Polda Bidik Dugaan Pungli di Faked Unsrat


Manado, ME

Aroma pungutan liar (pungli) di Fakultas Kedokteran (Faked) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado semakin menyengat. Publik dibuat resah. Aparat hukum diminta bertindak.

Aksi ‘nakal’ itu disinyalir menekan para orang tua calon mahasiswa karena angka fantastis yang dipatok sebagai syarat untuk ‘memuluskan’ langkah ke lembaga pendidikan tersebut.

Beragam reaksi kecamanan pun mulai menyasar Unsrat dan Fakultas ‘wah’ itu. Korps Bhayangkara juga tak tinggal diam. Pihak Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut) menegaskan akan ‘meledakkan’ kasus tersebut.

Polda Sulut melalui Kepala Unit I Subditkrimsus Polda Sulut, Kompol Benny menandaskan, pihaknya hingga saat ini masih membidik dugaan pungli di kampus kebanggaan masyarakat Bumi Nyiur Melambai itu. "Kami tetap membidik apabila memang ada oknum, termasuk calo-calo yang sengaja lakukan pungutan liar. Tapi kami harap masyarakat ikut membantu. Kalau ada bukti-bukti nyata, sampaikan ke Polisi agar kami secepatnya bisa mengungkap kasus tersebut," ujarnya ketika diwawancarai, Kamis (3/9).

Perwira menengah ini pun mengajak kepada masyarakat yang memiliki anak kemudian telah mendaftar di Faked Unsrat, apabila terjadi pungli jangan segan-segan untuk merekam atau difoto. "Kan kalau ada pungli umpamanya masuk Faked 600 juta, lalu kenyataan hanya stor 25 juta, itu baru bukti nyata," jelas pria asal Nusa Utara ini.

Diketahui, sebelumnya para penyambung lidah rakyat di DPRD Sulut sempat mengungkap, telah berulang kali menerima pengaduan masyarakat soal dugaan pungli itu. Untuk memasukkan anak mereka ke Faked, harus menyiapkan uang dengan jumlah fantastis hingga menyentuh angka Rp 600 juta.

“Ada orang tua mengaku diminta biaya masuk sampai 600 juta rupiah,” ungkap personil Komisi IV DPRD Sulut, Rita Lamusu Manoppo, ketika digelar hearing bersama pimpinan Unsrat dan Faked di ruang paripurna DPRD Sulut, Selasa (1/9).

Pungli hingga ratusan juta rupiah di Faked Unsrat bukan kisah baru. Sejumlah anggota DPRD Sulut mengungkapkan jika cerita itu telah menjadi buah bibir publik sejak lama.

Untuk menelusuri hal itu, Rabu (2/9) kemarin, Komisi IV DPRD Sulut yang membidangi masalah pendidikan, melakukan inspeksi mendadak di kantor Faked Unsrat. Sejumlah data diminta, mulai dari daftar mahasiswa hingga bukti pembayaran mahasiswa. Sayang, data-data yang diharapkan tak berhasil didapat.

Personil Komisi IV, Fanny Lego menjelaskan, tujuan kedatangan mereka untuk melakukan klarifikasi masalah pungli tersebut. Ia berharap, Faked bisa menjadi tempat untuk setiap orang menggantungkan cita-cita sehingga tidak ada ketakutan untuk masuk di fakultas ini.

"Jika tidak benar, tidaklah masalah karena suatu waktu kami dapatkan ada anak dari Papua ingin memasukkan anaknya membayar tiga ratus juta," bebernya.

Legoh menjelaskan, Rektor Unsrat telah menyampaikan, tindakan itu dilakukan oleh calo. “Siapapun dia, itu tentu menjadi tanggung jawab fakultas. Ini nantinya akan jadi masalah hukum. Mudah-mudahan ini tidak terjadi namun jika benar, kami akan meminta teman-teman di Polda untuk melakukan investigasi,” tandasnya.

Dekan Faked, Prof.Dr.dr.Adrian Umboh SpA-K, ketika dikonfirmasi terkait isu pungli ini, Senin (1/9), dengan tegas membantahnya. “Tidak ada itu. Tidak tahu siapa yang menyampaikan itu. Kalau ada, datang dan beritahukan kepada kami,” kata Umboh.

Hal yang sama dijelaskan kepada Tim Komisi IV DPRD Sulut. Menurut Umboh, ketika pendaftaran mahasiswa baru, semuanya dilakukan Rektorat Unsrat melalui panitia.

"Kami hanya pembayaran yang dilakukan sesuai standar, paling kurang satu semester 25 juta rupiah," terangnya.

Ditambahkannya, program mitra yang dijalankan semuanya juga dari Rektorat. Di fakultas tidak mengetahui mengenai hal tersebut. Menurutnya, memang dahulu terlihat Faked banyak terjadi mahasiswa masuk dengan bantuan materil tetapi sekarang lebih cenderung melihat kualitasnya.

"Yang ikut SMPTN itu adalah mereka yang memiliki prestasi dan para juara. Maka dari itu jika dibilang enam ratus juta saya tidak pernah menerima. Kami tidak menerima sedikit pun," aku dia.

Kepada para wakil rakyat Sulut, Umboh pun menyatakan komitmen tidak akan ada lagi pungli di Faked Unsrat. (media sulut)



Sponsors

Sponsors