Foto: Ilustrasi.
'Boltim Mencekam'
Polda Sulut Didesak Lakukan Pengamanan
Boltim, ME
Stabilitas keamanan di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), goyang. Tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), terindikasi jadi pemicu. Pusaran konflik pendukung Calon Kepala Daerah (Cakada), masif terjadi. Boltim 'panas'. Aroma chaos menganga di ajang pesta demokrasi serentak, 9 Desember 2015.
Sejumlah referensi yang membayang-bayangi potensi chaos di Pilkada Boltim, terus terdeteksi. Misalnya, aksi pelemparan yang menyebabkan simpatisan Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Sam Sachrul Mamonto-Medy Lensun (SMILE), harus dirawat di masuk rumah sakit. Mereka merupakan korban insiden pelemparan batu di Modayag. Hal serupa kembali terjadi, Sabtu (14/11). Kali ini, empat orang simpatisan yang ikut konvoi SMILE terkena lemparan sekira pukul 20.00 WITa, usai mengkikuti kampanye dialogis di Desa Kotabunan. Informasi yang dihimpun, dari keempat korban tersebut satu di antaranya bernama Serni Sihure (52), warga Desa Jiko Kecamatan Nuangan.
Ia terkena leparan batu saat melintas di Desa Togit, tepatnya di kompleks Kampung Mangga. Bagian kepalanya terpaksa dijahit tim medis lantaran mengalami luka serius. Hal tersebut, menjadi signal ‘perang fisik’ telah berlangsung dalam tahapan Pilkada di daerah pecahan Bolaang Mongondow ini.
Meydi Lensun pun angkat bicara soal itu. Menurutnya, hal ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi.“Oknum sudah dikantongi I dentitasnya, saya tidak akan diam kali ini, saya tunggu kinerja Kepolisian,” tegas Lensun.
Sementara itu, Sahrul Mamonto, saat dimintai tanggapan mengaku, hingga saat ini, sudah 20 orang pendukung SMILE yang menjadi korban, baik terkena lemparan batu atau Senjata Tajam (Sajam). Hal ini lanjutnya, sudah sangat keterlaluan. Apalagi, pada Sabtu malam itu, kejadian pelemparan dan aksi penghadangan terhadap konvoi kendaraan miliknya juga terjadi di dua titik, yakni Desa Togid dan Molobog. Dia menilai oknum pelaku pelemparan sudah tidak memiliki hati nurani.“Kan di dalam mobil itu ada wanita dan anak-anak, kasihan mereka sering kena lemparan batu,” beber Sachrul.
Ia pun meminta ketegasan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulut, untuk menyeriusi persoalan ini. Sebab, aku Sahrul, sudah seperti ada pembiaran terhadap laporan-laporan yang telah dilayangkan kepada aparat penegak hukum.
“Ingat kami bisa melaporkan ketidakbecusan aparat di Polres Bolmong, terkait penanganan masalah ini ke Kapolri. Sudah beberapa kali kami melapor tentang adanya tindakan kriminal terhadap pendukung saya. Bukan mendapat hasil bagus malah seakan tidak ada respon sama sekali di pihak yang berwajib,” ketusnya.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bolmong, AKP Anak Agung Gede Wibowo Sitepu SIK, saat dikonfirmasi membenarkan jika para korban sudah datang melapor.“Iya, malam itu juga sudah ada korban yang melapor. Bahkan turut didampingi oleh Sahrul Mamonto dan Meidy lensun,” aku Sitepu.
Terpisah, Lembaga Ilmu Hukum Bolmong, Sofyanto menegaskan, jika persoalan ini hanya didiamkan begitu saja, maka momentum Pilkada serentak di Kabupaten Boltim tersebut, terancam chaos. Menurut Sofyan, suasana yang ada saat ini butuh ketegasan dari pihak aparat hukum. “Jika dibiarkan kondisi seperti ini terus, maka Pilkada damai jauh dari harapan,” terang Sofyanto.
Dikatakannya, Kepolisian Daerah (Polda) Sulut, seharusnya bisa menyikapi persoalan ini. Soalnya, kejadian tersebut sudah kerap terulang. Bahkan, banyak juga korban berjatuhan akibat gesekan antar sesama pendukung Paslon.
“Polda harus turun tangan membantu kinerja aparat Polres Bolmong. Sudah dua kali kejadian hingga menelan korban ini terulang. Itu sudah tidak dihitung dengan kejadian-kejadian kecil lainnya. Entah berapa kali,” lugasnya.(endar yahya/media sulut)



































