Foto: Ilustrasi.
Kotamobagu Darurat Kekeringan
BPBD “Minta Tolong” ke BNPB
Kotamobagu, ME
Musim kemarau yang sudah berlangsung sejak lima bulan silam berdampak buruk terhadap debit air di Kota Kotamobagu. Kekeringan dan keterbatasan air melanda berbagai titik di wilayah Kotamobagu. Sebut saja untuk Kecamatan Kotamobagu Barat dan Kotamobagu timur, hutan kota di beberapa titik mengalami kekeringan. Untuk dua kecamatan lainnya, yakni Kotamobagu Utara dan Kotamobagu Selatan mengalami keterbatasan air oleh karena sejumlah sumur milik warga yang mulai tak mampu memproduksi air.
Hal ini diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotamobagu, Imran Amon yang mengaku telah mempersiapkan upaya Pemerintah Kota (Pemkot), untuk menghadapi musibah tersebut. Salah satunya dengan membuat permohonan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD).
“Kotamobagu saat ini tengah pada darurat kekeringan dan keterbatasan air. Oleh karena itu, sesuai dengan petunjuk Gubernur Sulut, agar Kabupaten/Kota yang dilanda bencana harus membuat surat pernyataan bahwa seperti Kotamobagu saat ini mengalami darurat kekeringan,” ungkap Imran.
“Kalau seperti provinsi, mereka punya Dana Siap Pakai (DSP). Kalau seperti kita di daerah harus bermohon. Tetapi harus ada surat pernyataan dari Walikota bahwa daerah itu sedang darurat. Kita tengah menggodok itu. Saat ini, sudah masuk ke bagian hukum,” lanjut Imran.
Imran menambahkan, pentingnya realisasi bantuan dari BNPB guna mengantisipasi kebutuhan warga akan air bersih di tengah kekeringan. Pasalnya, diperlukan biaya lebih untuk penyediaan air bersih bagi warga yang mengalami kekeringan.
“Kita hitung semua RAB-nya. Mulai dari penyewaan mobil tangki, hingga operasional. Kan BPBD tidak mempunyai mobil tangki seperti dinas tata kota,” lanjut Imran.
Sementara itu, Walikota Kotamobagu, Ir Tatong Bara mengingatkan warga Kotamobagu untuk lebih waspada atas bencana kebakaran. Menurut Walikota, banyak factor yang mengakibatkan kebakaran hutan atau lahan.
“Kita harus waspada agar tidak terjadi kebarakan lahan. Banyak factor yang mengakibatkan bencana ini. Bagi masyarakat, dan khususnya petani, harus memperhatikan kondisi alam sekitar,” ujar Walikota.
Walikota menambahkan, musim kemarau ini juga perlu diwaspadai masyarakat yang ada di pusat Kotamobagu, dan kawasan padat penduduk.
“Mari kita bersama-sama menjaga daerah dari bencana kebakaran. Poin utama adalah tingkat kewaspadaan kita terhadap lingkungan di mana kita tinggal,” tambah Walikota.
Sementara itu, dampak kebakaran hutan di wilayah Kabupaten Boltim dan Bolmong sudah mulai terasa di Kotamobagu. Dari pantauan media ini, gumpalan asap sudah terlihat di pinggiran Kota Kotamobagu.
Terpisah, Ketua Komisi II DPRD Kotamobagu, Arman Adati meminta Pemkot untuk dapat melakukan mitigasi bencana. Mulai dari kekeringan hingga potensi kebakaran.
“Dimana-mana saat ini kita mendengar banyak kejadian kebakaran dan juga kekeringan. Ini perlu diseriusi, agar tidak membesar seperti di daerah lain,” pinta Arman.(yadi mokoagow)



































