SERANGAN BALIK SEHAN

Episode ‘Kom Kom Ci’, Polisi Diminta Tindak Eyang


Tutuyan, ME

Drama ‘kom kom ci’ berlanjut. Gelombang perlawanan diguncang Sehan Landjar. Usai namanya tercatat di lembar hukum sebagai terduga pelaku penganiayaan, Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) yang akan mengahiri masa pemerintahannya itu melapor balik warganya. Episode pencemaran nama baik pun kini beradu dengan desakan ‘proses hukum’ Eyang.

Jumat (2/10) malam, sekitar pukul 21.20 Wita, Sehan tiba di Polres Bolmong dan langsung masuk ke ruangan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). Kedatangannya mendapat pengawalan sejumlah aparat kepolisian serta puluhan orang yang mengaku pendukungnya.

Sehan Landjar melakukan pelaporan balik terhadap seorang remaja 17 tahun bernama Noval Ariel Sumendap, warga Desa Bangunan Wuwuk Kecamatan Modayag, ke Mapolres Bolmong dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik. Hal ini dilakukan sebagai buntut dari laporan sebelumnya yang dilayangkan Noval ke Mapolres Bolmong, Rabu (30/9) lalu, dengan tuduhan penganiayaan. Laporan Noval pun sudah tersaji di sejumlah media, baik cetak maupun elektronik, beberapa hari lalu.

Tak hanya Noval, dalam laporan yang dilayangkan, Sehan Landjar juga turut melaporkan Welly Rompas dengan tuduhan penghinaan.

Usai melapor, kepada sejumlah awak media, calon bupati yang saat itu didampingi Ketua Tim Pemenangan Yusra Alhabsy menuturkan, dirinya merasa sangat keberatan dengan statement Welly Rompas dan Noval Sumendap sebagaimana pemberitaan beberapa media, yang menyebutkan dirinya telah melakukan pengancaman dan penganiayaan.

“Saya ke sini (Mapolres), untuk melaporkan dugaan pencemaran nama baik sekaligus penghinaan, dimana dalam dua hari berturut-turut yaitu pada tanggal 1 dan 2 Oktober, sebagaimana pemberitaan di sejumlah media, seorang lelaki bernama Welly Rompas menyebut bahwa saya telah melakukan pengancaman,” tegas Eyang, sapaan akrabnya.

“Yang kedua seorang lelaki bernama Noval Sumendap juga menuduh saya telah melakukan penganiayaan, dengan memukul (menampar) wajahnya sementara saya tidak pernah melakukan tindakan seperti apa yang dituduhkan,” sambungnya.

Apa yang dituduhkan terhadap dirinya itu tidaklah benar. Ia pun kemudian menceritakan kronologis kejadian, sebelum dirinya dituduh melakukan pengancaman sekaligus penganiayaan itu.

“Pada saat itu, saya bersama iring-iringan rombongan yang begitu panjang buru-buru mau sholat Maghrib di Moyongkota. Kebetulan macet, saat berada di Moyongkota, tepatnya di pertigaan Bangunan Wuwuk, mobil saya sedikit terhenti. Saat itu saya melihat Welly berada di dalam sebuah mobil pick up bersama istrinya. Dia lantas mengeluarkan tangannya dan sembari meneriakkan kata ‘kom kom ci’ sebanyak dua kali,” tutur Eyang, yang diketahui merupakan calon incumbent dalam Pilkada Boltim saat ini.

Merasa tersinggung dengan ucapan Welly, Eyang lantas turun dari mobil dengan maksud menanyakan apa dan siapa yang dimaksud Welly dengan perkataan itu. “Apa ngana bilang, kom kom ci ? Apa saya ada pegang tet*k istri kamu? Dia bilang, oh ndak-ndak, kita cuma angkat tangan,” kata Eyang menirukan percakapan yang menurutnya terjadi ketika itu.

“Saya waktu itu bilang, saya kan kenal kamu, saya hormati kamu. Saya ini masih Bupati, kenapa kamu menghina begitu. Dia minta maaf, begitupun istrinya juga. Saya pun langsung balik ke mobil karena jaraknya hanya dua meter. Tak sampai semenit saya langsung meninggalkan Welly,” tutur Eyang mengulang perbincangannya dengan Welly Rompas saat itu.

