Boltim Koleksi 6.600 Jiwa Warga Miskin


Boltim, ME

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat warga miskin di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), tahun 2014 lalu mengalami kenaikan, hingga menembus 6.600 jiwa atau ketambahan 2.000 jiwa dari tahun 2013 lalu yang berjumlah 4.600.

Hal tersebut pun diakui Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Boltim, Mat Sunardi. Dikatakannya, dari data yang ada memang ada peningkatan. “Untuk data miskin pada tahun 2015 ini sementara dalam proses pengolahan, kemungkinan akan dipublikasikan pada akhir bulan ini (November,red),”ungkapnya.

Alasannya, menurut Sunardi, naiknya angka kemiskinan di Boltim itu merupakan faktor gejolak ekonomi dan kenaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada dua tahun terakhir ini. Namun, untuk pendapatan masih relative. “Pemda melalui Tim Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TPKD) terus berkoordinasi dengan sepuluh satuan kerja (Satker) yang menjadi mitra seperti, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Sosial, Dinas Pertanian, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Catatan Sipil, Badan Ketahanan Pangan, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa, dan Badan Pemberdayaan Perempuan, KB dan Perlindungan Anak. Dimana kita (tim TPKD Boltim,red) terus melakukan upaya penanggulangan kemiskinan dalam pencapaian target minimum Developments Goals (MDGs) untuk melakukan singkronisasi program dengan sepuluh satker yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” jelas Sunardi.

Selain itu adanya penurunan pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2014 lalu, hingga 63,12 persen, dibanding tahun sebelumnya mencapai 73,75 persen. “Penurunan IPM dan kenaikkan angka kemiskinan disebabkan karena dasar pembagian pada tahun 2010 lalu. Karena pada tahun sebelumnya juga masing menggunakkan pembagian data tahun 2000. Dimana peningkatan IPM itu juga disebabkan adanya angka usia melek, umur, huruf dari 7 tahun menjadi 25 tahun,” jelasnya.

Sementara, Kepala seksi Perencanaan dan Evaluasi Bappeda Propinsi Sulawesi Utara (Sulut), Shalom Korompis mengatakan, rilis terakhir BPS menyebutkan IPM Boltim berada diperingkat terakhir di 15 Kabupaten Kota se-Sulut. “Boltim peringkat ke 15 karena BPS menggunakkan metode baru dan hal itu pula yang menyebabkan adanya penurunan jumlah IPM di Sulut yang sebelumnya rangking dua secara nasional, justru turun menjadi rangking tujuh nasional,” beber Korompis.

Dimana BPS tersebut, sudah mengadopsi metode baru dengan tidak menghitung lagi angka melek huruf untuk masuk ke dalam indikator penilaian IPM. Dimana penilaian tersebut justru diambil pada kategori harapan lama sekolah. “Boltim menjadi menarik dengan angka kemiskinan 6,9 persen dibawah Sulut yang masih 8,6 persen. Namun, untuk kualitas IPM Boltim memang paling rendah. Jadi warga Boltim sudah kaya tapi pendidikan masih rendah. Rata-rata lama sekolah warga Boltim hanya 7,13 atau setara kelas satu SMP. Namun yang disurvei adalah warga diatas umur 25 tahun,” ungkap Korompis.

Terpisah, kegiatan debat publik bagi ketiga pasangan calon (Paslon) Bupati dan Wakil bupati yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Boltim pada Kamis (5/11) lalu, para paslon saling beradu argumen persoalan kemiskinan dan IPM yang ada di Boltim. Menariknya, tanya jawab itu terjadi di antara dua paslon incumben yang merupakan mantan Bupati dan Wabup Boltim periode 2011-2015 yakni, Sehan Landjar dan Medy Lensun. Dari pantauan Media Sulut debat kedua incumben itu pun terjadi ketidak samaan data soal kemiskinan dan IPM Boltim sekarang ini. “Angka tahun 2014 ada pada 6,9 persen itu melampaui dari pertumbuhan nasional yang menurun dikarenakan standarnya dirubah. Maka untuk 2016 nanti jika kami terpilih maka akan menekan angka invlasi tersebut. Di daerah (Boltim,red) sudah ada nama tim pengendali invlasi daerah yang sampai sekarang belum bekerja efektif. Dari sektor mana yang mempengaruhi invlasi pertumbuhan ekonomi itu melamban sehingga nanti akan diperbaiki pada tahun 2016 nanti,” terang Landjar.

Medi Lensun (mantan Wabup,red) mengaku, bahwa data base sebenarnya dengan kondisi terkini di Boltim tentang pertumbuhan ekonomi per tahun 2014 itu bukanlah 6,9 persen, namun mencapai 7,47 persen dan itu merupakan data real. “Kita (paslon SMILE,red) tentunya tidak muluk-muluk dalam membuat visi misi terutama dalam persoalan data. Tentang orang miskin saat ini di Boltim itu 6.600 jiwa dan ditambah dengan IPM kita itu sangat memiriskan, yang sebenarnya itu Boltim berada di urutan ke 15 sesudah Kabupaten Bolsel dari 15 Kabupaten Kota di Sulut. Apa yang sudah dilakukan sebelumnya? Kalau indeks manusia yang notabenenya sumber daya manusia (SDM) berupa kepintaran, pendidikan, lama sekolah dan kesehatan yang pada akhirnya pada tahun 2015 ini pada urutan ke 15. Oleh karena itu tantangan kedepan itu sangat besar sekali karena jangan melakukan program yang muluk-muluk namun yang terpenting harus tepat sasaran,” terang Lensun.

Diketahui dari seluruh data di atas terbagi 14 variabel kemiskinan seperti non moneter yang berbicara soal luas lantai per satuan keluarga, jenis lantai rumah, jenis dinding rumah, jamban, sumber air minum, penerangan yang digunakan, bahan bakar, frekuensi makan dalam sehari, kemampuan membeli daging dan susu dalam seminggu, kemampuan membeli pakaian baru, kemampuan berobat, lapangan pekerjaan kepala rumah tanggan, pendidikan kepala rumah tangga dan kepemilikan aset minimal Rp.500 ribu. (tim me)



Sponsors

Sponsors