'Lukisan Cahaya' Sisi Baru Alam Nusantara

Dari Pameran Fotografi ‘Indahnya Indonesiaku’ Armando Loho


Laporan : Happy Cr Karundeng

Sabtu-Minggu (14-15/3), suasana lantai satu Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta Pusat, terlihat sedikit berbeda. Pandangan mata tidak hanya dihiasi rak-rak buku yang dibagi per kategori. Di sudut timur lantai ini, ada  14 foto berbingkai kanvas putih berukuran 90x60 sentimeter, tertata rapih membentuk leter U. Pengunjung pun terlihat mengerumuni foto-foto yang didominasi gambar alam dari beberapa sisi di nusantara yang terpajang di situ. Di depan, berdiri sebuah standing banner bertuliskan Pameran Fotografi ‘Indahnya Indonesiaku’ karya Armando Loho.

Saat ditemui di lokasi pameran, fotografer muda asal Kota Tomohon, Sulawesi Utara ini mengaku, ingin memamerkan sisi-sisi lain alam nusantara yang tidak lazim ditemui. Agar pengunjung bisa merasakan indahnya alam Indonesia dari sudut yang jarang disaksikan mata. Pameran kali ini, sang fotografer memamerkan lukisan-lukisan cahaya, beberapa lanskap di timur hingga barat Indonesia. Diantaranya, Pantai Sulamadaha, Ternate hingga kawah Ijen, Bondowoso. Tentu dari sudut yang belum terekspose.

“Saya memang ingin berbagi pengalaman saya merekam cahaya di balik lensa, saat mengabadikan keindahan alam Indonesia yang menurut saya jarang ditemukan di search engine manapun di dunia maya,” ungkap Armando Loho, Minggu (15/3).

Sebagai Tou (orang) Minahasa, Armando mengaku memang mengambil kesempatan untuk memamerkan sudut-sudut alam Minahasa. Dimana, dari 14 frame foto, terdapat 5 frame yang memamerkan alam Minahasa. Diantaranya, Pulau Lihaga, Gunung Lokon, Gunung Soputan, Bukit Wawo dan Danau Tondano yang ditangkap dari puncak gunung Kaweng. Momen ini juga diakuinya sebagai salah satu bentuk kerja budayanya, dalam menggali ingatan Tou Minahasa saat menyaksikan karya-karya itu.

“Lewat pameran ini juga, saya ingin kembali menghangatkan ingatan para pengunjung yang mungkin berasal dari atau pernah menyaksikan pemandangan yang saya abadikan. Terlebih saudara-saudara saya orang Minahasa di rantau yang mungkin sudah mulai lupa,” ungkap pegiat Mawale Photography ini.

Ir Andryanto Putra, seorang pengunjung dari Belitung Timur yang mengaku tengah melakukan study vulkanologi, mengaku terkesan dengan sudut pengambilan gambar Armando. Dari ilmu yang dia pelajari, sisi yang diambil saat proses melukis cahaya ini sangat pas. Foto yang diambil Armando diakui dapat merekam nyata bagaimana karakter Gunung dan bukit yang dijadikan objek.

“Ini menarik. Banyak foto yang saya temukan di internet yang terlihat indah tapi kurang memperhatikan detail dari Gunung yang dipotret. Tapi foto-foto ini berbeda. Contohnya, foto erupsi Gunung Lokon di Kota Tomohon ini. Ini menggambarkan betapa perkasanya Gunung yang setahu saya masuk sebagai salah satu gunung api kota yang berbahaya di Indonesia,” ungkap Andryanto sembari memperhatikan bingkai foto Gunung Lokon kala sedang erupsi.

Sementara, Fransisca Dwis, seorang pengunjung lainnya, sengaja datang ke lokasi untuk menyaksikan pameran ini. Mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Jakarta ini mengaku terkesan dengan pameran bertajuk ‘Membingkai Minahasa’ yang pernah digelar Armando di Institue Francais Indonesia (IFI) Jakarta, setahun silam. Untuk itu, dia ingin kembali menikmati sekaligus sedikit belajar dari sang fotografer.

“Saya pernah datang ke pameran Armando sebelumnya. Kayaknya tahun lalu di IFI Salemba. Itu fotonya bagus-bagus. Jadi waktu saya lihat di Facebook dia bikin pameran lagi, saya datang. Saya juga suka fotografi, jadi sekalian mau bertanya-tanya sedikit tentang teknik fotografi. Itung-itung kuliah gratis,” ungkap perempuan berambut lurus berbalut kemeja kotak-kotak biru dengan celana jeans hitam ini.(*)



Sponsors

Sponsors