Foto: Foto bersama di akhir kegiatan pameran.
Pameren Seni Rupa Konsen Sukses Digelar
Tondano, ME
Pameran Seni Rupa Komunitas Seni Mandiri (Konsen) Minahasa sukses digelar dan ditutup, Minggu (6/9), di Rerewokan Tondano.
Pementasan puisi dan eksperimental musik mengisi acara penutupan pameran di galeri tersebut. Dituntun oleh ketiga seniman Alfrits Ken Oroh, Charlie Saamola dan Altje Wantania kegiatan tersebut boleh membuka ruang minat banyak orang.
Berseni rupa menarik perhatian para pengunjung ketika di akhir acara melakukan pembuatan handycraft dari bahan sederhana berupa sampah. Pemuda maupun anak-anak warga sekitar datang menyaksikan bahkan turut ambil bagian. Masyarakat sekitar pun turut mendukung penyelenggaraannya.
Menurut penyair dan seniman Altje Wantania, yang adalah pemilik galeri tempat dilaksanakannya pameran, kegiatan tersebut boleh berjalan dengan bagus berkat dukungan dari undangan, pengunjung terlebih masyarakat sekitar. Untuk itu dirinya sangat berterima kasih atas dukungan dari semua pihak tersebut sehingga terlaksananya kegiatan dari hari pertama hingga selesai. Ia bersyukur sebab pada akhirnya boleh membangkitkan gairah dari yang lain untuk berseni rupa dan mengahsilkan karya secara mandiri.
"Di penutupan akhir saat workshop banyak yang hadir menyaksikan pembuatan handycraft bahkan ambil bagian melukis. Anak-anak pun yang datang mulai terdorong melakukannya," papar Wantania.
Harapannya ke depan akan lebih banyak lagi yang terlibat dalam berseni rupa. Begitu juga peminat di komunitas Konsen lebih bertambah. Sebab komunitas ini tidaklah mengikat.
"Kami bersyukur dari pameran dan kegiatan workshop tidaklah sia-sia perjuangannya. Kami boleh menghasilkan bibit-bibit baru dalam seni rupa. Tinggal mereka yang terus mengembangkan diri," ujarnya.
Ken Oroh menuturkan, suksesnya acara tersebut merupakan dukungan dari teman-teman yang ada. Dia berharap pameran berikutnya akan semakin banyak yang terlibat menghasilkan karya-karya baru.
"Ini akan terus berlanjut guna merangkul teman-teman untuk berkreatifitas. Konsen hanya sebagai wadah untuk berekspresi," pungkasnya.
Sementara, Samola mengungkapkan terbentuknya komunitas ini bukanlah untuk mencari nama atau popularitas. Jika hal itu yang dikejar maka Konsen tak akan bertahan. Wadah ini hanya untuk membuka ruang bagi siapa saja untuk berkarya. "Karena berseni rupa merupakan terapi hidup, ketika setiap orang menjalani dinamikanya," cerocosnya. (arfin tompodung)



































