon kepala daerah. Apalagi jika hingga injury time nanti awan hitam belum berlalu dari langit partai Golkar pusat.

“Kita mengalir saja. Yang pasti tetap jaga kesolidan partai. Kita menyesuaikan dengan pusat karena kepengurusan kita saat ini masih dari pusat,” terang SVR.

Golkar Sulut siap mengambil peluang koalisi dengan partai lain. “Soal koalisi, bisa ya bisa tidak tapi peluang itu kan harus dikaji. Jadi tidak ada masalah,” tuturnya.

“Pokoknya torang membuka diri, mau KMP (Koalisi Merah Putih) atau KIH (Koalisi Indonesia Hebat), semua bisa saja terjadi. Politik kan tidak statis, dia dinamis. Semua berpeluang jadi torang tidak boleh kaku.”

Walau demikian, kader terbaik internal tetap akan menjadi pilihan utama Golkar untuk diadu. “Kader terbaik tetap diutamakan. Tapi kalau kader terbaik tidak diakomodir, silahkan menyesuaikan. Kalau soal kemungkinan terburuk, kedua kubu tidak bisa mengusung, mungkin bisa kita memilih melalui jalur independen atau mempersilahkan kader memilih jalur yang pas baginya,” urai SVR.

“Karena kader Golkar itu cerdas. Mereka tahu jalan mana yang harus ditempuh untuk mewujudkan keinginan mereka,” kuncinya.

 

ADITYA ‘LENGSER’
Rapat Golkar Sulut versi Munas Bali akhir pekan lalu di Tondano, ternyata ikut mengambil sebuah kebijakan untuk menggeser struktur partai.

Posisi Sekretaris DPD I Sulut diganti. Namun Ketua DPD I Golkar Sulut versi Ical menampik jika restrukturisasi itu akibat buah kebijakan ‘hukuman’ bagi kader yang melompat ke kubu Agung.  

“Ada pergantian posisi Sekretaris DPD I. Jadi Sekretaris Aditya Anugrah Moha diharapan dia bisa berkonsentrasi di DPR RI. Apalagi dia kan sudah terpilih sebagai pengurus pusat,” kata SVR.

Diakuinya, penggantian itu sengaja dilakukan karena pertimbangan kelancaran kerja organisasi. “Supaya organisasi berjalan lancar, baik maka diusulkan Eddyson Masengi untuk menggantikan Aditya,” terangnya. (rikson karundeng)



Sponsors

Sponsors