MANADO WASPADA

BENCANA MULAI TERJANG SULUT


Manado, ME

Alam kembali mengamuk. Ratusan rumah warga di sejumlah kabupaten kota di Sulawesi Utara, diterjang banjir. Intensitas curah hujan tinggi yang melanda Bumi Nyiur Melambai, sejak Selasa (3/2) hingga Rabu (4/2) kemarin, jadi penyulut.

Ribuan masyarakat mengungsi. Sebagian lagi diteror ancaman bencana. Mengingat tumpahan air dari langit, masih terjadi. Pemerintah kicauan peringatan waspada. Para pemangku kebijakan di daerah yang terkena bencana banjir, klaim telah lakukan langkah penanganan. Tak terkecuali wadah birokrat besutan Dr Sinyo Harry Sarundajang. Otoritas ‘penguasa’ tertinggi di Sulut, mengaku sudah mendistribusikan bantuan kepada warga yang tertimpa banjir.

Informasi sementara yang dirangkum media ini, ada sekitar 498 rumah warga yang terbenam banjir. Masing masing sekitar 340 rumah di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) , 121 di Kota Bitung dan 37 rumah di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).

Sementara Kota Manado, masih berstatus waspada. Ketinggian air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano, baru mencapai 151 centimetre (cm). Jika ketinggian air menembus diatas 170 cm, beberapa titik perumahan warga berpotensi tergenang. Seperti di Kelurahan Ternate Tanjung, Komo, dan Karame.

Beberapa kawasan rawan banjir di Ibukota Provinsi yang rawan banjir juga terancam bila curah hujan tak kunjung reda. Semisal di  Kelurahan, Tikala, Perkamil, Kairagi,  Malendeng, Paal II, Paal IV, Banjer, Singkil,  Wonas,  Dendengan Luar, Ternate Baru , Sumompo, Pakowa,  Wanea, Ranotana Weru dan Kombos.

Warga Manado yang tinggal dilokasi rawan banjir pun, terus diliputi kecemasan. Banjir bandang yang meluluh-lantakkan Kota Tinutuan, medio 15 Januari 2014, masih meninggalkan trauma yang mendalam. Tak heran, sebagian warga terus berjaga-jaga sekaligus intens menggali informasi tentang cuaca serta perkembangan debit air di DAS Tondano.

“Sampai sekarang kami masih berjaga-jaga. Jujur, kami masih khawatir dengan kondisi cuaca seperti ini.  Bencana tahun lalu, masih sulit dilupakan,” ungkap Harold Rarumangkay warga Tikala Manado, Rabu (4/2) sekitar pukul 22.30 Wita, tadi malam.

“Kami tetap was-was dan terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Karena sudah ada instruksi waspada bencana dari Pemkot Manado,” tandas salah satu korban banjir bandang di Manado tahun lalu itu.

 

WARGA DI LOKASI RAWAN BENCANA DIIMBAU MENGUNGSI

Masyarakat Manado yang bermukim di wilayah rawan bencana banjir dan longsor telah dianjurkan untuk  mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman. Itu untuk mengantisipasi terjadinya bencana, menyusul curah hujan masih tinggi.

“Pemerintah sudah menganjurkan warga yang tinggal di bantaran sungai, dekat tebing atau lokasi yang rawan bencana untuk bisa menghindar atau mengungsi sementara ke rumah keluarga dan kerabat yang lebih aman,” ujar Walikota Manado GS Vicky Lumentut, melalui kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah (Setda) Kota Manado, Franky Mokodompis lewat siaran pers, Rabu kemarin.

“Yang pasti, pemerintah Kota Manado terus melakukan monitoring di lapangan. Seluruh intansi terkait beserta pemerintah kecamatan dan kelurahan telah diminta untuk terus melakukan pemantuan serta melaporkan setiap perkembangan yang terjadi di wilayahnya masing-masing,” sambungnya.

Perkembangan cuaca serta ketinggian air di DAS Tondano juga terus dipantau. “Sampai sore jelang malam, ketinggian DAS masih mencapai 151 centimeter. Kalau sudah mencapai 170 centimetre, beberapa lokasi rawan banjir seperti  di kelurahan Ternate Tanjung, Komo, dan Karame berpeluang tergenang luapan air," terang Mokodompis.

“Selain waspada Pak Walikota juga mengajak seluruh warga Manado untuk berdoa bersama agar kota yang kita cintai ini dan Sulut pada umumnya akan terhindar dari bencana alam,” tandasnya.

Wakil Walikota Manado Harley AB Mangindaan juga ikut angkat bicara. Ketua Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) itu menghimbau warga Kota Manado untuk waspada dengan cuaca yang kurang bersahabat. "Trend air terus meningkat, setiap 10 menit terjadi peningkatan debit air. Aparat kelurahan sudah kami intruksikan untuk terus melakukan pemantauan di lapangan. Ini langkah antisipasi dalam mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan bersama,” kuncinya.

 

TIGA DAERAH DILANDA BANJIR

Curah hujan tinggi yang terjadi Rabu (4/2) kemarin, bawa dampak buruk di tiga kabupaten kota di Sulut. Ratusan rumah warga di Kabupaten Minut, Kota Bitung dan Kabupaten Bolmong, diterjang banjir.

Beruntung, tak ada korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah. Sebab tak hanya rumah warga yang mengalami kerusakan, namun banyak pula fasilitas publik yang hancur.

Di Minut, warga Desa Maen, Desa Kampung Ambon dan Desa Likupang I dan Desa Desa Rinondoran Kecamatan Likupang Timur yang terkena musibah banjir. Itu dipicu bobolnya sebuah tanggul penahan air sungai di wilayah Naen, akibat derasnya air sungai.

