Wacana Manado Gugat Amerika Menyeruak

Buntut Tragedi Pembantaian di PD-II


Manado, ME

Kota Manado kini berdiri megah. Terus bersolek menjadi salah satu dari barisan kota modern di era globalisasi.  Sedikit yang ingat, kota tua ini pernah menjadi makam mengerikan banyak penduduknya di masa Perang Dunia II. Saat bom Tentara Sekutu meratahtanahkannya.

 

Kengerian itu masih membekas dalam ingatan Hendrik Karundeng. Pria uzur yang ketika itu berusia 13 tahun saat menyaksikan puluhan pesawat pembom Tentara Sekutu merayap di langit Wenang dan memuntahkan benda-benda aneh berwarna hitam.

 

“Waktu itu zaman penjajahan Jepang. Kita pe mama deng papa da pi gunung (kampung-kampung Minahasa di daerah pegunungan, red). Kita deng brapa tamang da bermain di daerah jalan Toar skarang. Kage maraung kamari banya pesawat di langit kong maso Manado,” kisahnya.

 

Sesaat setelah raungan itu, Kota Manado tiba-tiba membisu dan berubah menjadi kengerian. “Torang langsung lari mar nda tau mo ka mana. Bunyi ledakan di mana-mana. Manado kage-kage so dihancurkan. Banya orang mati itu. Mayat di mana-mana,” tuturnya.

 

Kisah Karundeng ditegaskan Sejarawan Sulut, Drs Fendy Parengkuan MA. Menurutnya, sejumlah literatur memang menggambarkan bagaimana  Kota Manado luluh lantah ketika wilayah Sulawesi Utara dibom Tentara Sekutu. “Data menyebutkan bagaimana puluhan pesawat  pembom B-29 Angkatan Udara Sekutu memusnahkan Kota Manado sampai menjadi puing. Banyak penduduk tewas,” jelasnya.

 

“Bahkan, sejumlah data menyebutkan dan menggambarkan bahwa kota Manado adalah kota yang paling hancur oleh bom sekutu di era Perang Dunia II di banding kota-kota yang lain. Ratah tanah memang,” tambah Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sulut ini.

 

PUSAT PERTAHANAN JEPANG

Jazirah utara Selebes merupakan sebuah wilayah strategis dalam ‘Perang Pacifik’. Karena itulah wilayah ini, termasuk Manado, dijadikan daerah pertahanan pasukan Jepang.

 

“Ketika Jepang mendarat di Manado, pada 11 Januari 1942, mereka merebut veldbox (kubu-kubu pertahanan) sejak zaman Belanda. Oleh Jepang kemudian digunakan untuk menghadapi serangan sekutu dalam perang pasifik,” kata Sejarawan Sulut, DR Ivan Kaunang M.Hum, Sabtu (24/8).

 

Jepang juga membuat lobang-lobang goa seperti yang banyak tersebar di Kota Manado. Tempat itu adalah salah satu bentuk pertahanan yang dibangun pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942-1945. “Jepang juga membangun beberapa pertahanan udara, seperti membangun lapangan udara Mapanget dan lapangan udara di Tawaang Minahasa Selatan. Yang terakhir ini tidak sempat banyak digunakan. Pembangunan goa sebagai tempat perlindungan di Manado dan Minahasa dimulai sejak tahun 1943, sejalan dengan mulai terdesaknya pasukan Jepang atas serangan balik Tentara Sekutu di medan Perang Pasifik,” papar akademisi Unsrat ini.

 

Dalam taktik militer Jepang, goa adalah tempat perlindungan yang paling aman terhadap serangan musuh, terutama serangan pesawat-pesawat pemboman berat. Goa juga merupakan tempat paling aman untuk menyimpan berbagai peralatan perang, persenjataan dan amunisi serta logistik (makanan).

 

“Tentara Jepang menderita kekalahan dalam pertempuran di lautan Pasifik terhadap serangan pasukan Sekutu. Itu kemudian yang membuat mereka mundur dan memperkuat kubu pertahanannya di Sulawesi dan Maluku Utara,” tambahnya.