Ditegaskan, tidak ada yang namanya pengancaman sebagaimana penuturan Welly yang dimuat oleh beberapa media, berdasarkan laporan polisi yang dilayangkan Noval Sumendap. “Tidak ada kata pengancaman, apalagi penganiayaan. Anehnya, pada jam 10.30 malam (22.30 Wita), saya mendapat kabar, katanya saya menganiaya, sementara saya tidak mengenal anak itu dan di sekeliling saya tidak ada anak-anak, selain Welly dan istrinya. Yang ada saat itu hanya Fecky Ogotan, Sangadi Modayag Tiga dan ada sekitar 20-an orang termasuk asisten pribadi saya,” ungkapnya lagi.

Sehingga kata Eyang, patut diduga ini adalah satu rekayasa. Ia mengaku tidak akan tinggal diam, apalagi ini menyangkut nama baik seseorang. “Saya meminta, aparat hukum mengusut dan mengungkap siapa dalang di balik isu murahan ini. Kalau anak ini (Noval,red) saya masih bisa maafkan tapi aktornya, saya akan kejar,” pungkasnya.

APARAT DIMINTA PERLAKUKAN EYANG SAMA DI MATA HUKUM
Polres Bolmong diminta harus profesional dalam menegakan keadilan, terlebih menyangkut tindak pidana umum yang menyeret salah seorang pejabat di daerah. Penegasan itu dilontarkan Sofyanto, Ketua Lembaga Ilmu Pengetahunan Hukum dan Ekonomi Terapan Bolmong, Dikarenakan, sejak laporan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh  Bupati Boltim, Sehan Lanjar, pada Rabu (30/9) lalu, orang nomor satu di Boltim ini hingga sekarang belum dipanggil pihak penyidik untuk dimintai keterangan.

Polres Bolmong didesak harus menunjukan kinerja yang profesional dalam menuntaskan perkara tersebut. “Hingga sekarang si terlapor belum juga dimintai keterangan oleh penyidik. Padahal laporannya sudah masuk sejak Rabu pekan lalu. Jangan membeda-bedakan pelaku tindak kriminal. Karena semua sama di mata hukum,” terang Sofyanto.

Biarlah proses penyidikan yang menjawab semuanya, apakah pelapor atau terlapor yang salah. “Semuanya akan terungkap saat proses penyelidikan nanti,” tambahnya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bolmong, AKP Anak Agung Gede Wibowo Sitepu SIK, saat dikonfirmasi mengaku saat ini penyidik masih tersita waktunya karena turut membantu pengamanan di wilayah konflik. “Personil saya saat ini masih fokus mengamankan kedua desa yang bertikai di Dumoga. Saya saja sudah tiga hari lebih masih berada di tempat kejadian perkara. Namun, intinya kami akan tetap fokus untuk menyelesaikan perkara tersebut,” terangnya.

Masyarakat diminta sabar menunggu hasil penyelidikan. Dirinya meminta masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) jelang Pilkada serentak ini. “Percayakan semuanya pada aparat penegak hukum,” tandasnya.

KRONOLOGI PERISTIWA
Kisah tentang dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan Sehan Landjar bermula, Rabu (30/9), sekitar pukul 18.00 Wita. Noval Ariel Sumendap (17), warga Bangunan Wuwuk, Kecamatan Modayag, Kabupaten Boltim diduga dianiaya oleh Sehan, saat Bupati itu sedang terlibat adu mulut dengan warga setempat.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, kejadian bermula saat Welly Rompas bersama istrinya Poppy Mokoginta, hendak pulang ke rumah usai dari usaha miliknya dengan mengendarai mobil jenis L300. Saat melintasi jalan raya, Welly terhenti karena ada rombongan Bupati Boltim dari arah Modayag menuju Kotamobagu. Saat itu, ramai warga di samping jalan ingin menyapa Eyang.

