'Tradisi Tua' yang Bertransformasi dan Intervensi Pemerintah

Perayaan Pengucapan Syukur Minahasa


BUDAYAWAN dan Sejarawan, DR Ivan Kaunang SS MHum menjelaskan, tradisi rumages itu kemudian mengalami trasformasi di kemudian hari, terutama ketika kekristenan masuk ke tanah Minahasa. “Pengucapan syukur itu bertransformasi dari tradisi tua Minahasa, dan menjadi lebih kental ketika Kristen masuk. Dari perspektif kebudayaan, tradisi itu memang mengikuti perkembangan zaman. Beda generasi, beda juga wujud ekspresinya,” tegas dosen Fakultas Ilmu Budaya dan Pascasarjana Unsrat  ini.

Dalam proses bertransformasi ini, ada sesuatu yang hilang dari perayaan pengucapan syukur itu. “Budaya leluri atau tutur itu terputus sehingga makna sesungguhnya dari pengucapan syukur banyak yang tidak dipahami oleh generasi kemudian. Konsekwensi lain, mulai diadopsinya tradisi dari luar seperti, disko, miras produksi luar, dan sebagainya.

Persoalan lain, karena terjadi interaksi, pemerintah mulai ambil alih perayaan ini. Dahulu itu dilaksanakan sesuai musim panen tapi sekarang, itu tinggal diatur pemerintah dengan gereja. Ini ada hubungan dengan relasi kuasa. Mereka kemudian mengatur, bagaimana agar tidak saling bertabrakan. Dahulu, dalam tradisi ada tonaas yang akan mengatur musim tanam tapi sekarang tidak lagi,” papar Direktur Institut Kajian Budaya Minahasa (IKBM) ini. (ms)



Sponsors

Sponsors