 

Sejumlah literatur menjelaskan, Sulut adalah wilayah pendaratan Tentara Sekutu untuk masuk ke Indonesia dari arah Pasifik. Karena itu, daerah ini menjadi front pertempuran yang sengit. “Bulan September tahun 1944, Tentara Sekutu di bawah pimpinan Jendral Mac Arthur dari Amerika menduduki Morotai dan menyerang kubu-kubu pertahanan Jepang di Sulawesi Utara lalu beralih dan menduduki pada 10 Oktober pulau Leyte di Filipina,” jelas Kaunang.

 

SAKSI BISU PERANG DUNIA KE-II

Banyak bukti historis yang menjadi ‘saksi’ peristiwa Perang Dunia II di Manado. Salah satu yang bisa dilihat adalah Tugu Perang Dunia II yang kini berdiri kokoh di samping gedung gereja GMIM Sentrum Manado.

 

DR Ivan Kaunang M.Hum menjelaskan, Monumen atau Tugu Perang Dunia II ini dibangun pada tahun 1946-1947 oleh Sekutu/NICA dan arsiteknya adalah Ir Van den Bosch. “Monumen ini dibangun sebagai suatu kenangan terhadap korban Perang Pasifik, baik dari pihak Sekutu, Jepang, dan rakyat semasa Perang Dunia II berlangsung tahun 1941-1945. Sayangnya monument ini tidak sempat diresmikan sehingga tidak ada prasasti penamaannya,” terangnya.

 

Akademisi Unsrat ini juga mengungkapkan, Monument setinggi 40 meter tersebut terdiri dari empat buah tiang penampang/penyangga dengan sebuah kubus persegi-empat yang disimbolkan sebagai peti jenazah atau berisi abu jenazah korban perang dan dilengkapi dengan empat bola/roda peti jenazah. “Monumen ini juga dimaknai sebagai simbol penyerahan arwah korban perang kepada TuhanYang Maha Kuasa pada kotak berbentuk kubus di puncak monument. Empat bola roda kotak kubus di atas, disimbolkan sebagai pemisah antara mahluk mulia manusia yang mengusung dan yang diusung. Seluruh bangunan monument terletak di atas landasan kokoh bersegi empat bertangga,” paparnya.

 

“Monumen ini sebagai bukti bagaimana peran dan strategisnya lokasi Manado-Minahasa pada masa Perang Pasifik. Bahkan di awal perang Dunia ke II, ketika serangan tentara Dai Nippon, wilayah Manado dan Minahasa menjadi penangkal atau penghambat agresi militer Jepang menuju benua Australia. Ini juga bukti bagaimana Manado menjadi korban keganasan perang itu,” kata Direktur Institut Kajian Budaya Minahasa (IKBM) ini.

 

MENGGUGAT AMERIKA

Sejarawan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT), Drs Fendy Parengkuan MA menjelaskan, fakta-fakta kehancuran Manado di masa Perang Dunia II bisa dijadikan dasar untuk melakukan gugatan terhadap Amerika Serikat.

 

“Banyak data yang mengungkap fakta bahwa Kota Manado menjadi kota yang paling hancur terkena bom Tentara Sekutu yang dimotori Amerika Serikat. Ini bisa menjadi dasar kita untuk melakukan gugatan terhadap Amerika,” tegasnya.

 

Ada beberapa tuntutan yang bisa disodorkan ke Amerika Serikat sebagai wujud pertanggungjawaban mereka atas penghancuran Kota Manado. “Manado dihancurkan dan Amerika harus bertangunggjawab. Sebagai pertanggungjawaban, kita bisa meminta beberapa hal seperti, berikan beasiswa S3 bagi anak-anak di Sulut secara rutin misalnya 100 orang setiap tahun di Amerika,” cerocosnya.

 

Parengkuan yakin, tuntutan ini bisa direspons positif Amerika jika ada suara bersama dari masyarakat Manado secara khusus dan masyarakat Sulut secara umum ke negeri yang dipimpin Barack Obama itu. (rikson karundeng/media sulut)

 

Foto: Reruntuhan Gereja Sentrum Manado (Protestantse Kerk Manado) setelah dibom Sekutu sekitar pertengahan tahun 1945. Foto ini dibuat bulan Maret 1946. (foto: KITLV)

 



Sponsors

Sponsors