Ratusan pasang mata itu pun beramai-ramai melabaikan ‘salam tiga jari’, angka yang menjadi nomor urut Eyang dalam pencalonan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Boltim Desember mendatang. Pun begitu dengan Welly beserta istrinya. Keduanya turut melambaikan salam tiga jari.
Saat melewati pasangan suami istri paruh baya tersebut, tiba-tiba saja Eyang berhenti dan langsung menuju ke arah kendaraan Welly dan melontarkan nada acaman. Karena Eyang menduga Welly orang yang berteriak istilah ‘kom-kom ci’ terhadapnya.

“Saya tidak tahu alasan apa, tiba-tiba Eyang datang menghampiri saya dan istri saya dan langsung mengeluarkan kata-kata ancaman. Bupati bilang, ‘awas kamu nanti, kita so kanal pa ngana’,” ungkap Welly, saat mengadu di SPKT Polres Bolmong.

Tak berselang lama, saat Eyang mengancam Welly, Satgas yang mendampingi calon kepala daerah itu, ikut mendekat dan hendak memukul Welly. Melihat kejadian itu, warga sekitar yang bertepatan berada di samping kendaraan milik Welly, langsung memisahkan puluhan Satgas tersebut. Bahkan seorang saksi mata, Masri Rompas, yang sempat melerai aksi tersebut sempat terkena bogem mentah dari Satgas Eyang.
“Ia, saya dipukul dari arah belakang saat melerai para Satgas yang hendak memukul Welly,” tuturnya.

Suasana pun makin ricuh. Puluhan warga terlihat saling membantu melerai para Satgas yang sudah dikuasai emosi. Nah, saat itulah Noval, bocah ingusan yang awalnya hanya ingin melihat kedatangan rombongan Bupati, kena tamparan dari Eyang.

Noval saat dimintai keterangan mengaku, dirinya saat kejadian itu berada di samping kanan mobil milik Welly. Tiba-tiba tanpa sebab, Eyang langsung menampar pipi kanan Noval secara berulang.

“Saya tidak tahu alasan apa Bupati menampar saya. Saya merasa keberatan dengan sikap Bupati tersebut. Makanya saya melaporkan kejadian itu ke pihak yang berwajib,” aku Noval, sembari memperlihatkan bagian kanan wajahnya yang bengkak.
Noval yang sedang mengenyam pendidikan di SMTK Elsaday Moat tersebut, berharap agar apa yang menimpa dirinya bisa mendapat perlakuan hukum yang adil. “Saya berharap Polisi bisa menuntaskan masalah ini. Saya meminta keadilan,” harapnya.

‘KOM-KOM CI’ DISINYALIR JADI PEMANTIK
Sejumlah warga mengaku sangat menyesalkan kejadian penganiayaan yang dilakukan Bupati Boltim terhadap rakyatnya. Kepada Media Sulut, mereka mengungkapkan jika cerita ‘kom-kom ci’ yang diduga memancing emosi Bupati sehingga melakukan aksi tersebut.

“Sayang, seorang Bupati sampai melakukan tindakan seperti itu. Kepada rakyatnya lagi dan di depan banyak orang. Bupati bilang, om Welly kata ada bataria kom-kom ci. Makanya dia turun dari oto kong langsung bataria pa om Welly,” ungkap saksi mata yang masih enggan namanya ditulis.

Kisah ‘kom-kom ci’ diakui kini telah menjadi pembicaraan masyarakat Boltim. “So jadi rahasia umum itu. Ceritanya dimulai dari Bupati sendiri. Katanya, saat kontraktor-kontraktor perempuan di Boltim datang meminta proyek kepadanya, dorang langsung duduk di pala-pala pa Bupati. Beliau bilang, dia kan laki-laki normal jadi dia lei langsung ba ramas,” jelas sumber, sembari memperagakan kepalan tangan terbuka-tertutup, yang oleh masyarakat kemudian disebut dengan istilah ‘kom-kom ci’.

“Kom-kom ci kwa itu biasa kalu torang bermain pa anak-anak kong manyanyi kom-kom ci sambil buka-tutup tu tangan,” sambungnya menjelaskan.

Sejumlah warga yang hadir di Polres Bolmong ketika Noval melapor, turut membenarkan kisah ‘kom-kom ci’ kini memang ramai jadi buah bibir warga Boltim. (media sulut)



Sponsors

Sponsors