Foto: Antusiasme warga Minahasa membakar nasijaha, persiapan perayaan pengucapan syukur. (ist)
Tradisi Teologis yang Perlu Dipertahankan
Perayaan Pengucapan Syukur Minahasa
PENGUCAPAN syukur merupakan tradisi yang sangat teologis dan harus dipertahankan. “Ini ajang baku dapa keluarga. Seorang mahasiswa STT Jakarta, Naftali Soriton dalam penelitiannya menyatakan bahwa itu tradisi tua di Minahasa. Hanya memang dia sekarang telah bertransformasi, terutama ketika Kristen masuk,” kata dosen Fakutas Teologi UKIT, Denni Pinontoan MTeol.
Pengucapan sukur kini juga telah mengandung dimensi politik. “Pergeseran terutama, ada dimensi politik. Di era pilkada misalnya, ini jadi sarana kampanye. Tahun 80-an sampai 90-an, perayaan ini masih disesuaikan dengan waktu panen, siklus kerja atau siklus pertanian sehingga perayaan di tiap daerah tidak sama. Waktu itu terasa suasana hangat ketika berkumpul dengan keluarga. Ketika pemerintah intervensi, semakin berkurang keluarga yang datang. Karena di tempat lain banyak yang merayakan di waktu yang sama,” ungkapnya.
Namun pegiat Mawale Movement ini mengakui jika perayaan pengucapan syukur sesungguhnya memiliki banyak nilai positif. “Ikatan kekeluargaan yang mungkin satu dan lain hal, berjauhan, karena masing-masing orang mengejar karir kemudian berpisah pada satu waktu. Dengan pengucaan syukur ikatan-ikatan kekeluargaan, persahabatan, terbangun kembali atau semakin dipererat,” nilainya.
Denni Pinontoan mengatakan, perayaan pengucapan syukur juga menghasilkan multiply effect positif. “Di saat itu muncul penjual-penjual seperti ‘paku utang’, tikus, kelelawar. Artinya moment itu memberi kerja bagi tukang berburu atau mereka yang memiliki keterampilan tertentu. Jadi mereka diuntungkan. Penggunaan produk lokal seperti gula aren, beras pulo, jadi tinggi, harga naik dan itu menguntungkan petani. Modalnya berputar di dalam atau perputaran uang terjadi ke dalam. Karena saat pengucapan, yang ramai itu pasar-pasar tradisional sebab masyarakat terkonsentrasi menyediakan makanan. Orang-orang dalam komunitas itu yang menjual dan mereka juga yang membeli. Kalau perayaan natal atau tahun baru, orang lebih banyak ke mal-mal. Mungkin ada kasus ‘ba utang’ tapi itu tidak dominan. Tidak karena itu kemudian memiskinkan masyarakat,” terangnya.
Terkait dengan adanya penilaian bahwa pengucapan syukur identik dengan pemborosan, dengan tegas dibantah Pinontoan. “Menurut saya, itu tak ada relasi yang kuat. Karena masyarakat merayakan pengucapan syukur berdasarkan perencanaan. Makanya kita jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan,” katanya. “Itu yang selalu diabaikan ketika melakukan analisa ekonomi. ‘Pemborosan’, itu kata munafik. Menurut siapa itu pemborosan, analisis ekonomi, sosiologis, teologis atau apa? Semuanya tidak kena. Analsis teologis, gereja menikmati itu. Ekonomis atau sosiologis apalagi. Fakta-fakta yang saya ungkapkan soal ikatan kekeluargaan dan kondisi ekonomi yang terjadi saat pengucapan syukur, menepis anggapan itu,” tandas Pinontoan.
Perayaan pengucapan syukur merupakan pesta rakyat, dimana orang mengekspresikan rasa syukur. “Di era kini, intensitas kerja tinggi, orang butuh waktu senggang, waktu refreshing, rekreasi. Di zaman para filsuf, waktu seperti itu mereka gunakan untuk berefleksi, melakukan pencaharian kembali sehingga memperoleh inspirasi baru. Makanya, perayaan pengucapan syukur sangat positif dan tentu teologis,” imbuhnya. (ms)



































