Meraup Rejeki Hingga Merajut Ikatan Kekeluargaan

Semarak Pesta Pengucapan Syukur di Minsel


Laporan : Rikson Karundeng

Kampung-kampung tampak ramai. Ribuan orang ‘menyerbu’ dari berbagai arah. Ekspresi sukacita terpancar dari wajah-wajah yang menikmati suasana itu. Apalagi saat menggenggam dodol dan nasi jaha, buah tangan dari kerabat. Tak ketinggalan, kemacetan di setiap jalur lalulintas yang memang menjadi pemandagan rutin setiap tahun. Begitulah suasana pesta perayaan ‘Pengucapan Syukur’ di wilayah Minahasa Selatan (Minsel), Minggu (14/7).

 

Wellem Pandey, warga Rumoong Atas Kecamatan Tareran Minsel menuturkan, tradisi Pengucapan Syukur telah lama dilakukan masyarakat Minahasa, termasuk yang ada di wilayah selatan. “Sejak zaman para leluhur kita dulu, tradisi ini sudah dilakukan. Mengucap syukur kepada Tuhan itu kan memang sesuatu yang harus torang lakukan. Jadi nda ada yang salah dengan pengucapan syukur,” katanya.

 

Banyak hal positif yang tercipta dalam perayaan ini. “Cuma moment pengucapan syukur torang boleh baku dapa deng sudara-sudara dari luar. Dari kalu natal deng taon baru, masing-masing torang ba sibuk. Dengan bagitu, tu hubungan kekeluargaan terpelihara. Basudara biar so baku jaoh tetap baku kenal, soalnya kalu dorang datang, tu anak deng cucu-cucu lei dorang bawa. Sapa tu nda senang bakumpul, baku-baku bae deng keluarga biar so jaoh? Tu kebersamaan yang tercipta itu nda bisa dinilai deng doi,” ungkap Pandey.

 

Jadi bukan alasan mengatakan bahwa pengucapan syukur itu pemborosan. “Dari dulu torang senang deng pengucapan syukur. Memang kalu pengucapan ja kaluar doi banya. Tapi kan biasanya itu oras panen ato baru abis panen jadi nda brat. Torang so tabiasa dari dulu. Kalu perlu, jaoh-jaoh hari, dari Januari so ja sisihkan tu doi for pengucapan. Torang so tau bagimana depe cara mo persiapakan tu pengucapan,” aku Welem.

 

Pengamat sosial kemasyarakatan, Denni Pinontoan MTeol membenarkan, jika perayaan pengucapan syukur memang memiliki banyak nilai positif. “Ikatan kekeluargaan yang mungkin satu dan lain hal, berjauhan, karena masing-masing orang mengejar karir kemudian berpisah pada satu waktu. Dengan pengucaan syukur ikatan-ikatan kekeluargaan, persahabatan, terbangun kembali atau semakin dipererat,” nilainya.

 

Pengucapan syukur memiliki multiplayer effect. “Multiplayer effect terjadi ke dalam. Dari satu kampung menjual dan kampung lain membeli sehingga kapitalnya bergerak ke dalam sebab konsentrasi orang berbelanja bukan baju seperti perayaan natal dan tahun baru tapi bahan-bahan untuk dimakan oleh tamu. Bahan-bahan itu tersedia di antara komunitas itu. Di antara komunitas itu yang saling berbelanja,” urainya.

 

Akademisi UKIT ini membantah soal penilaian tentang pengucapan syukur adalah ‘pemborosan’. “Itu yang selalu diabaikan ketika melakukan analisa ekonomi. ‘Pemborosan’, itu kata munafik. Menurut siapa itu pemborosan, analsaisis ekonomi, sosiologis, teologis atau apa? Semuanya tidak kena. Analsis teologis, gereja menikmati itu. Ekonomis atau sosiologis apalagi. Fakta-fakta yang saya ungkapkan soal ikatan kekeluargaan dan kondisi ekonomi yang terjadi saat pengucapan syukur,  menepis itu,” tandasnya.

 

Ada dampak dari pengucapan syukur tapi masyarakat punya mekanisme sendiri soal itu. “Ada orang yang menyiapkan miras dan ada yang mengkonsumsi tapi masyarakat punya mekanisme sendiri untuk mengatur soal itu. Yang menyediakan sadar sehingga membantasi. Yang mengkonsumsi juga sadar karena itu membatasi mengkosumsi. Banyak cerita di masyarakat yang bisa jadi data, untuk menjawab semua asumsi negatif soal pengucapan syukur. Harus diakui, semua kegiatan pasti punya dampak. Di dalam gereja saja bisa terjadi hal-hal yang negatif,” tandas Pinontoan.



Sponsors

Sponsors