Air meluap dengan ketinggian sekitar 1,5 meter dan menenggelamkan sekitar 250 rumah. Sementara di Desa Rinondoran yang menenggelamkan sekitar 70 rumah, Desa Kampung Ambon dan Desa Likupang I, sekitar 20-an rumah. “Itu baru data sementara serta sudah kita laporkan Basarnas dan Pemprov Sulut. Dan sudah ada bantuan yang diberikan Pemprov,” ungkap Sekretaris BPBD Minut Petrus Macarau kepada harian ini kemarin.

"Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Korban banjir sudah  dievakuasi di balai desa dan rumah-rumah ibadah. Yang pasti pemerintah sementara melakukan penanganan terhadap korban bencana," lugasnya.

Senada diungkapkan Camat Likupang Timur Stevi Watupongoh. “Sampai saat ini (tadi malam, red), kita terus melakukan proses evakuasi terhadap para korban banjir,” timpalnya.

Sementara di Bitung, terjangan banjir menenggelamkan sekitar 121 rumah. Banjir itu dipicu luapan air sungai yang membentang dari Kelurahan Kumersot Kecamatan Ranowulu hingga Kelurahan Girian Bawah Kecamatan Girian.

Walikota Bitung, Hanny Sondakh yang memantau langsung di lokasi bencana mengimbau warga untuk tetap waspada dengan kondisi cuaca penghujan itu. “Kita sementara melakukan langkah penanganan. Warga yang terdampak bencana sedang didata untuk diberikan bantuan,” ujarnya.

“Instansi terkait dan aparat pemerintah kecamatan hingga kelurahan telah diintruksikan melakukan langkah penanganan dan antisipasi. Tapi saya harap warga juga untuk selalu waspada dan  siaga untuk menyikapi tinggi curah hujan yang berpotensi menyebabkan banjir susulan,” tutupnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Bitung Adry Supit yang ditemui media ini mengakui jika pihaknya masih sementara mendata rumah warga yang tertimpa musibah. “Data sementara yang kita peroleh baru sekitar 121 keluarga dari 8 kelurahan yang jadi korban banjir. Tapi data tersebut masih bersifat sementara. Petugas kami masih berada di lapangan untuk melakukan pendataan ,” tandasnya.

Sedangkan di Bolmong ada tiga desa yang diterjang banjir. Masing masing Desa Tandu, Tuyat dan Diat. Ketinggian air mencapai lutut orang dewasa, sehingga merendam sedikitnya 37 rumah warga.  Air berasal dari luapan sungai. “Tapi tidak ada korban jiwa. Itu sementara kita sikapi,” ujar Kepala BPBD Bolmong Channy Wayong yang didampingi Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Bencana, Suhendra Hamin.

Tak hanya banjir, curah hujan yang terjadi Rabu kemarin juga menyebabkan tanah longsor di Jalur Pinogaluman-Doloduo (Pindol). Terdapat tiga titik longsor. Salah satunya menyebabkan sebuah jembatan tertutup material tanah dan bebatuan besar. “Namun jembatan tersebut bisa dilalui dengan menggunakan sistem buka tutup. Karena sebagian masih tertutup material longsor. Tapi kita sudah berkoordinasi dengan balai jalan agar merapikan lagi tebing di samping jalan,” kuncinya.

 

PEMPROV BARU BANTU MINUT DAN BITUNG

Kucuran bantuan mulai dialirkan Pemerintah Provinsi Sulut, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kepada warga korban banjir. Pun begitu, baru dua daerah yang diberikan bantuan, yakni Minut dan Bitung.

“Kami sudah memberikan bantuan di Minut, berupa empat perahu karet serta matras, selimut dan tikar masing-masing 100 buah,” ungkap Kepala BPBD Provinsi Sulut, Ir Noldy Liow, saat dihubungi media ini, tadi malam.  “Kalau di Bitung kita baru kirim 150 paket matras, selimut dan tikar,” sambungnya.

Disinggung soal bencana banjir di Bolmong, Liow mengaku belum menerima laporan. “Belum ada laporan. Kalau sudah masuk, pasti akan kita bantu,”  katanya.

Khusus untuk Kota Manado, disebut masih berstatus waspada. “Kalau ketinggian air di DAS sudah capai 260 centimetre itu, sudah potensi timbulkan banjir. Tapi kalau masih dikisaran 150-an centimetre masih normal,” terangnya.

Pun begitu, Pemprov mengimbau warga Manado untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. “Tapi jangan lengah. Kita sudah sampaikan ke Pemkot untuk terus melakukan monitoring sekaligus tetap siaga dalam menyikapi ancaman bencana,” ungkapnya. “Tak hanya Pemkot Manado. Namun juga seluruh kabupaten kota di Sulut,”  ujar Liow lagi.

Selain Pemprov, pemerintah kabupaten kota juga telah membentuk posko bencana. “Itu jadi pusat informasi dan monitoring. Apabila ada ancaman atau peristiwa bencana, petugas akan segera mengkoordinasikan seluruh pihak terkait untuk melakukan penanganan,” tandasnya.

Diketahui, banjir bandang dan Longsor yang menerjang Kota Manado, Minut,  Tomohon, dan  Minahasa,  menyebabkan ribuan rumah hancur dan 18 orang meninggal. Sementara kerugian material akibat banjir bandang di Manado mencapai sekitar Rp1,8 triliun. (tim me)



Sponsors

Sponsors