Bencana Teror Poros Manado-Tomohon

Waspada Musim Hujan


Tomohon, ME

Meningginya intensitas curah hujan yang melanda Bumi Nyiur Melambai, harus diwaspadai. Teror bencana mengintai sejumlah wilayah.

Di Kota Tomohon, dampak musim hujan pernah menimbulkan persoalan serius. Awal tahun 2014 silam, poros Manado-Tomohon ‘tenggelam’ disapu banjir bandang dan tanah longsor. Dua titik jalan amblas dan longsoran tanah menimbun sejumlah tempat. Akses jalan putus bahkan 6 warga tewas. Tomohon terisolir.

Menghadapi musim basah saat ini, warga yang masih berdomisili di poros strategis penghubung Ibu kota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dengan Kota Tomohon serta sejumlah kabupaten, diminta waspada. Hujan lebat yang terjadi, dinilai menjadi pemicu tanah longsor. Teror bencana juga menyasar pengguna jalan.

Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Tomohon Arther Wuwung, menegaskan, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XIManado Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang dipercayakan melakukan rehabilitasi di ruas jalan tersebut, agar memperhatikan kualitas pekerjaan.“Sebab, apabila tidak dibuat sesuai bestek akan berpotensi menimbulkan masalah baru. Misalnya, proses terasering disekitar Jembatan Tambulinas,” jelas Wuwung.

Maksudnya, erosi tanah bisa terjadi apabila tidak dilakukan sesuai dengan perencanaan. Untuk itu, pihak berkompeten diharapkan intens memantau proses rehabilitasi jalan dan jembatan termasuk terasering.”Agar supaya saat digunakan nanti, tidak menimbulkan masalah bagi warga,” harapnya.

Di sisi lain, Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Tomohon, Arie Palendeng, menyorot pengerjaan rehabilitasi Jembatan Tambulinas yang dinilai lambat. Semestinya, proses pembangunan dipercepat saat musim panas.”Sekarang sudah musim penghujan. Pasti menimbulkan kesulitan dalam pengerjaan,” ujarnya.

Akselerasi rehabilitasi ruas jalan Manado-Tomohon diperlukan, sebab memasuki bulan Desember, arus pergerakkan barang dan jasa ramai melintasi akses produktif ini.”Harus dipercepat sebab jalur alternatif yang digunakan dinilai mulai tidak representatif lagi, jika dihubungkan dengan banyaknya kendaraan yang lewat. Buntutnya, sopir dan pengguna jalan mulai mengeluh karena setiap hari terjadi kemacetan di jalur alternatif,” terang Palendeng.

“Kami merencanakan akan menggelar aksi damai, jika hingga batas waktu yang ditentukan, rehabilitasi jembatan tak kunjung tuntas,” kuncinya, belum lama.

Sesuai informasi yang diperoleh, untuk mempercepat proyek berbandrol miliaran rupiah itu, arus lalu lintas saat ini tidak menggunakan akses utama. Namun, dialihkan ke ruas jalan alternatif di Kelurahan Tinoor.(victor rempas)



Sponsors

Sponsors