Konflik Boltim Terendus Dimaikan 'Invisible Hand'


Manado, ME

Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) memanas. Tensi politik yang kian meningkat disinyalir jadi pemantik sederet konflik antar pendukung pasangan calon (Paslon). Korban pun terus berjatuhan.

Kondisi ini mendapat tanggapan kritis anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut), Julius Jems Tuuk. Wakil rakyat Bolmong Raya ini menilai, perkelahian yang terjadi antara pendukung Paslon Sam Sachrul Mamonto-Meydi Lensun (SMILE) dengan Sehan Landjar-Rusdi Gumalangit (SERU) sebenarnya sangat memalukan. Apalagi harus terjadi di daerah Modayag.

Bagi Tuuk, harusnya Modayag itu dikatakan orang-orang intelek dalam berpolitik. Permasalahan ini tidak memberikan keuntungan apapun bagi warga Boltim. Percekcokan itu tidak bermanfaat. "Tidak perlu bertikai. Bagi saya, siapapun pemenang itu adalah bupati masyarakat Boltim," tegas personil Komisi I DPRD Sulut yang membidangi masalah Pemerintahan Hukum dan HAM ini.

Apabila terjadi gesekan, ia meminta pihak Kepolisian Resort (Polres) Bolmong melihat lebih jauh ke dalam. Bisa saja ada aktor di belakang yang bermain. Sebab ini bukan budaya orang Bolmong. "Budaya utama orang Bolmong itu bobahasaan, yang artinya dudu bacerita," ungkapnya.

Dia mendesak, kalau memang ada yang bermain di belakang gesekan-gesekan yang terjadi, oknum tersebut harus ditangkap dan dijebloskan di penjara. Siapapun itu. "Saya yakin masyarakat yang saling bergesekan dan calon yang ada tidak ada niat untuk merusak di daerah. Pasti ada satu dua orang yang merasa kehilangan muka yang sengaja memainkan. Sehingga bagi saya ini ranah bukan ranah politik," bebernya.

"Jadi tugas polisi, siapa aktornya mesti ditangkap supaya menjadi pembelajaran bagi masyarakat," tandasnya. (tim me)



Sponsors

Sponsors