Berdikari Tomohon Bersyukur


Tomohon, ME

Forum Berdikari Tomohon (Forbeto) merayakan hari ulang tahunnya yang pertama, Sabtu (10/10).  Koordinator Program Forbeto, Stanly Wildy Ngantung, mengaku sangat bersyukur komunitas ini bisa menikmati momen tersebut.

“Berdikari Tomohon sebenarnya berdiri 8 Oktober 2014. Kita bersyukur karena selama ini bisa bereksistensi di Kota Tomohon. Kalau daerah lain mungkin sudah ada perlawanan dari berbagai organisasi,” ucap Wildy, ketika menyambut para undangan dalam acara yang digelar di pusat Kota Tomohon itu.

“Tapi kita berbangga dan bersyukur karena di daerah kita, di tempat yang cukup terbuka, orang-orang bisa lihat tempat ini sejak kemarin, penuh hiasan bertulisankan LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transgender). Kami bersyukur kepada Tuhan karena Dia masih bersama-sama sama dengan kita,” sambungnya.

Menurut aktivis HIV/AIDS ini, komunitasnya sangat berterima kasih karena banyak dukungan yang diberikan oleh berbagai pihak. Termasuk oleh lembaga, organisasi dan komunitas yang hadir saat itu.

“Kita bersyukur, kita punya tujuan yang sama. Teman-teman yang hadir selalu memberi dukungan bagi kami yang oleh segelintiran orang dikatakan sebagai kaum marginal,” tandasnya.

Diakui Wildy, dirinya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang gay. Hal yang sama dirasakan oleh kawan-kawannya yang lesbian dan transgender.

“Tapi hidup harus dijalani, disyukuri dan dinikmati. Walaupun ada yang katakan kita ini bersalah, kita ini berdosa. Mungkin Tuhan tidak akan memberikan berkat bagi torang sampai detik ini kalau kita hanya dipandang Tuhan sebagai gay, lesbian, biseksual dan trasgender. Tapi puji Tuhan, Ia masih bersama-sama dengan kita dan berkat-Nya selalu kita rasakan,” ungkapnya.

Dalam laporannya, Wildy menjelaskan tentang berbagai kegiatan yang telah dilakukan Forbeto, sebagai ekspresi gender dari LGBT. Di antaranya, program pemberdayaan LGBT bertajuk ‘LGBT Studies’, proram penanggulangan HIV/AIDS kerja sama dengan KPA Manado dan KPA Tomohon.

“Kita juga melakukan kampanye ‘Stop Bully’ di sekolah. Kita masuk lewat media sosial. Kan di sekolah ada yang masih kecil sudah ‘ngondek-ngondek’ kemudian dibully guru dan teman-temannya di sekolah,” terang Wildy sembari menjelaskan jika Forbeto fokus juga untuk advokasi masalah-masalah Hak Asasi Manusia dan kesehatan reproduki remaja LGBT.

Banyak kegiatan yang telah diikuti komunitas Forbeto, termasuk kegiatan peningkatan kapasitas, baik di tingkat provinsi hingga nasional.  Dalam kegiatan-kegiatan tersebut, Forbeto berjejaring dengan sejumlah organ dan komunitas lain.

Dalam acara perayaan itu, sejumlah tokoh hadir untuk memberikan suport bagi Forbeto dan komunitas LGBT Sulut seperti, Ketua Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi Indonesia (PERUATI) Pdt. Ruth Wangkai M.Th, teolog dan budayawan Denni Pinontoan M.Teol, Ketua DPW AMAN Sulut, Lefrando Gosal S.Teol, jurnalis yang juga akademisi, Rikson Karundeng M.Teol, sejumlah aktivis Mawale Movement yang concern terhadap persoalan-persoalan LGBT seperti, Eka Egeten S.Teol dan Andrei Tandiapa S.Teol.

Dukungan penuh juga diberikan personil DPRD Kota Tomohon, Sherly Mantiri SH, yang diketahui merupakan Pembina Forbeto. Menurut anggota Forbeto, selama setahun ini Mantiri mendampingi mereka dalam berbagai kegiatan di Tomohon, di tingkat provinsi dan nasional. Berbagai bantuan diberikan untuk menunjang program komunitas mereka. (victor rempas)



Sponsors

Sponsors