Foto: Ilusreasu petani cengkih.
Panen Raya, Petani Sulut Sekarat
Manado, ME
Kontradiksi situasi ekonomi mengerayang Nyiur Melambai. Hasil cengkih dan kopra yang sedang dipanen tak menambah nilai sejahtera petani. Justru sebaliknya. Petani makin sekarat meski komoditi unggulan dalam genggaman.
Kesejahteraan petani Sulut masih dibawah standar minimum yang ditetapkan pemerintah. Nilai Tukar Petani (NTP) Sulut masih berada di bawah nilai 100, artinya bahwa daya beli petani atau kesejahteraannya di daerah ini masih belum lebih baik dibandingkan dengan keadaan di tahun dasarnya 2012.
Hal ini terungkap dalam rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara yang dipaparkan, kamis (10/9). Kepala BPS Faizal Anwar mengatakan kesejahteraan petani Sulut mengalami penurunan sebesar 0,32 persen pada Agustus 2015. "Pada bulan Agustus 2015, NTP di Provinsi Sulut sebesar 95,11 atau turun sebesar 0,32 persen dibanding NTP Juli 2015 sebesar 95,42," kata Faizal.
Penurunan NTP ini, disebabkan peningkatan indeks harga diterima petani masih kurang terlalu besar dibandingkan dengan peningkatan indeks harga dibayar petani, dengan masing-masing perubahan indeks sebesar 0,60 persen untuk indeks diterima dan 0,93 persen perubahan yang terjadi pada indeks dibayarkan petani.
NTP tahun kalender dan YoY menurun masing-masing sebesar 2,31 persen dan 4,65 persen. Dia mengatakan NTP pada bulan Agustus 2015 sebesar 95,11 atau menurun sebesar 0,32 persen dibanding NTP bulan Juli 2015 sebesar 95,42 persen. "Hal ini disebabkan indeks diterima petani melalui harga barang/produk pertanian yang dihasilkan memiliki peningkatan lebih kecil dibandingkan dengan peningkatan indeks yang dikeluarkan petani berupa konsumsi rumah tangga dan keperluan produksi pertanian," katanya.
Saat ini harga cengkih dipatok pedagang pada kisaran Rp 89 ribu per kg, sedangkan kelapa dibeli dengan harga Rp 6000 per kg. Faizal Anwar bahkan menyebut jika harga cengkih yang rendah merupakan wujud lemahnya intervensi pemerintah provinsi Sulut ke pasar. Pemerintah dinilai membiarkan para mafia perdagangan menguasai Sulut. "Harus ada upaya pemerintah menaikan kesejahteraan petani kebun seperti cengkih dan kelapa," ujarnya seraya menyebut jika kondisi ini bertahan bisa makin membuat petani makin sulit.(emon/mediasulut)



































